Pimpinan Al Falah Ploso Tekankan Adab Santri kepada Masyayikh dalam Pembukaan Munas-Konbes NU 2026

|

GUGAH — Pimpinan Pondok Pesantren Al Falah Ploso, KH Ahmad Hasby Munif, menegaskan pentingnya menjaga adab santri kepada para masyayikh serta mempertahankan kesinambungan sanad keilmuan dalam tradisi pesantren dan Nahdlatul Ulama.

Penegasan tersebut disampaikan dalam sambutan pembukaan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar (Munas-Konbes) NU 2026 yang digelar di Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Jombang.

Dalam sambutan itu, KH Ahmad Hasby Munif menyoroti warisan keilmuan ulama terdahulu yang hingga kini masih menjadi fondasi utama dalam proses pendidikan di lingkungan pesantren.

Baca Juga:  KH. Adang Badruddin atau Abah Cipulus: Murabbi Umat, Penjaga Tradisi, dan Pewaris Keilmuan Pesantren

Ia mengutip jejak historis yang diriwayatkan dari Romo Kyai Haji Nurul Huda Jazuli serta catatan yang ditulis oleh Kyai Haji Ahmad Jadul Utsman dalam salah satu kitabnya. Catatan tersebut menggambarkan kuatnya tradisi keilmuan pesantren yang dibangun atas dasar adab antara murid dan guru.

“Kulo ngaos kitab Al Hikam meniko wonten ngarsonipun Simbah Kyai Hasyim Asy’ari Tebuireng. Saya mengaji kitab ini di hadapan yang mulia Simbah Kyai Haji Hasyim Asy’ari Tebuireng,” demikian kutipan yang disampaikan dalam sambutan tersebut.

Baca Juga:  Prof. Dudang Gojali: PMKNU sebagai Syarat Mutlak Ketua NU Perlu Ditinjau Ulang

Ia menegaskan, pernyataan itu bukan sekadar catatan sejarah, melainkan simbol kuat adab seorang murid kepada guru serta penegasan pentingnya sanad keilmuan yang bersambung hingga para ulama besar.

KH Ahmad Hasby Munif menekankan bahwa generasi penerus pesantren dan pengemban amanah Nahdlatul Ulama harus menjaga nilai tersebut secara utuh. Menurutnya, seberapa pun besar tanggung jawab yang diemban dan setinggi apa pun posisi yang diraih, seorang santri tidak boleh terputus dari sanad ilmu serta keteladanan para muassis (pendiri).

Baca Juga:  Munas dan Konbes NU 2026 Resmi Dibuka Malam Ini di Pesantren Al-Falah Ploso

“Jangan pernah terputus dari sanad ilmu dan keteladanan para muassis, sebab itulah keberkahan perjuangan ini bermula dan akan terus terjaga dari generasi ke generasi,” tegasnya.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa tradisi keilmuan dalam pesantren tidak hanya sebatas transfer pengetahuan, tetapi juga mencakup adab, penghormatan, dan kesinambungan spiritual antara guru dan murid. Hal ini menjadi bagian penting dalam tradisi keulamaan Islam, khususnya di lingkungan Nahdlatul Ulama serta pesantren-pesantren klasik seperti Tebuireng yang diasuh oleh KH Hasyim Asy’ari.
***

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran