GUGAH – Ketegangan militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat setelah muncul laporan bahwa Washington mempertimbangkan penggunaan bom konvensional terberatnya, GBU-43/B Massive Ordnance Air Blast (MOAB), dalam opsi serangan terhadap Iran. Menanggapi ancaman tersebut, pejabat militer Iran menyatakan bahwa negaranya telah menyiapkan kemampuan rudal untuk menyerang infrastruktur energi dan investasi pihak yang dianggap sebagai musuh di kawasan.
Penasihat senior panglima tertinggi Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Brigadir Jenderal Mohammad Reza Naqdi, menyampaikan ancaman itu saat berpidato dalam kampanye “Pengorbanan untuk Iran” di Kota Sari, Iran bagian utara, pada Minggu (18/10/2026). Pernyataannya diberitakan media pemerintah Iran, Press TV, sehari kemudian.
Naqdi menggunakan istilah “father of Iranian missiles” atau “bapaknya rudal Iran” untuk menggambarkan kemampuan serangan balasan Teheran. Istilah tersebut merupakan retorika pejabat Iran dan tidak dengan sendirinya menunjukkan nama resmi satu jenis rudal tertentu.
Laporan mengenai kemungkinan penggunaan MOAB mencuat setelah Presiden AS Donald Trump menyampaikan bahwa Washington masih mempertimbangkan opsi serangan terhadap fasilitas yang berkaitan dengan program nuklir Iran. Menurut laporan CNN yang diterbitkan pada 14 Oktober 2026, militer AS telah menyusun rencana serangan yang dapat mencakup penggunaan MOAB untuk menyasar infrastruktur energi dan fasilitas nuklir Iran apabila Trump memerintahkan dimulainya kembali operasi militer.
MOAB merupakan singkatan dari Massive Ordnance Air Blast. Bom berpemandu GPS ini memiliki berat sekitar 21.600 pon atau 9,8 ton, termasuk selubung dan komponennya, dengan daya ledak konvensional yang sangat besar. Senjata tersebut dikenal luas dengan julukan “mother of all bombs” atau “ibu dari segala bom”.
Meski memiliki daya ledak besar, MOAB bukan senjata nuklir. Penggunaannya juga tidak otomatis menjamin keberhasilan menghancurkan fasilitas yang berada jauh di bawah tanah atau dilindungi struktur pertahanan khusus.
Laporan mengenai opsi militer tersebut belum berarti keputusan penggunaan MOAB telah ditetapkan. CNN mengutip sejumlah pejabat AS yang mengetahui pembahasan internal militer dan menyebut adanya keraguan mengenai efektivitas strategis senjata itu untuk mencapai seluruh tujuan Washington.
Menanggapi kemungkinan serangan AS, Naqdi memperingatkan bahwa kesalahan perhitungan pihak lawan dapat memicu serangan balasan terhadap aset-aset strategis di kawasan.
“Jika terjadi kesalahan perhitungan, seluruh infrastruktur dan investasi energi milik pihak agresor di kawasan ini akan berada dalam jangkauan operasional, dan keamanan aset-aset tersebut akan terancam secara langsung,” demikian pernyataan Naqdi sebagaimana dilaporkan media Iran.
Ancaman tersebut menempatkan infrastruktur energi sebagai salah satu titik rawan dalam eskalasi konflik. Kawasan Teluk memiliki peran penting dalam perdagangan minyak dan gas dunia, sehingga gangguan terhadap fasilitas energi maupun jalur transportasi dapat berdampak melampaui negara-negara yang terlibat langsung.
Namun, pernyataan mengenai jangkauan serangan dan kesiapan persenjataan Iran merupakan klaim pihak yang bersangkutan. Kemampuan operasional, sasaran potensial, dan dampak nyata dari ancaman tersebut tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan pernyataan pejabat militer.
Dalam pernyataannya, Naqdi juga mengklaim bahwa bom jenis MOAB pernah dijatuhkan di wilayah Iran selama perang 12 hari melawan Israel pada 2025. Ia menyebut sejumlah bom gagal meledak dan kemudian berhasil disita oleh pasukan Iran.
“Beberapa bom jenis itu gagal meledak dan kemudian berhasil disita oleh pasukan kami,” kata Naqdi, sebagaimana dikutip Press TV.
Klaim mengenai penyitaan bom tersebut perlu diperlakukan sebagai pernyataan pejabat Iran karena belum terkonfirmasi secara independen dalam sumber yang dirujuk. Klaim itu juga perlu dibedakan dari fakta bahwa MOAB memang merupakan senjata konvensional yang dimiliki militer AS.
Sementara itu, juru bicara IRGC, Brigadir Jenderal Hossein Mohebbi, turut mengkritik penggunaan istilah “mother” atau ibu dalam penamaan bom tersebut. Ia menyebut penggunaan istilah yang dianggap sakral untuk senjata penghancur sebagai gambaran budaya yang dinilainya barbar.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa respons Iran tidak hanya disampaikan melalui ancaman militer, tetapi juga melalui pesan politik dan retorika yang ditujukan untuk menentang tekanan Washington.
Perkembangan ini menambah ketidakpastian dalam hubungan AS-Iran. Di satu sisi, Washington dilaporkan menyiapkan opsi serangan baru; di sisi lain, Teheran memperingatkan bahwa serangan terhadap wilayahnya dapat memicu balasan terhadap aset-aset lawan di kawasan.
Ancaman terhadap infrastruktur energi juga menimbulkan kekhawatiran mengenai dampak yang lebih luas, termasuk gangguan pasokan energi dan meningkatnya risiko keamanan regional. Besarnya dampak tersebut akan bergantung pada sasaran yang benar-benar diserang, skala operasi militer, serta bentuk respons yang diambil masing-masing pihak.
Hingga laporan ini disusun, pemberitaan mengenai MOAB masih berkaitan dengan opsi serangan yang dilaporkan sedang dipertimbangkan, bukan konfirmasi bahwa bom tersebut telah digunakan dalam operasi baru terhadap Iran.
Situasi selanjutnya akan bergantung pada keputusan politik dan militer kedua negara. Di tengah ancaman yang saling dilontarkan, perkembangan faktual di lapangan tetap menjadi penentu untuk menilai apakah ketegangan ini akan berlanjut menjadi serangan baru atau tetap berada pada tingkat ancaman dan perang urat saraf.***





Tinggalkan Balasan