Membaca Ulang 1965 di Bali, PW Ansor Ajak Generasi Muda Merawat Ingatan Sejarah

|

GUGAH – Sejarah tidak selalu selesai ketika sebuah peristiwa berakhir. Ia terus hidup dalam ingatan, buku, kesaksian, bahkan dalam cara generasi berikutnya memahami bangsanya sendiri.

Gagasan itulah yang dibawa Pimpinan Wilayah (PW) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Provinsi Bali bersama Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Ansor Bali melalui bedah buku “Pemuda Ansor NU dalam Kemelut Jaman Gestok di Bali (1965-1966)”, Rabu (30/9/2026).

Kegiatan yang digelar di Gentleman Garage, Jalan Sidakarya No. 46D, Sidakarya, Denpasar Selatan, itu berlangsung mulai pukul 19.00 WITA. Penulis buku, Samsul Bahri, hadir sebagai narasumber utama dan berdiskusi dengan peserta yang dipandu Sahabat Karim Abraham sebagai moderator.

Bedah buku tersebut digelar dalam rangka memperingati peristiwa G30S/PKI sekaligus menyambut Hari Kesaktian Pancasila. Namun, kegiatan ini tidak semestinya berhenti sebagai agenda seremonial tahunan.

Baca Juga:  Wujud Kepedulian, Kejari Purwakarta Perbaiki Rutilahu Warga Munjul Jaya

Sebab, ketika sebuah generasi hanya menghafal tanggal dan nama peristiwa tanpa memahami konteks, sejarah mudah berubah menjadi slogan. Sebaliknya, ketika sejarah dibaca melalui berbagai sumber, kesaksian, dan pengalaman manusia yang berada di dalamnya, masa lalu dapat menjadi cermin untuk memahami bagaimana sebuah bangsa menghadapi konflik, kekerasan, perbedaan dan perubahan politik.

Bagi PW Ansor Bali, pembacaan terhadap sejarah 1965-1966 juga menjadi bagian dari upaya mengenali kembali jejak perjuangan kader Ansor dan Banser di Bali pada masa tersebut.

Ketua PW Ansor Bali berharap kegiatan edukatif dan reflektif ini dapat menumbuhkan kembali semangat juang di kalangan kader Ansor maupun Banser di Pulau Dewata.

Baca Juga:  Melly Goeslaw Minta Pemerintah Pastikan Keadilan dalam Pengambilalihan Tanah

Momentum tersebut sekaligus diarahkan untuk mengenang, meneladani, dan mengingat kembali rekam jejak serta pengorbanan para ulama dan pejuang Ansor terdahulu dalam merebut, mempertahankan, serta menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Pancasila.

Sejarah Bukan Sekadar Masa Lalu

Ada alasan mengapa ingatan sejarah perlu dirawat.

Generasi yang tidak mengalami sebuah peristiwa secara langsung hanya memiliki satu jalan untuk memahami masa lalu: membaca, mendengar, membandingkan sumber, dan mendiskusikannya secara terbuka.

Karena itu, forum seperti bedah buku memiliki arti lebih dari sekadar memperkenalkan sebuah karya. Ia membuka ruang bagi generasi hari ini untuk bertanya: apa yang sebenarnya terjadi, bagaimana masyarakat menghadapinya, nilai apa yang diwariskan, dan pelajaran apa yang masih relevan bagi kehidupan kebangsaan saat ini?

Baca Juga:  Peringati Harlah ke-92 di PKD Pamulihan, Kader Ansor Tekan Harus Mandiri secara Ekonomi

Melalui diskusi dan pembedahan sejarah tersebut, kader Ansor dan Banser diajak memperkokoh komitmen kebangsaan, merawat ingatan sejarah, serta meneruskan nilai-nilai perjuangan para pendahulu dalam mengawal kebhinekaan dan kedamaian di Bali.

Pada akhirnya, memperingati sejarah bukan hanya soal mengenang siapa yang pernah berada di masa lalu. Yang lebih penting adalah memastikan generasi hari ini tidak kehilangan kemampuan untuk belajar dari masa lalu.

Sebab Pancasila tidak cukup hanya diperingati. Nilai-nilainya diuji justru ketika masyarakat berhadapan dengan perbedaan, konflik, ketidakadilan, dan pilihan-pilihan sulit dalam kehidupan berbangsa.***

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran