INDRAMAYU – Zaman sekarang, grup WhatsApp bukan lagi sekadar tempat berbagi tugas sekolah, tapi jadi lapak ‘pesan antar’ nyawa. Sebuah duel maut antarpelajar pecah di Jembatan Kembar Cimanuk, jalur Pantura Desa Bangkaloa Ilir, Kecamatan Widasari, Indramayu, yang menyebabkan seorang siswa SMP berinisial F (15) meregang nyawa.
Tragedi ini berawal dari saling tantang antar-admin grup WhatsApp dari kelompok yang mengatasnamakan Kaneza Japan dan Basrat. Kedua kubu sepakat untuk bertemu dan adu mekanik menggunakan senjata tajam pada Senin (4/5/2026) petang.
Kasat Reskrim Polres Indramayu, AKP Muchammad Arwin Bachar, mengungkapkan bahwa tawuran ini dikemas secara terencana dengan format duel dua lawan dua. Tersangka NH, yang bertindak sebagai penggerak, menunjuk korban F dan saksi RM untuk maju paling depan mewakili kelompok Kaneza Japan.
“Kedua kelompok ini melalui admin masing-masing menyepakati lokasi pertemuan di Jembatan Kembar Widasari,” ujar Arwin mengutip Kompas.com, Kamis (7/5/2026).
Korban F maju membawa senjata jenis corbek, sementara rekannya RM menenteng celurit panjang. Namun, keberanian yang salah tempat itu berubah menjadi petaka saat mereka bertemu lawan di seberang jembatan.
Petaka terjadi saat senjata tajam milik korban F terjatuh di tengah duel. Dalam kondisi panik dan mencoba berlari kembali ke kelompoknya, sebuah sabetan senjata tajam dari pihak lawan telak menghantam leher kiri korban.
Korban langsung ambruk bersimbah darah di lokasi kejadian. Meski sempat dilarikan ke RS Islam Zam-Zam Jatibarang, nyawa pelajar malang tersebut tidak tertolong. Ia dinyatakan meninggal dunia akibat luka robek yang sangat parah di bagian leher.
Polisi bergerak cepat dan berhasil mengamankan lima orang tersangka yang semuanya masih berstatus pelajar di bawah umur, yakni R, WA, NH, RM, dan HK.
“Dua di antaranya merupakan admin kelompok yang merencanakan tawuran lewat medsos, sedangkan tiga lainnya adalah mereka yang terlibat langsung dalam pertarungan menggunakan senjata tajam,” jelas Arwin.
Kini, para gladiator cilik ini harus menukar seragam sekolah mereka dengan proses hukum sesuai ketentuan peradilan anak. Polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti senjata tajam yang digunakan dalam aksi bodoh tersebut. Kasus ini menjadi alarm keras bagi para orang tua di Indramayu bahwa maut hanya seujung jempol di layar ponsel anak-anak mereka.***



Tinggalkan Balasan