Cikopo Memanas, Vera Novia: Toleransi Harus Hidup dalam Tindakan

|

GUGAH – Di tengah riuh perdebatan yang mengiringi polemik pembangunan Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) di Cikopo, Purwakarta, ada suara-suara yang memilih tidak menambah bara. Mereka hadir membawa ruang dialog, bukan sekadar pendapat.

Salah satunya datang dari Vera Novia, sosok muda yang turut mendampingi Staf Khusus Menteri Agama RI, Gugun Gumilar, saat diutus Kementerian Agama untuk memediasi persoalan tersebut.

Bagi Vera, perbedaan bukan alasan untuk saling menjauh, melainkan kesempatan untuk belajar menjadi manusia yang lebih dewasa.

“Berbicara tentang perbedaan, rasanya kita semua perlu terus belajar menjadi lebih dewasa dalam menyikapinya. Bukan hanya sekadar tahu bahwa kita berbeda, tetapi benar-benar memahami bahwa setiap orang memiliki hak untuk menjalankan keyakinannya. Sudah sepatutnya kita saling menghormati tanpa menghalangi satu sama lain untuk beribadah,” ujarnya, memberikan keterangan kepada Gugah.co, Senin (12/10/2026).

Pernyataan itu lahir dari seorang perempuan muda yang tak asing dengan dunia prestasi. Atlet karate, mayoret drumband, Mojang Kabupaten Purwakarta 2024, Duta Batik Persahabatan Jawa Barat 2025, hingga Duta Pariwisata Jawa Barat 2026 menjadi bagian dari perjalanan yang membentuknya.

Baca Juga:  SAH! 556 Kepengurusan NU jadi DPT di Muktamar ke-35

Namun, di atas semua gelar itu, Vera memilih berdiri sebagai warga bangsa yang percaya bahwa kerukunan tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari kesediaan saling menghormati.

Mahasiswi semester tujuh Fakultas Hukum Universitas Kartamulia Purwakarta itu menegaskan, toleransi tidak berhenti pada slogan.

“Bagi saya, toleransi bukan hanya soal menerima perbedaan, tetapi bagaimana kita bersikap ketika berhadapan langsung dengan perbedaan itu. Menghargai keyakinan orang lain tidak akan mengurangi sedikit pun keyakinan yang kita miliki.”

Atas dasar itulah ia mendukung langkah mediasi yang dilakukan Gugun Gumilar dalam menyikapi persoalan pembangunan GKPS di Cikopo.

Menurutnya, setiap persoalan harus diselesaikan dengan kepala dingin, mengedepankan dialog, serta tetap berpijak pada aturan yang berlaku.

“Kita mungkin tidak memiliki keyakinan yang sama, tetapi kita memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga kerukunan dan menghormati hak sesama. Semoga upaya bersama ini menjadi bagian kecil dari ikhtiar merawat toleransi, bukan hanya dalam kata-kata, tetapi juga melalui tindakan nyata. Pada akhirnya, hidup berdampingan bukan tentang siapa yang paling benar dalam perbedaan, melainkan bagaimana kita tetap saling menghormati sebagai sesama manusia,” tuturnya.

Baca Juga:  Ketua PDIP Purwakarta: Konflik Bupati dan Wabup Harus Diklarifikasi Secara Resmi

Di tengah dinamika yang berkembang, keterlibatan anak-anak muda mendapat perhatian dari Founder BELA PURWAKARTA, Aa Komara. Menurutnya, generasi muda tidak boleh hanya menjadi penonton ketika masyarakat menghadapi persoalan yang menyangkut kehidupan bersama.

“Sejak kecil kita diajarkan Bhinneka Tunggal Ika, mengenal Pancasila, dan memperingati Sumpah Pemuda. Semua itu bukan sekadar hafalan, melainkan nilai yang harus diwujudkan dalam kehidupan nyata. Keterlibatan para pemuda menunjukkan bahwa mereka tidak gagap menghadapi persoalan, tetapi mampu bersikap tanggap dan melihat masalah secara utuh,” katanya.

Baginya, cita-cita Indonesia Emas 2045 tidak mungkin terwujud jika generasi mudanya kehilangan kemampuan menjadi penengah, pemberi solusi, sekaligus perekat kebersamaan.

Baca Juga:  Sinergi GEKRAFS dan Pemda Wujudkan Purwakarta Istimewa

Aa Komara juga mengingatkan bahwa bangsa ini tidak boleh terus-menerus terjebak dalam pertentangan yang menguras energi.

“Reputasi bangsa ini dipertaruhkan ketika kita terus sibuk dalam kekisruhan ideologi maupun teologi. Semakin lama terjebak dalam disharmoni, semakin jauh kita tertinggal dari peradaban. Mayoritas maupun minoritas harus saling memanusiakan, tanpa dihantui kekhawatiran saling menggeser keyakinan.”

Menurutnya, Pancasila harus tetap menjadi rumah bersama yang menaungi seluruh anak bangsa. Karena itu, para pemimpin dan elite politik dituntut memberi teladan nyata dalam merawat keberagaman.

Sebab, kerukunan bukan hanya lahir dari pidato-pidato yang terdengar indah, melainkan dari keberanian menghadirkan keadilan dan keteladanan di tengah perbedaan.

Di Cikopo, perdebatan mungkin belum benar-benar usai. Namun, di sela riuhnya perbedaan, masih ada harapan yang terus dijaga: bahwa dialog selalu lebih kuat daripada amarah, dan rasa hormat selalu lebih kokoh daripada prasangka.***

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran