ROMA – Gelombang solidaritas internasional terus menguat menyusul penahanan dua aktivis kemanusiaan, Saif Abukeshek dan Thiago Ávila, yang hingga kini masih berada dalam tahanan otoritas Israel. Keduanya dilaporkan melakukan aksi mogok makan sebagai bentuk protes atas penahanan yang dinilai tidak adil serta perlakuan yang tidak manusiawi.
Aksi tersebut kini meluas secara global. Sejumlah aktivis di berbagai negara turut melakukan mogok makan sebagai bentuk solidaritas dan tekanan moral agar kedua aktivis segera dibebaskan.
Dalam pernyataan yang beredar, disebutkan bahwa langkah ini merupakan bagian dari tradisi panjang perlawanan tanpa kekerasan yang telah lama digunakan oleh para tahanan politik, khususnya dalam konteks perjuangan rakyat Palestina.
Sejarah mencatat, aksi mogok makan kolektif pertama yang dilakukan oleh tahanan Palestina terjadi pada 1968. Sejak saat itu, metode ini menjadi simbol perlawanan terhadap penahanan sewenang-wenang, praktik penyiksaan, serta kondisi penjara yang tidak manusiawi.

“Mogok makan telah menjadi bentuk perlawanan revolusioner tanpa kekerasan bagi masyarakat tertindas di seluruh dunia, sekaligus alat efektif dalam aksi pembangkangan sipil dan perjuangan politik,” demikian pernyataan solidaritas tersebut.
Gerakan ini juga mengingat sosok Khader Adnan, yang dikenal luas karena aksi mogok makan panjangnya sebagai bentuk protes terhadap penahanan administratif. Ia menjadi simbol keteguhan dalam memperjuangkan keadilan, meskipun harus mengorbankan kesehatan dan keselamatannya.
Para aktivis menilai, pengorbanan tersebut mencerminkan tekad kuat untuk mewujudkan dunia yang lebih adil. Mereka juga menyerukan masyarakat internasional untuk terlibat dalam berbagai aksi damai di tingkat lokal sebagai bentuk dukungan terhadap perjuangan tersebut.
Selain menuntut pembebasan Saif Abukeshek dan Thiago Ávila, seruan solidaritas juga ditujukan bagi sejumlah tahanan lainnya, termasuk Marwan Barghouti dan Abu Safiya, serta seluruh tahanan Palestina yang dinilai menjadi korban penahanan berkepanjangan.
Hingga kini, tekanan dari komunitas internasional terus meningkat, seiring dengan kekhawatiran terhadap kondisi kesehatan para aktivis yang menjalani mogok makan. Aksi ini menjadi pengingat bahwa isu hak asasi manusia dalam konflik berkepanjangan tetap menjadi perhatian global yang mendesak untuk ditangani.



Tinggalkan Balasan