Stafsus Menag: Santri Harus Jadi Aktor Geopolitik Dunia, Bukan Sekadar Belajar di Pesantren

|

GUGAH — Hari Santri Nasional 2026 menjadi momentum redefinisi peran santri di tengah perubahan dunia yang semakin dipengaruhi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), diplomasi global, dan dinamika geopolitik. Santri dinilai tak lagi cukup hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga harus mampu menjadi aktor perubahan di level internasional.

Pesan itu disampaikan Staf Khusus Menteri Agama, Gugun Gumilar, yang menegaskan bahwa tantangan abad ke-21 menuntut santri keluar dari ruang-ruang tradisional dan tampil sebagai kekuatan intelektual yang mampu menjawab persoalan global.

“Santri harus menjawab tantangan global, karena hari ini dunia membutuhkan seorang santri yang bisa memberikan kontribusi dari segi intelektual, diplomasi global, kemudian pemberdayaan umat,” ujar Gugun, Kamis (22/10/2026).

Baca Juga:  Persija Hancurkan Arema FC 5-1, Jeremejeff Borong Gol dan Macan Kemayoran Rebut Puncak Klasemen

Menurutnya, transformasi tersebut tidak berarti meninggalkan identitas kepesantrenan, melainkan memperluas ruang pengabdian santri di tengah percaturan dunia.

Ia menilai santri harus mampu menghadirkan perspektif keislaman yang moderat dalam isu-isu strategis, mulai dari perdamaian dunia, diplomasi, hingga pembangunan peradaban.

“Santri hari ini tidak cukup hanya belajar di pesantren, di madrasah, di masjid, tapi bagaimana santri bisa membumbui dunia dengan intelektualitasnya, dengan geopolitiknya, kemudian dengan kontribusinya untuk perdamaian dunia.”

Di saat yang sama, Gugun menekankan bahwa revolusi teknologi berbasis AI dan robotika telah mengubah wajah dunia. Karena itu, santri dituntut memiliki pola pikir adaptif agar tidak tertinggal dalam persaingan global.

Baca Juga:  Survei Voxpol: 63,3 Persen Responden Nilai Prabowo-Gibran Mampu Jalankan Pemerintahan

“Di abad ke-21 eranya AI, eranya artificial intelligence, eranya robotik mesin, dia harus adaptasi bagaimana merubah cara-cara pola pikir mereka, mentalitas mereka kepada adaptif perubahan terhadap tatanan dunia.”

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa identitas santri tidak boleh lagi dipersempit pada simbol-simbol kultural semata. Santri, kata dia, harus mampu hadir sebagai penggerak perubahan di berbagai sektor strategis.

“Hari ini santri bukan hanya pakai sarungan, tapi santri bagaimana bisa mengikat dunia dan bisa memberikan perubahan untuk ekonomi, politik, sosial, dan dunia pendidikan.”

Baca Juga:  Kemenag Minta Polisi Tangkap Pelaku Pembubaran Ibadah GMS Bantul

Menutup pesannya dalam peringatan Hari Santri Nasional 2026, Gugun berharap lahir semakin banyak santri yang mampu membawa nama Indonesia di panggung internasional.

“Selamat Hari Santri, semoga santri Indonesia terus maju dan bisa berkontribusi untuk kepentingan bangsa dan dunia, serta memberikan kontribusi positif untuk perkembangan geopolitik nasional dan internasional.”

Pernyataan tersebut menegaskan pergeseran paradigma tentang santri di era modern. Jika dahulu pesantren identik sebagai pusat pembelajaran agama, kini santri didorong menjadi kekuatan intelektual yang mampu berkompetisi dalam lanskap global—menguasai teknologi, memahami geopolitik, sekaligus tetap menjaga nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.***

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran