Suara Guru Honorer: Kami Tidak Meminta Berlebihan, Kami Hanya Ingin Dihargai

|

Kami adalah guru honorer.

Setiap pagi kami datang ke madrasah, berdiri di depan kelas, mendidik anak-anak, menanamkan ilmu dan akhlak, serta berusaha memberikan yang terbaik, meskipun kesejahteraan kami masih jauh dari kata layak.

Bagi kami, menjadi guru bukan semata-mata tentang menerima gaji. Ada tanggung jawab besar yang kami emban: mencerdaskan generasi bangsa dan membentuk karakter anak-anak Indonesia.

Karena itu, ketika Kementerian Agama mengusulkan afirmasi peningkatan kesejahteraan guru agama non-ASN, kami menyambutnya dengan penuh harapan.

Bukan karena kami ingin diperlakukan istimewa.
Bukan pula karena kami ingin mendapatkan sesuatu secara cuma-cuma.

Baca Juga:  Supremasi AHWA: Menjaga Marwah Organisasi melalui Keteladanan Ulama

Kami hanya berharap pengabdian yang telah kami berikan selama bertahun-tahun mendapat perhatian dan penghargaan yang layak.

Usulan tiga skema peningkatan kesejahteraan menjadi angin segar bagi kami. Namun, bagi guru honorer, yang paling penting bukan sekadar besarnya angka yang diusulkan, melainkan adanya kepastian, keadilan, keberlanjutan, dan pemerataan.

Kami berharap pemerintah benar-benar melihat kondisi guru honorer di lapangan. Masih banyak guru yang telah mengabdi selama bertahun-tahun dengan penghasilan yang sangat terbatas, tetapi tetap menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab dan dedikasi.

Baca Juga:  Gerakan Nusantara Sehat Wujudkan Pengabdian Yayasan Sandi Yudha Nusantara Untuk Masyarakat

Kami tidak ingin terus-menerus menjadi guru yang dituntut profesional, tetapi kesejahteraannya belum mencerminkan profesionalisme yang dituntut.

Kami ingin tetap mengabdi.
Kami ingin tetap mendidik.
Kami ingin tetap mencerdaskan anak bangsa.

Namun, kami juga berharap kehidupan kami dan keluarga dapat berjalan dengan lebih layak.

Semoga kebijakan afirmasi kesejahteraan bagi guru non-ASN tidak berhenti sebagai wacana, melainkan benar-benar diwujudkan dalam kebijakan yang dapat dirasakan langsung oleh guru honorer di seluruh pelosok negeri.

Karena di balik setiap guru honorer, ada pengabdian yang tulus, ada keluarga yang harus dinafkahi, dan ada harapan akan masa depan yang lebih baik.

Baca Juga:  Learning Model Canvas: Solusi Dalam Menerapkan Deep Learning dan Kurikulum Berbasis Cinta

Kami tidak meminta kemewahan.
Kami hanya berharap kesejahteraan yang layak sebagai bentuk penghargaan atas pengabdian kami.

Narasi ini disampaikan sebagai bentuk aspirasi guru honorer berdasarkan kondisi di lapangan dan usulan kebijakan yang telah diberitakan. Narasi ini tidak dimaksudkan sebagai dukungan politik kepada pihak atau kelompok tertentu.

Sebagai gambaran, Kementerian Agama mencatat bahwa 655.622 dari 821.519 guru madrasah berstatus non-ASN, sehingga isu kesejahteraan guru honorer menjadi perhatian yang penting.

Oleh: Eko Prasetyo 

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran