UNICEF: Lebih dari 340 Anak Gaza Tewas Meski Gencatan Senjata

|

GUGAH – Kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza belum sepenuhnya menghentikan jatuhnya korban anak. Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) melaporkan lebih dari 340 anak telah tewas dan ratusan lainnya mengalami luka-luka sejak gencatan senjata diumumkan pada Oktober 2025.

Juru bicara UNICEF, Ricardo Pires, menyampaikan data tersebut dalam pengarahan pers di Jenewa, Swiss, pada Jumat (16/10/2026). Menurut laporan UNICEF, kekerasan masih berlangsung di tengah kondisi pengungsian, keterbatasan layanan dasar, serta kebutuhan bantuan kemanusiaan yang belum terpenuhi.

Dalam dua pekan sebelum laporan itu disampaikan, lima anak laki-laki dan dua anak perempuan dilaporkan tewas akibat serangan udara, serangan pesawat nirawak, dan tembakan di berbagai wilayah Gaza. Sedikitnya 33 anak lainnya mengalami luka serius, sementara dua anak laki-laki meninggal akibat luka yang diderita sebelumnya.

Data tersebut menunjukkan bahwa gencatan senjata belum memberikan jaminan keselamatan penuh bagi anak-anak di wilayah konflik tersebut.

Baca Juga:  UNICEF: Serangan Israel di Lebanon Tewaskan 200 Anak Sejak Maret 2026

Selain korban jiwa, UNICEF memperkirakan sekitar 800.000 anak masih mengungsi di Jalur Gaza. Sebagian besar dari mereka tinggal di tenda atau bangunan rusak yang dinilai berbahaya, dengan keterbatasan tempat berlindung dan fasilitas sanitasi.

Situasi tersebut semakin mengkhawatirkan menjelang musim dingin keempat yang harus dihadapi anak-anak Gaza dalam kondisi darurat. Tenda yang rusak, lingkungan padat, dan persoalan sanitasi meningkatkan risiko bagi keluarga yang kehilangan tempat tinggal.

UNICEF juga memperkirakan sekitar 60.000 anak telah kehilangan salah satu atau kedua orang tua mereka akibat perang. Kehilangan keluarga, tempat tinggal, dan rasa aman membuat kebutuhan dukungan psikososial bagi anak-anak menjadi semakin mendesak.

“Hampir setiap anak di Gaza membutuhkan suatu bentuk dukungan kesehatan mental untuk memulihkan diri,” demikian inti peringatan UNICEF mengenai kondisi psikologis anak-anak di wilayah tersebut.

Baca Juga:  Serangan Israel di Lebanon Tewaskan 51 Orang dalam 24 Jam, Tenaga Medis Turut Jadi Korban

Di tengah krisis yang belum berakhir, sejumlah upaya pemulihan mulai berjalan. UNICEF melaporkan lebih dari 560.000 anak telah kembali mengikuti kegiatan belajar sejak gencatan senjata diumumkan, termasuk melalui lebih dari 200 pusat pembelajaran yang didukung organisasi tersebut.

Kondisi pasokan pangan juga dilaporkan sedikit membaik setelah akses bantuan dan pasokan komersial meningkat. Namun, perbaikan tersebut masih rapuh dan belum menghapus besarnya kebutuhan masyarakat terhadap makanan, tempat tinggal, air bersih, layanan kesehatan, dan pendidikan.

UNICEF memperingatkan bahwa berbagai layanan publik dan fasilitas penting di Gaza masih mengalami kerusakan berat. Keterbatasan sumber daya kemanusiaan turut menyulitkan upaya pemulihan, terutama bagi anak-anak dan keluarga yang terus hidup dalam pengungsian.

Karena itu, kelangsungan bantuan kemanusiaan dan akses terhadap kebutuhan pokok menjadi faktor penting untuk menjaga keselamatan serta mendukung pemulihan anak-anak.

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terus mendukung upaya evakuasi medis bagi pasien yang membutuhkan perawatan khusus yang tidak tersedia di Gaza. Proses tersebut dilakukan melalui koordinasi dengan otoritas terkait dan mitra kesehatan.

Baca Juga:  Krisis Kesehatan Memburuk di Gaza, Pasien Jantung Terancam Kehilangan Nyawa

Evakuasi medis menjadi penting bagi pasien dengan kondisi kritis, termasuk mereka yang membutuhkan penanganan spesialis di luar wilayah tersebut. WHO menjelaskan bahwa prosesnya melibatkan penilaian medis, persetujuan rujukan, serta koordinasi perjalanan pasien dan pendampingnya.

Namun, kebutuhan layanan kesehatan di Gaza masih jauh lebih besar daripada kapasitas yang tersedia. Kerusakan fasilitas, keterbatasan pasokan medis, dan hambatan akses memperberat penanganan pasien yang membutuhkan perawatan segera.

Laporan UNICEF pada 16 Oktober 2026 kembali menyoroti bahwa dampak perang terhadap anak-anak tidak berhenti ketika gencatan senjata diumumkan. Keselamatan mereka tetap bergantung pada penghentian kekerasan, perlindungan warga sipil, akses bantuan kemanusiaan, serta pemulihan layanan dasar yang berkelanjutan.***

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran