GUGAH — Merah putih tidak hanya berkibar di halaman Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Barat, Sabtu (15/8/2026). Di tengah riuh pertandingan dan gerak jalan harmoni persatuan, ada pesan yang ingin dibawa lebih jauh: kemerdekaan harus terasa dalam cara aparatur bekerja dan melayani masyarakat.
Suasana itu terlihat dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di lingkungan Kanwil Kemenag Jabar, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 644, Bandung.
ASN dan pegawai dari berbagai unit kerja meninggalkan sejenak rutinitas kedinasan. Mereka bertanding, bersorak, saling mendukung, dan berbaur dalam suasana yang lebih cair.
Lapangan menjadi ruang perjumpaan. Pegawai yang sehari-hari sibuk dengan bidang dan tanggung jawab masing-masing bertemu dalam satu semangat: kebersamaan.
Kepala Kanwil Kemenag Jabar, Dudu Rohman atau KDR, melihat kemeriahan tersebut bukan sekadar agenda tahunan untuk menyambut hari kemerdekaan.
Menurut dia, pertandingan bukan tentang siapa yang paling unggul. Nilai terpenting justru terletak pada hubungan yang terbangun selama prosesnya.
“Kegiatan ini bukan semata-mata untuk mencari siapa yang menang dan siapa yang kalah. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita membangun kebersamaan, mempererat silaturahmi, dan memperkuat kekompakan sebagai satu keluarga besar Kementerian Agama,” ungkapnya.
Pesan itu menjadi relevan bagi lingkungan kerja yang dihuni pegawai dengan tugas berbeda-beda. Ada yang bekerja di bidang pelayanan, administrasi, pendidikan, keagamaan, hingga fungsi teknis lainnya.
Perbedaan pekerjaan tidak semestinya menciptakan jarak.
Justru dari perbedaan itu, kata Dudu, soliditas perlu dibangun. Sebab pelayanan kepada masyarakat tidak mungkin berjalan sendiri-sendiri.
Semangat tersebut tampak dari pertandingan yang berlangsung kompetitif tetapi tetap menjunjung sportivitas. Peserta saling memberi dukungan. Penonton ikut menyemangati. Setelah pertandingan berakhir, kemenangan tidak menjadi alasan untuk menjauhkan satu sama lain.
Di titik itulah perayaan kemerdekaan menemukan maknanya.
Kemerdekaan bukan hanya cerita tentang masa lalu atau upacara yang digelar setiap Agustus. Bagi Dudu, semangat itu harus diterjemahkan ke dalam pekerjaan sehari-hari.
“Semangat kemerdekaan harus kita bawa dalam pekerjaan sehari-hari. Kita bekerja dengan penuh tanggung jawab, saling mendukung, menjaga integritas, dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” tegasnya.
Pesan tersebut membawa perayaan HUT RI keluar dari lapangan pertandingan.
Sebab, ukuran pengabdian seorang ASN tidak berhenti pada selesainya pekerjaan administratif. Ada masyarakat yang menunggu pelayanan, ada persoalan yang membutuhkan kehadiran negara, dan ada tanggung jawab untuk memastikan layanan publik berjalan dengan baik.
Karena itu, kebersamaan yang dibangun melalui kegiatan Agustusan diharapkan tidak berhenti ketika pertandingan selesai dan dekorasi merah putih mulai diturunkan.
Energi yang lahir dari kebersamaan itu harus kembali ke ruang kerja.
Menjadi kerja yang lebih solid. Pelayanan yang lebih tulus. Dan tanggung jawab yang lebih kuat.
Di Kanwil Kemenag Jabar, kemerdekaan akhirnya bukan hanya dirayakan dengan perlombaan.
Ia diingatkan kembali sebagai pekerjaan bersama.
Merah putih mungkin berkibar di halaman kantor. Tetapi makna kemerdekaan, seperti pesan Dudu Rohman, harus hidup dalam sikap setiap aparatur: bekerja dengan integritas, saling menguatkan, dan hadir untuk masyarakat.***



Tinggalkan Balasan