BANDUNG – Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, memberikan perhatian serius terhadap aksi anarkis sekelompok massa berbaju hitam yang terjadi pada peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 di simpang Tamansari-Cikapayang, Jumat (1/5/2026) lalu. Aksi tersebut diwarnai dengan pembakaran pos polisi, videotron, hingga kios pedagang di sekitar lokasi kejadian.
Muhammad Farhan mengungkapkan bahwa Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung sebenarnya telah melakukan langkah antisipasi sejak Kamis malam melalui pengaktifan siskamling dan ronda di seluruh wilayah. Langkah ini diambil untuk memastikan kerusuhan tidak meluas ke titik-titik lain di Kota Bandung.
“Warga jaga warga, warga jaga kota juga bersama-sama itu sangat kuat. Bersama dengan kepolisian kita bisa menjaga sehingga apa yang terjadi hanya ada di titik itu saja (Cikapayang),” ujar Farhan, Senin (4/5/2026).
Farhan menilai perusakan tersebut sebagai sebuah anomali. Pasalnya, aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh berbagai aliansi buruh di Kota Bandung justru berjalan dengan tertib dan damai. Ia menegaskan bahwa pemerintah sangat menghargai kebebasan berpendapat, namun tindakan kriminal seperti pembakaran tidak dapat ditoleransi.
“Pembentangan spanduk kita hargai, tapi begitu mulai melakukan pembakaran ya pasti kita cegah dan kita tangani. Ketika menjadi kerusuhan, harus dihentikan karena sudah melanggar ketentuan,” tegasnya.
Farhan juga menyampaikan permohonan maaf karena tidak bisa memantau langsung jalannya demonstrasi pada 1 Mei lalu akibat kondisi kesehatan. “Saya lagi sakit tifus kemarin, jadi tidak bisa memantau langsung ke lapangan. Alhamdulillah sudah sembuh,” ungkapnya.
Terkait identitas kelompok perusuh, Farhan menyerahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian. Ia berencana segera berkoordinasi dengan Kapolda Jawa Barat untuk mendalami informasi mengenai kelompok berbaju hitam tersebut. Polisi sendiri telah memastikan bahwa para perusuh bukan bagian dari serikat pekerja atau buruh.
Selain fasilitas umum, Farhan sangat menyayangkan adanya kios milik warga yang ikut menjadi korban pembakaran. Saat ini, seluruh fasilitas yang rusak masih dalam proses perbaikan.
“Suara memperjuangkan aspirasi itu baik, tetapi jangan kemudian membuat saudara kita yang punya warung kecil jadi korban. Kasihan, kita memang melindungi itunya saja,” pungkas Farhan.***



Tinggalkan Balasan