Membangun Karang Taruna Purwakarta yang Terarah dan Berkelanjutan

|

GUGAH – Karang Taruna bukan sekadar organisasi kepemudaan yang hadir hanya saat peringatan hari besar atau kegiatan seremonial. Lebih dari itu, Karang Taruna adalah wadah strategis untuk membangun karakter, kapasitas, kepemimpinan, dan kemandirian generasi muda di tengah masyarakat.

Demikian dikatakan Iman Mastur Fathurohman, Ketua Karang Taruna Desa Bunder, Kecamatan Jatiluhur. Menurutnya, Karang Taruna Kabupaten Purwakarta perlu dibangun sebagai satu kesatuan organisasi yang memiliki arah, sistem pembinaan, dan kaderisasi yang jelas, dari tingkat kabupaten hingga ke tingkat desa maupun kelurahan.

“Jangan sampai Karang Taruna di setiap tingkatan berjalan sendiri-sendiri tanpa arah pembinaan yang sama. Kreativitas di tingkat bawah tentu harus diberikan ruang, karena setiap desa memiliki potensi dan persoalan yang berbeda. Namun kreativitas tersebut tetap harus berada dalam koridor organisasi, aturan, nilai, dan tujuan Karang Taruna secara keseluruhan,” ujar Iman, kepada awak media, Rabu (26/8/2026).

Karang Taruna tidak cukup hanya menghasilkan banyak kegiatan. Yang jauh lebih penting adalah menghasilkan kader-kader muda yang siap melanjutkan estafet kepemimpinan masyarakat.

Baca Juga:  KH Sa’dulloh Ajak Santri Isi Kemerdekaan dengan Semangat Belajar

“Kaderisasi harus dipandang sebagai proses yang utuh: masuk, dibina, diberi ruang belajar, diberi tanggungjawab, dievaluasi, menjadi pemimpin untuk kemudian dapat membina kader berikutnya,” kata Ketua Karang Taruna Desa Bunder dua periode itu.

Dengan demikian, setiap kegiatan Karang Taruna bukan hanya menghasilkan acara yang selesai pada hari itu, tetapi juga menghasilkan pengalaman, keterampilan, kepemimpinan, jejaring, dan kader baru.

Menurutnya, Karang Taruna Kabupaten Purwakarta perlu dan harus memiliki fungsi yang kuat sebagai pengarah, pembina, fasilitator, dan penghubung bagi Karang Taruna di bawahnya.

Bukan berarti kabupaten harus mengambil alih seluruh kegiatan desa. Justru sebaliknya: kabupaten memberikan arah, standar, pembinaan, dan sistem; tingkat kecamatan mengkoordinasikan; tingkat desa atau kelurahan mengembangkan sesuai potensi wilayahnya. “Pola ini diharapkan dapat menciptakan keseimbangan antara kesatuan organisasi dan kebebasan berkreasi,” ujarnya.

Baca Juga:  Agustusan di Kanwil Kemenag Jabar: Dari Lapangan, KDR Ingatkan Arti Kemerdekaan

Kaderisasi tidak boleh hanya dilakukan ketika akan memilih pengurus baru. Kaderisasi harus menjadi budaya organisasi. Pemuda yang hari ini menjadi anggota harus memiliki kesempatan untuk belajar menjadi pelaksana kegiatan, kemudian koordinator, lalu pengurus, hingga akhirnya dipersiapkan menjadi pemimpin.

“Karang Taruna harus mampu melahirkan pemuda yang bukan hanya aktif berorganisasi, tetapi juga memiliki karakter, integritas, kepedulian sosial, kemampuan memimpin, kemampuan bekerja, kemandirian ekonomi, kemampuan berkomunikasi, serta tanggung jawab terhadap masyarakat,” beber Iman.

Purwakarta Membutuhkan Sistem, Bukan Sekadar Aktivitas

Ke depan, kata Iman, yang perlu dibangun bukan hanya Karang Taruna yang aktif, melainkan Karang Taruna yang terorganisir, terukur, dan berkelanjutan. Setiap tingkatan memiliki fungsi yang jelas.

Setiap pengurus harus memahami aturan organisasi. Setiap program memiliki arah. Setiap kader mendapatkan kesempatan berkembang. Setiap pergantian kepengurusan tidak memutus program yang sudah berjalan. Dan yang paling penting, tidak boleh ada generasi yang “selesai” hanya karena masa kepengurusannya selesai.

Baca Juga:  Pemkab Purwakarta Percepat Universal Coverage Jamsostek, Sinkronisasi Data Pekerja Rentan Jadi Fokus

“Keberhasilan Karang Taruna bukan diukur dari berapa banyak kegiatan yang pernah dilakukan, tetapi dari berapa banyak pemuda yang berhasil tumbuh menjadi kader yang mampu meneruskan perjuangan organisasi dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Karang Taruna Purwakarta harus bergerak sebagai satu organisasi, bukan berjalan sendiri-sendiri. Kecamatan dan desa bukan sekadar pelaksana, melainkan bagian dari satu sistem pembinaan. Kabupaten bukan sekadar struktur di atas, tetapi menjadi pusat arah, pembinaan, fasilitasi, dan penguatan kaderisasi.

“Masa depan Karang Taruna tidak ditentukan oleh siapa yang sedang menjabat hari ini, tetapi oleh seberapa baik kita menyiapkan kader yang akan memimpin esok hari. Karang Taruna yang kuat bukan hanya organisasi yang banyak kegiatan. Karang Taruna yang kuat adalah organisasi yang mampu melahirkan generasi,” demikian Iman Mastur Fathurohman.***

 

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran