10 Tahun Jumat Berbagi, GP Ansor Bungursari Tak Sekadar Bagi Makanan

|

GUGAH – Berbagi satu kali mudah. Menjaganya tetap hidup selama 10 tahun, itu cerita yang berbeda.

Kalimat itu menggambarkan perjalanan GP Ansor PAC Bungursari, Kabupaten Purwakarta, yang konsisten menjalankan program Jumat Berbagi. Memasuki tahun ke-10, kegiatan tersebut tetap berjalan di tengah masyarakat, bukan sekadar sebagai agenda rutin organisasi, tetapi menjadi ruang bagi kader Ansor untuk terus hadir dan berinteraksi langsung dengan warga.

Yang dibagikan memang sederhana. Namun, konsistensinya justru menjadi nilai penting dari kegiatan tersebut.

Ketua PAC GP Ansor Bungursari, Agus Sopian, mengatakan keberlangsungan Jumat Berbagi tidak lahir dari satu-dua kegiatan. Ada komitmen dan kekompakan yang terus dijaga agar tradisi tersebut tidak berhenti setelah beberapa kali pelaksanaan.

Baca Juga:  Pembakaran Bendera Merah Putih di Bandung Diselidiki, Polisi Buru Pelaku

Menurut Agus, ukuran keberhasilan Jumat Berbagi bukan semata-mata pada banyaknya sesuatu yang diberikan kepada warga. Lebih dari itu, kegiatan tersebut diharapkan dapat membangun kebiasaan untuk saling peduli.

“Kalau berbagi hanya dilakukan sekali, mungkin orang akan lupa. Tapi kalau dilakukan terus, insyaallah menjadi kebiasaan. Itu yang ingin kami jaga di GP Ansor Bungursari,” ujarnya, Jumat (2/10/2026).

10 Tahun Jumat Berbagi, GP Ansor Bungursari Tak Sekadar Bagi Makanan / Foto: Istimewa

Perjalanan satu dekade itu juga tidak lepas dari dukungan tokoh yang selalu support. Yakni dari Lurah Dangdeur, Kecamatan Bungursari, Tatang Taryana, yang akrab disapa Lurah Leteng.

Bagi Lurah Leteng, Jumat Berbagi menunjukkan bahwa kepedulian kepada masyarakat tidak harus selalu menunggu program besar. Gerakan kecil yang dilakukan secara konsisten justru bisa memiliki arti ketika langsung menyentuh warga.

Baca Juga:  Peringati Harlah ke-92 di PKD Pamulihan, Kader Ansor Tekan Harus Mandiri secara Ekonomi

“Yang seperti ini justru bagus karena langsung menyentuh masyarakat. Pemerintah tentu tidak bisa bekerja sendiri. Kalau ada pemuda dan organisasi yang ikut bergerak, tentu kami sangat mendukung,” kata Lurah Leteng.

Menurutnya, keterlibatan organisasi kepemudaan dalam kegiatan sosial juga membuat hubungan antara pemuda dan masyarakat menjadi lebih dekat. Pemuda tidak hanya hadir dalam forum organisasi, tetapi ikut merasakan kehidupan warga dan mengambil bagian ketika ada kebutuhan sosial di lingkungan.

Di sinilah Jumat Berbagi menemukan maknanya. Program tersebut bukan hanya tentang makanan yang berpindah dari tangan kader kepada warga, tetapi tentang bagaimana sebuah organisasi menjaga kehadirannya di tengah masyarakat.

Baca Juga:  Satu Terduga Pelaku Dugaan Pemalakan Kader Ansor KBB Ditangkap, Polisi Masih Buru Pelaku Lain

Sepuluh tahun juga menunjukkan bahwa kegiatan sosial tidak selalu membutuhkan kemasan besar agar memiliki arti. Justru konsistensi yang sering kali menjadi bagian paling sulit untuk dipertahankan.

Satu paket makanan mungkin selesai dalam hitungan menit. Tetapi kebiasaan untuk menyisihkan waktu, tenaga, dan kepedulian setiap pekan membutuhkan komitmen yang jauh lebih panjang.

Bagi GP Ansor Bungursari, Jumat Berbagi akhirnya bukan sekadar agenda hari Jumat. Ia telah menjadi semacam pengingat bahwa organisasi akan lebih bermakna ketika keberadaannya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.

Sebab pada akhirnya, kepedulian bukan soal seberapa ramai ia diumumkan, tetapi seberapa lama ia mampu bertahan ketika tidak ada yang sedang melihat.***

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran