Peringati Hari Santri Nasional 2026, PCNU Kabupaten Tasikmalaya Gelar Ziarah Muharik NU

|

GUGAH — Mengenang perjuangan para ulama dan penggerak Nahdlatul Ulama (NU) menjadi cara Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Tasikmalaya merawat sejarah sekaligus mewariskan nilai perjuangan organisasi kepada generasi penerus. Menjelang peringatan Hari Santri Nasional 2026, PCNU Kabupaten Tasikmalaya menggelar kegiatan Ziarah Muharik NU dengan mengunjungi makam para tokoh Syuriyah dan Tanfidziyah yang telah wafat.

Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu (17/10/2026) tersebut dipimpin Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Tasikmalaya KH. Atam Rustam bersama Katib Syuriyah KH. Ade Yuyu. Rombongan turut diikuti Sekretaris PCNU H. Abdul Wahid, jajaran wakil ketua, wakil sekretaris, wakil bendahara, ketua lembaga, pengurus PCNU, serta perwakilan badan otonom, di antaranya GP Ansor dan IPNU.

Ziarah ini tidak hanya menjadi momentum untuk mendoakan para pendahulu, tetapi juga mengingat kembali jejak pengabdian mereka dalam membangun NU di Kabupaten Tasikmalaya. Perjalanan tersebut menyatukan ingatan tentang para tokoh yang berperan sebagai pemimpin organisasi, pendiri pesantren, pendidik, serta penggerak kehidupan keagamaan masyarakat.

Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Tasikmalaya KH. Atam Rustam menegaskan bahwa kegiatan ini memiliki pesan penting, terutama bagi generasi muda Nahdliyin agar tidak melupakan jasa orang-orang yang telah merintis dan membesarkan organisasi.

“Kita menziarahi para muharik NU untuk mengingat jejak perjuangan mereka, terkhusus kepada generasi muda NU. Belum tentu kita semua kelak akan diziarahi oleh anak cucu kita nanti,” tutur KH. Atam Rustam.

Rangkaian ziarah dimulai dari makam almarhum KH. Nur Choolis Tisnawan, yang berada tidak jauh dari Kantor PCNU Kabupaten Tasikmalaya. Almarhum pernah menjabat sebagai Ketua Tanfidziyah NU dan Kasatkorcab Banser. Ia juga disebut memiliki peran dalam mendukung suksesnya penyelenggaraan Muktamar NU di Cipasung pada 1994.

Baca Juga:  Gus Yaqut: Kesaksian di Persidangan Justru Perkuat Bantahan soal Fee Haji Khusus

Dari titik awal tersebut, rombongan melanjutkan perjalanan ke Pondok Pesantren Al-Manshuriyah, Salawu, untuk berziarah ke makam almarhum KH. Atang Mansyur, yang pernah menjabat sebagai Rais Syuriyah. Rombongan disambut dzurriyah dan keluarga besar pesantren, kemudian bersama para santri dan santriwati berjalan menuju lokasi makam untuk melaksanakan tahlil dan doa.

Perjalanan berikutnya mengarah ke Desa Puspamukti, Kecamatan Cigalontang, untuk menziarahi makam almarhum KH. Lukmanul Hakim, mantan Ketua Tanfidziyah NU. Rombongan kemudian menuju Desa Tenjonagara, masih di Kecamatan Cigalontang, untuk berdoa di makam almarhum KH. Moh Toha, pendiri Pondok Pesantren Mathlabussa’adah yang pernah menjabat sebagai Rais Syuriyah NU.

Rangkaian berlanjut ke Cilenga, Kecamatan Sariwangi, untuk menziarahi makam almarhum KH. Muhammad Syabandi. Dalam catatan sejarah NU setempat, beliau dikenal sebagai Rais Syuriyah pertama PCNU Kabupaten Tasikmalaya dan ulama yang hidup sezaman dengan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari.

KH. Muhammad Syabandi juga disebut memiliki hubungan keilmuan dengan jaringan ulama yang sama dengan pendiri Persatuan Umat Islam (PUI), KH. Abdul Halim. Sejumlah ulama Tasikmalaya, termasuk KH. Ruhiat Cipasung dan KH. Zainal Mustofa, disebut sebagai muridnya. Setelah berziarah, rombongan beristirahat dan menikmati makan siang sebelum melanjutkan perjalanan.

Di Rajapolah, rombongan berziarah ke makam almarhum KH. Hidayat, Ketua Tanfidziyah NU periode 1982–1987 yang kemudian pernah menjabat sebagai Wakil Bupati Tasikmalaya periode 2006–2011. Kedatangan rombongan didampingi putra almarhum, H. Am Fahmi, yang disebut menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD sekaligus Ketua DPC PKB Kabupaten Tasikmalaya.

Perjalanan kemudian berlanjut ke Pondok Pesantren Cipasung, salah satu pusat penting perkembangan pesantren dan gerakan NU di Tasikmalaya. Rombongan disambut Pimpinan Umum Pesantren KH. Ubaidilah Ruhiat dan Rektor Universitas Islam KH. Ruhiat Cipasung (UNIK Cipasung) KH. Abdul Chobir.

Baca Juga:  PAC GP Ansor dan PAC Fatayat NU Pondoksalam Resmi Dilantik, Awal Penguatan Organisasi dan Pemberdayaan Masyarakat

Setelah melaksanakan salat Asar berjamaah, rombongan menerima sambutan dari pimpinan pesantren yang menyampaikan rasa bahagia dan terima kasih atas kunjungan tersebut. Di Cipasung, ziarah menjadi momentum untuk mengenang tokoh-tokoh yang telah memberikan sumbangsih bagi pesantren dan NU, antara lain KH. Ruhiat selaku pendiri pesantren, KH. Ilyas Ruhiat yang pernah menjabat Rais Aam PBNU, KH. Dudung Abdul Halim yang pernah memimpin PWNU Jawa Barat, serta KH. A. Bunyamin Ruhiat yang pernah mengemban sejumlah jabatan di lingkungan NU.

Nama KH. Koko Komarudin dan para alumni Cipasung yang menjadi penggerak NU di berbagai daerah juga menjadi bagian dari ingatan kolektif yang diangkat dalam rangkaian ziarah tersebut. Perjalanan ini menegaskan hubungan erat antara pesantren, ulama, dan organisasi dalam membangun tradisi keagamaan serta pengabdian sosial di tengah masyarakat.

Dari Cipasung, rombongan bergerak menuju kompleks pemakaman Sukamanah dan Sukahideng. Di Sukamanah, mereka berziarah ke makam Pahlawan Nasional KH. Zainal Mustofa, ulama pejuang yang dikenal karena perlawanan terhadap penjajahan Jepang. Dalam sejarah NU setempat, beliau juga dikenang sebagai tokoh yang pernah mengemban amanah Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Tasikmalaya sebelum kemerdekaan.

Rombongan selanjutnya menziarahi makam para masyayikh Pesantren Sukahideng, yakni almarhum KH. Wahab Muhsin, KH. Fuad Muhsin, dan KH. Syihabuddin Muhsin. Ziarah ini turut menghadirkan penghormatan terhadap jaringan keilmuan dan pengabdian para ulama yang tumbuh melalui pesantren dan diteruskan oleh generasi berikutnya.

Perjalanan berlanjut ke Pondok Pesantren Gunungpari, Kecamatan Sukarame, untuk berziarah ke makam almarhum KH. Zumrotul Muttaqin. Beliau dikenang sebagai guru bagi sejumlah ulama, termasuk KH. Zainal Mustofa dan KH. Wahab Muhsin. Rangkaian ziarah di lokasi tersebut ditutup dengan salat Magrib berjamaah di masjid pesantren.

Baca Juga:  Wacana Gaji PNS Lewat Kopdes Picu Kritik, Pemerintah Diminta Perjelas Tujuan dan Mekanismenya

Pondok Pesantren Baitul Hikmah Haurkuning, Salopa, menjadi titik akhir perjalanan. Di tempat ini, rombongan menziarahi makam almarhum KH. Saipudin Zuhri, mantan Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Tasikmalaya sekaligus pendiri Pesantren Haurkuning yang dikenal dengan tradisi keilmuan bahasa Arab dan ilmu alat.

Kedatangan rombongan disambut pimpinan pesantren KH. Busyrol Karim Zuhri, keluarga, serta alumni Baitul Hikmah Haurkuning. Di hadapan para santri yang berkumpul di Masjid Jami pesantren, pimpinan pesantren menceritakan salah satu pesan almarhum yang dikenal luas di lingkungan pesantren, yakni “kudu jadi NU”, bagian dari enam wasiat yang secara khusus dikenang oleh keluarga dan para santri.

Pesan tersebut menjadi penegasan pentingnya menjaga komitmen terhadap jam’iyyah, merawat tradisi keilmuan, dan meneruskan pengabdian para pendahulu. KH. Atam Rustam turut menyampaikan apresiasi atas sambutan keluarga besar pesantren yang menerima rombongan dalam rangkaian kegiatan tersebut.

Ziarah di kompleks makam dipimpin oleh Katib Syuriyah PCNU Kabupaten Tasikmalaya KH. Ade Yuyu. Setelah rangkaian doa selesai, kegiatan Hari Santri Nasional tersebut ditutup dengan jamuan makan malam bersama di Kantor Ranting NU Desa Mandalaguna, Kecamatan Salopa.

Melalui Ziarah Muharik NU, PCNU Kabupaten Tasikmalaya berupaya menjaga agar sejarah perjuangan para ulama tidak berhenti sebagai catatan masa lalu. Kenangan atas pengabdian mereka diharapkan menjadi bekal bagi generasi muda NU untuk melanjutkan perjuangan melalui pendidikan, dakwah, pelayanan umat, dan penguatan organisasi.***

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran