KH. Adang Badruddin atau Abah Cipulus: Murabbi Umat, Penjaga Tradisi, dan Pewaris Keilmuan Pesantren

|

Catatan Redaksi Gugah.co untuk mengenang Almaghfiroh KH. Adang Badrudin atau Abah Cipulus

Nama KH. Adang Badruddin atau yang lebih dikenal dengan sebutan Abah Cipulus menempati posisi penting dalam sejarah perkembangan pesantren dan Nahdlatul Ulama di Purwakarta serta Jawa Barat. Sosok yang lahir pada 1 Januari 1943 ini bukan hanya dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyah Cipulus, tetapi juga sebagai ulama yang berhasil memadukan keteguhan prinsip keagamaan dengan kedekatan sosial yang kuat terhadap masyarakat.

Pada 3 Agustus 2020 atau bertepatan dengan 13 Dzulhijjah 1441 Hijriah, Abah Cipulus berpulang ke rahmatullah dalam usia 77 tahun. Kepergian beliau meninggalkan duka mendalam bagi ribuan santri, alumni, dan masyarakat yang selama puluhan tahun menjadikan beliau sebagai guru, pembimbing spiritual, sekaligus teladan dalam kehidupan sehari-hari.

Enam tahun setelah wafatnya, jejak perjuangan beliau tetap hidup. Pada Sabtu, 30 Mei 2026 atau 13 Dzulhijjah 1447 Hijriah, keluarga besar Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyah Cipulus kembali menyelenggarakan Haul Akbar ke-6 KH. Adang Badruddin. Ribuan jamaah memadati kompleks pesantren untuk mengikuti rangkaian doa bersama, tahlil, pembacaan Al-Qur’an, dan pengajian sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa-jasa beliau.

Haul tersebut tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga momentum penting untuk merawat ingatan kolektif umat terhadap nilai-nilai perjuangan yang diwariskan Abah Cipulus. Bagi keluarga besar Cipulus, haul adalah ruang untuk menyambung sanad keilmuan dan sanad perjuangan agar tetap hidup dari generasi ke generasi.

Pesantren sebagai Pusat Peradaban

Perjalanan hidup KH. Adang Badruddin tidak dapat dipisahkan dari Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyah Cipulus. Pesantren yang telah lama menjadi salah satu pusat pendidikan Islam tradisional di Purwakarta itu berkembang pesat di bawah kepemimpinan beliau.

Abah Cipulus memandang pesantren bukan sekadar tempat belajar ilmu agama, melainkan pusat pembentukan karakter, moral, dan kemandirian umat. Karena itu, pendidikan yang beliau bangun tidak hanya berorientasi pada penguasaan kitab kuning, tetapi juga pada pembentukan kepribadian santri yang mampu hidup mandiri di tengah masyarakat.

Beliau menanamkan prinsip bahwa santri harus menjadi bagian dari solusi sosial, bukan menjadi beban bagi lingkungan sekitarnya. Nilai inilah yang kemudian menjadi ciri khas pendidikan di Cipulus.

Dalam kehidupan sehari-hari, Abah Cipulus memberikan teladan langsung kepada para santri. Beliau terlibat dalam aktivitas pertanian, perkebunan, dan berbagai pekerjaan produktif lainnya. Melalui cara tersebut, para santri diajarkan bahwa bekerja merupakan bagian dari ibadah dan bentuk pengamalan ilmu yang dipelajari di pesantren.

Baca Juga:  Kalimantan dan Sulawesi Dukung Lirboyo Jadi Tuan Rumah Mukhtamar PBNU Ke-35

Bagi beliau, kemandirian ekonomi merupakan salah satu syarat penting bagi kemerdekaan dakwah. Seorang santri harus memiliki kemampuan untuk berdiri di atas kaki sendiri sehingga dapat mengabdi kepada masyarakat tanpa kehilangan integritas dan independensinya.

Ulama yang Istiqamah Mengajar

Meski dikenal dekat dengan kehidupan masyarakat, kapasitas keilmuan KH. Adang Badruddin tidak pernah diragukan. Selama puluhan tahun, beliau mengabdikan hidupnya untuk mengajar dan membimbing santri melalui kajian kitab-kitab klasik Islam.

Berbagai kitab rujukan utama dalam tradisi pesantren diajarkan secara rutin. Di antaranya adalah kitab-kitab fiqih mazhab Syafi’i, tasawuf, tafsir, hadits, serta berbagai disiplin ilmu alat yang menjadi fondasi pendidikan pesantren.

Salah satu karakter yang paling dikenang para santri adalah istiqamah beliau dalam mengajar. Hingga usia senja, ketika kondisi fisik mulai menurun, Abah Cipulus tetap memimpin pengajian dan membacakan kitab-kitab rujukan utama pesantren.

Bagi beliau, proses belajar dan mengajar merupakan ibadah yang tidak mengenal batas usia. Selama masih diberikan kesempatan oleh Allah SWT, ilmu harus terus disampaikan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Prinsip tersebut menjadi fondasi lahirnya ribuan alumni yang kini tersebar di berbagai daerah sebagai guru, ustaz, akademisi, birokrat, tokoh masyarakat, hingga pemimpin organisasi keagamaan.

Penjaga Tradisi Ahlussunnah wal Jamaah

Dalam perjalanan dakwahnya, KH. Adang Badruddin dikenal sebagai ulama yang konsisten menjaga dan mengembangkan tradisi Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.

Beliau meyakini bahwa Islam harus hadir dengan wajah yang ramah, damai, dan mampu berdialog dengan budaya masyarakat. Karena itu, dakwah yang beliau bangun selalu berpijak pada pendekatan kultural yang dekat dengan kehidupan masyarakat Sunda.

Melalui majelis pengajian, tahlil, shalawat, ziarah kubur, istighatsah, dan berbagai tradisi keagamaan lainnya, Abah Cipulus membangun kesadaran keagamaan yang berakar kuat pada nilai-nilai kebersamaan.

Di tengah munculnya berbagai paham yang mempertentangkan tradisi dengan agama, beliau memilih pendekatan ilmiah dan persuasif. Tradisi keagamaan yang berkembang di tengah masyarakat dijelaskan berdasarkan dalil, pendapat ulama, dan praktik para salafus shalih.

Sikap tersebut menjadikan beliau sebagai salah satu figur penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi Islam Nusantara di wilayah Purwakarta dan sekitarnya.

Bagi Abah Cipulus, menjaga tradisi bukan berarti menolak perubahan. Sebaliknya, tradisi harus menjadi sarana untuk memperkuat identitas umat sekaligus memperkokoh persatuan bangsa.

Kedekatan dengan Nahdlatul Ulama

Perjalanan pengabdian KH. Adang Badruddin juga tidak terlepas dari Nahdlatul Ulama. Beliau aktif dalam berbagai struktur organisasi NU dan dikenal sebagai salah satu tokoh yang memiliki pengaruh besar dalam pengembangan organisasi di tingkat daerah.

Baca Juga:  Baru Diresmikan, Aula Pesantren Al-Hikamussalafiyyah Sumedang Siap Jadi Pusat Kegiatan Santri

Beliau pernah mengemban amanah sebagai Rais Syuriah PCNU Kabupaten Purwakarta. Posisi tersebut dijalankan bukan untuk memperoleh kekuasaan, melainkan sebagai bagian dari tanggung jawab keulamaan dalam membimbing umat.

Dalam berbagai kesempatan, Abah Cipulus selalu menegaskan bahwa organisasi harus menjadi alat perjuangan, bukan tujuan perjuangan. Karena itu, jabatan tidak pernah dipandang sebagai simbol kehormatan, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

Ketika kondisi kesehatan mulai menurun, beliau memilih memberikan ruang kepada generasi yang lebih muda untuk melanjutkan estafet kepemimpinan. Keputusan tersebut menunjukkan sikap kenegarawanan dan kebesaran jiwa yang jarang ditemukan.

Beliau mengajarkan bahwa keberlangsungan perjuangan jauh lebih penting dibanding mempertahankan posisi atau jabatan.

Guru yang Menjadi Orang Tua

Bagi para santri, hubungan dengan KH. Adang Badruddin tidak berhenti pada relasi guru dan murid. Beliau hadir sebagai figur ayah yang memberikan perhatian, bimbingan, dan kasih sayang kepada para santrinya.

Banyak kesaksian yang menggambarkan bagaimana Abah Cipulus selalu mengikuti perkembangan pendidikan para santri, bahkan setelah mereka meninggalkan pesantren.

Ketika ada santri yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, beliau memberikan dukungan dan doa. Ketika ada santri yang meraih prestasi, beliau menyampaikan rasa bangganya secara terbuka di hadapan jamaah.

Kebahagiaan beliau terhadap keberhasilan para santri sering kali terasa seperti kebahagiaan seorang ayah terhadap anaknya sendiri.

Hubungan emosional tersebut menjadi salah satu alasan mengapa ikatan antara alumni dan Pesantren Cipulus tetap terjaga hingga sekarang.

Banyak alumni yang mengaku tetap menjadikan nasihat-nasihat Abah Cipulus sebagai pedoman hidup meskipun telah bertahun-tahun meninggalkan pesantren.

Keteladanan dalam Kehidupan Sosial

Selain dikenal sebagai ulama dan pendidik, KH. Adang Badruddin juga memiliki kepedulian sosial yang sangat tinggi.

Beliau kerap membantu masyarakat yang mengalami kesulitan, baik dalam bentuk dukungan moral maupun bantuan nyata. Tidak sedikit keluarga santri dan jamaah yang merasakan langsung perhatian beliau ketika menghadapi musibah atau persoalan hidup.

Dalam berbagai peristiwa duka, beliau hadir memberikan penguatan kepada keluarga yang ditinggalkan. Dalam berbagai peristiwa bahagia, beliau juga hadir untuk berbagi doa dan kebahagiaan.

Kehadiran beliau di tengah masyarakat tidak dibatasi oleh status sosial, latar belakang ekonomi, maupun kedudukan seseorang.

Semua diperlakukan dengan penghormatan yang sama.

Sikap inilah yang membuat beliau dicintai oleh berbagai kalangan dan dihormati bahkan oleh mereka yang tidak pernah menjadi santrinya.

Warisan Besar untuk Generasi Mendatang

Salah satu warisan terbesar KH. Adang Badruddin adalah keberhasilan membangun sistem kaderisasi yang berkelanjutan.

Baca Juga:  Dugaan Pencabulan di Ponpes Ciawi, Polres Bogor Agendakan Pemeriksaan Pengajar dan Santri Terlapor

Beliau menyadari bahwa pesantren tidak boleh bergantung pada satu figur semata. Karena itu, sejak jauh hari beliau menyiapkan generasi penerus yang mampu melanjutkan perjuangan pesantren.

Warisan tersebut tidak hanya berupa bangunan fisik atau lembaga pendidikan, tetapi juga berupa nilai, tradisi, dan cara pandang dalam beragama.

Abah Cipulus mewariskan pemahaman bahwa Islam harus menjadi rahmat bagi seluruh alam, bahwa ilmu harus diamalkan, dan bahwa pengabdian kepada umat merupakan tujuan utama dari setiap aktivitas keagamaan.

Beliau juga mewariskan semangat untuk menjaga keseimbangan antara agama, kebangsaan, dan kemanusiaan.

Dalam pandangan beliau, menjadi muslim yang baik tidak bertentangan dengan menjadi warga negara yang baik. Keduanya justru saling menguatkan.

Haul sebagai Ruang Menjaga Ingatan

Pelaksanaan Haul Akbar ke-6 yang baru saja berlangsung menjadi bukti bahwa pengaruh KH. Adang Badruddin tidak berhenti pada masa hidupnya.

Ribuan jamaah yang hadir menunjukkan bahwa pesan, ajaran, dan keteladanan beliau masih hidup di tengah masyarakat.

Haul bukan sekadar mengenang sosok yang telah wafat. Lebih dari itu, haul menjadi sarana untuk meneguhkan kembali komitmen dalam melanjutkan perjuangan yang telah beliau rintis.

Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, nilai-nilai yang diwariskan Abah Cipulus tetap relevan. Kemandirian, keikhlasan, moderasi beragama, kecintaan kepada ilmu, penghormatan kepada tradisi, dan pengabdian kepada masyarakat merupakan fondasi yang tetap dibutuhkan oleh generasi masa kini.

Enam tahun setelah kepergiannya, KH. Adang Badruddin masih hidup dalam ingatan para santri, keluarga, dan masyarakat yang pernah merasakan sentuhan dakwahnya.

Selama kitab-kitab kuning terus dikaji di Cipulus, selama majelis ilmu terus berlangsung, selama tradisi keagamaan yang beliau rawat tetap dijaga, dan selama para santri mengamalkan ilmu yang diwariskannya, maka nama Abah Cipulus akan terus dikenang.

Beliau telah menuntaskan tugasnya sebagai seorang ulama, pendidik, dan pembimbing umat. Kini, estafet perjuangan itu berada di tangan generasi penerus yang tumbuh dari rahim pesantren yang beliau bangun dengan penuh cinta, keteladanan, dan pengabdian.

Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah beliau, melapangkan kuburnya, mengangkat derajatnya di sisi-Nya, serta menjadikan ilmu dan perjuangannya sebagai amal jariyah yang terus mengalir hingga akhir zaman.

Al-Fatihah.

Disclaimer: Artikel ini merupakan opini, bukan karya jurnalistik Gugah.co. Kolom Suara Pinggiran menjadi wadah bagi akademisi, aktivis, dan analis untuk menyuarakan gagasan bebas.

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran