Dasasila Pergerakan Dikumandangkan pada Harlah PMII ke-66 dan Pelantikan PKC PMII Jabar

BANDUNG — Momentum peringatan Hari Lahir (Harlah) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ke-66 yang dirangkaikan dengan Pelantikan Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Jawa Barat berlangsung tidak sekadar sebagai agenda seremonial organisasi. Dalam kesempatan tersebut, PKC PMII Jawa Barat secara resmi mempublikasikan dan mengumandangkan “Dasasila Pergerakan” sebagai pijakan ideologis baru dalam membaca arah gerak zaman, dinamika kebangsaan, dan tantangan global.

Dasasila Pergerakan ini diproyeksikan sebagai kerangka etik, moral, dan politik yang menegaskan kembali posisi PMII sebagai gerakan mahasiswa yang berpijak pada nilai kemanusiaan, kedaulatan bangsa, dan keadilan global. Dokumen ini hadir sebagai refleksi kritis atas situasi dunia yang diwarnai ketimpangan, dominasi kekuatan besar, serta praktik-praktik eksploitasi yang menggerus martabat manusia dan kedaulatan bangsa-bangsa.

Baca Juga:  Hardiknas 2026: Mendiktisaintek Tekankan Partisipasi Semesta untuk Pendidikan Inklusif

Dalam Dasasila tersebut ditegaskan bahwa kemanusiaan adalah dasar tertinggi pergerakan, di mana setiap tatanan nasional maupun global harus diukur dari kemampuannya melindungi martabat manusia. Selain itu, kedaulatan bangsa ditempatkan sebagai syarat utama keadilan, sehingga segala bentuk penguasaan atas wilayah, sumber daya, dan kebijakan global yang eksploitatif harus ditolak.

Lebih jauh, Dasasila Pergerakan menegaskan penolakan terhadap segala bentuk intervensi yang manipulatif, baik melalui senjata, utang, pasar, teknologi, maupun narasi demokrasi yang disalahgunakan untuk kepentingan dominasi. Setiap bangsa dipandang memiliki kedudukan yang setara dan berhak menentukan jalan sejarahnya sendiri tanpa tekanan geopolitik kekuatan besar.

Baca Juga:  Harga Pangan Nasional dan Jawa Barat: Lonjakan Harga Cabai Merah Besar di Tengah Stabilitas Beras

Pernyataan moral yang kuat juga tampak dalam penegasan bahwa perang, agresi, dan pendudukan adalah musuh kemanusiaan yang tidak pernah dapat dibenarkan dengan dalih apa pun. Perdamaian global, menurut Dasasila ini, hanya dapat dibangun di atas keadilan global, bukan ketakutan, penyerahan, atau kompromi terhadap penindasan.

Sebagai penutup, Dasasila Pergerakan menegaskan pentingnya solidaritas global bangsa-bangsa tertindas untuk melawan imperialisme lama maupun kolonialisme bentuk baru, serta meneguhkan kembali amanat Pancasila dan Pasal 33 UUD 1945 sebagai fondasi kedaulatan ekonomi nasional.

Ketua PKC PMII Jawa Barat dalam sambutannya menyampaikan bahwa Dasasila Pergerakan ini bukan sekadar teks, melainkan kompas gerakan yang akan menuntun arah perjuangan PMII di tengah kompleksitas zaman. “PMII harus hadir sebagai kekuatan moral dan intelektual yang berpihak pada kemanusiaan dan kedaulatan bangsa,” tegasnya.

Baca Juga:  Belanja Infrastruktur Jabar Tembus Rp1 Triliun, Sektor UMKM dan Ekonomi Kerakyatan Masih ‘Kurang Gizi’

Pelantikan PKC PMII Jawa Barat periode ini sekaligus menjadi penanda bahwa PMII tidak hanya melakukan regenerasi struktural, tetapi juga memperkuat regenerasi ideologis. Harlah ke-66 menjadi momentum penegasan kembali bahwa PMII tetap konsisten sebagai gerakan mahasiswa yang kritis, independen, dan berpijak pada nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan.

Dengan dikumandangkannya Dasasila Pergerakan, PMII Jawa Barat berharap gagasan ini tidak berhenti sebagai dokumen internal, melainkan menjadi wacana publik yang mendorong kesadaran kolektif tentang pentingnya keadilan, kedaulatan, dan solidaritas global di tengah tantangan zaman yang kian kompleks.***

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *