“Besok, di Kuningan, kami akan memulai acara untuk pilah sampah, sesuai dengan instruksi Gubernur,” ujar Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, Sabtu (9/5/2026).
Pramono menegaskan bahwa Jakarta tidak bisa lagi bergantung pada pola lama dalam pengelolaan limbah. Saat ini, Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang di Bekasi telah menampung beban yang sangat berat.
“Kita sudah tidak mungkin lagi mengandalkan pola lama untuk menimbun semua sampah di Bantargebang. Di sana sudah ada lebih dari 55 juta ton sampah. Kapasitasnya sudah tidak mencukupi dan beberapa kali mengalami insiden longsor,” jelas Pramono.
Guna menyukseskan transisi ini, Pemprov DKI Jakarta menjalin kerja sama erat dengan Kementerian Lingkungan Hidup untuk mendorong kesadaran kolektif masyarakat dalam memilah sampah langsung dari sumbernya.
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur juga mengajak tokoh agama dan institusi seperti Keuskupan Agung Jakarta untuk turut memberikan dukungan. Sinergi ini diyakini akan mempercepat perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah.
Masyarakat diimbau untuk mulai membagi sampah domestik ke dalam empat kategori utama:
-
Sampah Mudah Terurai: Diolah kembali menjadi kompos.
-
Sampah Daur Ulang: Seperti plastik, kertas, dan logam untuk disalurkan ke bank sampah.
-
Sampah B3: Bahan Berbahaya dan Beracun yang memerlukan penanganan khusus.
-
Sampah Residu: Limbah yang benar-benar tidak dapat diolah kembali.
Sebelum resmi dicanangkan di Kuningan, program ini telah melewati masa uji coba selama tiga bulan di wilayah Rorotan dan Cilincing. Sosialisasi juga telah diperluas ke berbagai wilayah Jakarta, termasuk Kabupaten Kepulauan Seribu.
Pramono berharap melalui pencanangan di Kuningan besok, seluruh lapisan masyarakat dapat berpartisipasi maksimal demi mewujudkan Jakarta yang lebih bersih dan berkelanjutan.***



Tinggalkan Balasan