Golkar Purwakarta Bukan Alat Kekuasaan Pribadi

|

Partai Golkar Kabupaten Purwakarta kini berada di persimpangan penting, menentukan arah masa depan organisasinya. Proses menuju Musyawarah Daerah (Musda) tidak boleh sekadar menjadi arena pertarungan siapa yang paling kuat mempertahankan pengaruh.

Justru, momen ini harus menjadi titik tolak regenerasi dan koreksi menyeluruh terhadap pola kepemimpinan partai.

Golkar Purwakarta tidak boleh dipimpin oleh mereka yang hanya berorientasi pada pelanggengan kekuasaan pribadi, serta menjadikan partai sebagai kendaraan untuk mempertahankan dominasi kelompok tertentu.

Sebab, jika partai hanya dijadikan alat kekuasaan segelintir orang, di mana letak perbedaannya dengan kendaraan pribadi?

Golkar adalah partai besar dengan sejarah panjang. Karena itu, ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukan seberapa kokoh ia mempertahankan posisi, bukan pula seberapa banyak orang yang dapat dikendalikan.

Ukuran sejatinya adalah: seberapa banyak kader baru yang berhasil dilahirkan, seberapa luas ruang yang dibuka bagi kader potensial, dan seberapa kuat institusi partai setelah masa kepemimpinannya berakhir.

Kaderisasi tidak boleh berubah menjadi “kloning loyalitas” di mana yang dipelihara hanya mereka yang setia kepada penguasa saat itu, sementara kader yang kritis, berintegritas, berkapasitas, dan memiliki gagasan justru disisihkan. Golkar Purwakarta tidak boleh terjebak dalam politik kenyamanan.

Baca Juga:  Pengadaan di Cianjur Jangan Jadi Ruang Gelap yang Tak Boleh Disentuh Publik

Perolehan kursi di DPRD bukan cek kosong untuk mempertahankan pola kepemimpinan yang sama selamanya. Tanpa regenerasi, tanpa pembaruan gagasan, dan tanpa keberanian membuka ruang bagi wajah baru, jangan salahkan pihak lain jika kekuatan politik Golkar di Purwakarta perlahan mengalami stagnasi.

Hari ini mungkin masih memiliki sejumlah kursi, namun esok hari belum tentu mampu mempertahankannya.

Jika target Golkar Purwakarta adalah kembali menjadi kekuatan politik nomor satu, maka pola pikir yang hanya berfokus pada pelanggengan kekuasaan internal justru menjadi hambatan terbesar.

Partai yang sehat harus berani melahirkan pemimpin baru. Ketua partai bukan pemilik partai. Jabatan bukan warisan, dan kaderisasi bukan alat untuk menciptakan pengikut pribadi.

Seluruh kader harus berani melihat persoalan ini secara objektif. Jika ada pihak yang lebih sibuk mempertahankan pengaruh pribadi daripada membesarkan institusi partai, maka evaluasi harus dilakukan.

Baca Juga:  Jangan Jadikan Reaktivasi SPP sebagai Jalan Pintas, Saatnya Jawa Barat Membangun BOSDA yang Berkeadilan

Jika kepemimpinan justru membuat kaderisasi mandek, ruang kompetisi tidak sehat, dan hanya kelompok tertentu yang mendapat akses istimewa, maka orang-orang seperti itu harus berani “diparkir” melalui mekanisme organisasi yang sah.

Ini bukan soal suka atau tidak suka terhadap seseorang. Ini soal masa depan Partai Golkar Purwakarta.

Golkar membutuhkan pemimpin yang mampu berkata: “Saya tidak harus selamanya berkuasa. Yang harus bertahan adalah Partai Golkar.” Bukan pemimpin yang berpikir: “Bagaimana kekuasaan saya dan kelompok saya bisa terus bertahan?” Perbedaan pola pikir tersebut sederhana, namun menentukan nasib partai ke depan.

Momentum Musda harus menjadi titik balik. Jangan sampai Musda hanya menghasilkan pergantian figur, sementara watak dan budaya politiknya tetap sama. Ganti orang tetapi mempertahankan budaya lama bukan regenerasi, itu hanya pergantian pemain.

Golkar Purwakarta membutuhkan kepemimpinan yang mampu merangkul seluruh kader, membuka ruang kompetisi yang sehat, memberi kesempatan kepada generasi baru, dan menjadikan partai sebagai institusi yang kuat, bukan alat kepentingan pribadi.

Baca Juga:  Sejauh Mana Keterlibatan Bupati dalam Pusaran MBG di Purwakarta?

Oleh karena itu, seluruh kader dan pemilik suara dalam Musda harus berpikir jauh ke depan. Jangan memilih karena kedekatan pribadi, karena tekanan, atau karena janji kepentingan jangka pendek. Pilihlah pemimpin yang mampu membesarkan partai, bahkan ketika dirinya tidak lagi memegang jabatan.

Ukuran keberhasilan seorang ketua bukan ketika ia berhasil mempertahankan kursinya. Ukuran sejatinya adalah ketika setelah ia pergi, Partai Golkar justru semakin besar.

Jika ada yang merasa partai akan hancur hanya karena dirinya tidak lagi berkuasa, mungkin persoalannya bukan pada partai, melainkan selama ini ia memang hanya memanfaatkan partai untuk kepentingan sesaat.

Saatnya Golkar Purwakarta diselamatkan dari politik pelanggengan kekuasaan individu. Saatnya kaderisasi dibuka lebar. Saatnya kompetisi disehatkan.

Saatnya orang-orang yang menjadi sumber stagnasi berani dievaluasi, dan jika perlu, diparkir. Sebab yang harus dipertahankan bukan kekuasaan segelintir orang, melainkan masa depan Partai Golkar Purwakarta.

Oleh: Agus M. YasinPenulis adalah Kader Senior Partai Golkar Purwakarta dan Mantan Anggota DPRD Purwakarta.

Foto: Net.

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran