Rekrutmen Pekerja Diduga Picu Kericuhan di SPPG Jatisari 3, Tujuh Orang Terluka

|

GUGAH – Persoalan rekrutmen pekerja diduga menjadi pemicu kericuhan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jatisari 3, Desa Jatisari, Kecamatan Bojongpicung, Kabupaten Cianjur. Insiden yang terjadi pada Minggu (11/10/2026) malam itu dilaporkan menyebabkan tujuh orang mengalami luka-luka, fasilitas rusak, serta sejumlah barang milik perusahaan dan karyawan hilang.

Peristiwa tersebut menjadi sorotan karena persoalan penerimaan pekerja diduga berkembang menjadi kekerasan terhadap karyawan. Namun, motif dan pihak-pihak yang terlibat masih perlu dipastikan melalui penyelidikan kepolisian.

Kuasa Hukum SPPG Jatisari 3, Muhammad Rizki Abdullah, mengatakan kericuhan diduga bermula dari ketidakpuasan seorang kandidat asal desa setempat yang tidak lolos seleksi karena dinilai tidak memenuhi kualifikasi yang dibutuhkan.

“Yang diterima itu salah satu warga di desa sebelah,” kata Muhammad.

Menurut Rizki, persoalan tersebut diduga memicu kemarahan keluarga kandidat yang tidak diterima hingga sejumlah orang mendatangi lokasi dapur pada sekitar pukul 21.00 WIB.

Ia juga menduga ada pihak dari luar wilayah yang ikut memperkeruh keadaan. Namun, dugaan tersebut belum dapat dipastikan dan masih membutuhkan pembuktian melalui proses hukum.

Baca Juga:  Penyerangan Bus Persib U-18, Tiga Tersangka Terancam 7 Tahun Penjara

Tujuh Pekerja Dilaporkan Terluka

Rizki menyebut tujuh pekerja, termasuk juru masak, petugas keamanan, dan relawan, mengalami pemukulan dalam insiden tersebut. Para korban dilaporkan mengalami luka lebam serta benjolan di bagian kepala dan tubuh.

“Tidak ada yang masuk kategori luka berat. Namun, beberapa korban mengalami benjolan dan luka. Kami juga sudah melakukan visum,” ujarnya.

Pihak SPPG mengaku telah melaporkan kejadian itu kepada Polres Cianjur. Laporan tersebut berkaitan dengan dugaan pemukulan, perusakan fasilitas, dan kehilangan barang.

Selain kerusakan fasilitas dapur dan kamera pengawas (CCTV), sebuah laptop milik perusahaan dilaporkan mengalami kerusakan. Sejumlah barang milik karyawan, termasuk telepon genggam dan uang tunai Rp200 ribu, juga disebut hilang.

“Sejumlah barang milik karyawan, seperti telepon genggam dan uang tunai Rp200 ribu, juga dilaporkan hilang,” ujarnya.

Rizki mengatakan pihaknya masih menghitung total kerugian akibat insiden tersebut. Nilai kerugian belum dapat dipastikan karena pendataan kerusakan dan barang yang dilaporkan hilang masih berlangsung.

Baca Juga:  Efisiensi APBD Jangan Korbankan Warga Kurang Mampu, Wildan Desak BPJS PBI Dipertahankan

Keterangan Korban Perlu Dipastikan

Kepala Desa Jatisari, Asep Prasida, menyebut kericuhan bermula ketika sejumlah orang mendatangi dapur dan mencari kepala SPPG. Karena orang yang dicari tidak ditemukan, situasi kemudian memanas dan sejumlah karyawan menjadi sasaran pemukulan.

Asep mengatakan dua karyawan yang berada di lokasi mengalami pemukulan pada bagian wajah dan kepala hingga harus dibawa ke puskesmas terdekat.

Keterangan tersebut belum sepenuhnya selaras dengan informasi dari kuasa hukum SPPG yang menyebut tujuh orang terluka. Perbedaan ini perlu diperjelas agar jumlah korban, kondisi mereka, dan dampak insiden dapat diketahui secara akurat.

Koordinator Wilayah SPPG Kabupaten Cianjur, Muhammad Yusuf Arifin, meminta persoalan tersebut dikonfirmasi kepada aparat penegak hukum. Menurut dia, penanganan kasus telah diserahkan kepada pihak terkait.

Sementara itu, informasi mengenai dugaan pernyataan kepala dapur yang disebut menyinggung warga setempat masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut.

Baca Juga:  Ansor Pagelaran Bangun Kemandirian Ekonomi Kader Lewat Budidaya Domba Garut

Polisi Perlu Mengurai Motif dan Peran Masing-Masing Pihak

Hingga informasi ini dihimpun, kronologi lengkap, identitas pihak yang diduga terlibat, serta total kerugian masih menunggu kejelasan dari proses penanganan aparat kepolisian.

Sejumlah hal penting perlu diungkap, mulai dari bagaimana persoalan rekrutmen berkembang menjadi kericuhan, siapa saja yang berada di lokasi, hingga pihak yang bertanggung jawab atas dugaan pemukulan dan perusakan.

Jika benar dipicu persoalan penerimaan pekerja, kasus ini juga memperlihatkan pentingnya transparansi dalam proses rekrutmen agar keputusan seleksi tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat. Meski demikian, ketidakpuasan terhadap hasil seleksi tidak dapat dijadikan pembenaran atas tindakan kekerasan.

Dugaan motif maupun keterlibatan pihak tertentu tetap harus diuji berdasarkan bukti dan keterangan para saksi. Penjelasan resmi kepolisian dibutuhkan untuk memastikan duduk perkara sekaligus mencegah berkembangnya informasi yang belum terverifikasi.***

Sumber: Radar Cianjur

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran