GUGAH – Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Bandung terus menggenjot berbagai program penyerapan tenaga kerja sebagai upaya menekan angka pengangguran. Tak hanya melalui penyelenggaraan job fair, pemerintah kini mengoptimalkan program pemagangan dan penempatan tenaga kerja ke luar negeri, khususnya ke Jepang.
Kepala Disnaker Kota Bandung, Yayan Ahmad Brilyana, mengatakan program pemagangan menjadi salah satu strategi yang efektif untuk menjembatani kebutuhan dunia industri dengan kompetensi para pencari kerja.
Menurutnya, perkembangan industri yang semakin dinamis menuntut tenaga kerja memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Karena itu, program magang dirancang agar peserta memperoleh pengalaman kerja sekaligus meningkatkan kemampuan teknis sebelum memasuki dunia kerja.
“Melalui program pemagangan yang dibiayai pemerintah, peserta mendapatkan bantuan transportasi dan pendampingan instruktur. Dengan begitu, industri terbantu dan pencari kerja juga memperoleh pengalaman kerja yang berharga,” ujar Yayan, Jumat (19/6/2026).
Disnaker Kota Bandung juga terus memperluas kemitraan dengan berbagai sektor usaha, termasuk industri perhotelan dan restoran, guna memperbanyak peluang magang bagi masyarakat. Langkah tersebut diharapkan mampu mempercepat penyerapan tenaga kerja sekaligus meningkatkan kesiapan lulusan menghadapi persaingan dunia kerja.
Yayan menilai program magang memiliki prospek yang menjanjikan karena peserta dapat beradaptasi langsung dengan budaya kerja perusahaan sekaligus mengasah keterampilan sesuai kebutuhan industri.
Selain pemagangan, Disnaker juga mengintensifkan sosialisasi program penempatan tenaga kerja ke luar negeri. Jepang menjadi salah satu negara tujuan utama karena hingga kini masih membuka peluang besar bagi tenaga kerja asal Indonesia.
Namun, menurut Yayan, kesempatan tersebut selama ini lebih banyak dimanfaatkan oleh masyarakat dari daerah lain di Jawa Barat, seperti Ciamis, Tasikmalaya, Bandung Barat, Indramayu, dan Cirebon. Karena itu, pihaknya mendorong warga Kota Bandung agar lebih berani memanfaatkan peluang bekerja di luar negeri.
Sebagai bentuk dukungan, pemerintah memberikan subsidi pelatihan bagi calon pekerja migran dengan nilai mencapai Rp10 juta hingga Rp15 juta per orang. Bantuan tersebut digunakan untuk pembelajaran bahasa Jepang, budaya kerja, hingga peningkatan keterampilan teknis yang dibutuhkan perusahaan di negara tujuan.
“Hampir Rp10 juta sampai Rp15 juta kami subsidi untuk belajar bahasa Jepang, budaya kerja, dan keterampilan lainnya sebelum diberangkatkan,” jelasnya.
Ia menerangkan, pekerja migran umumnya menjalani kontrak kerja selama tiga hingga lima tahun. Setelah kembali ke Indonesia, mereka tidak hanya membawa penghasilan, tetapi juga pengalaman, keterampilan, serta etos kerja yang dapat menjadi modal penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Untuk memperluas akses masyarakat terhadap peluang kerja internasional, Disnaker Kota Bandung juga menggandeng sejumlah lembaga pelatihan dan perguruan tinggi, salah satunya Universitas Teknologi Bandung (UTB). Melalui kerja sama tersebut, generasi muda memiliki kesempatan untuk bekerja sekaligus melanjutkan pendidikan di luar negeri.
Yayan berharap program pemagangan dan penempatan tenaga kerja internasional dapat menjadi alternatif bagi anak muda Kota Bandung dalam memperoleh pekerjaan yang layak sekaligus meningkatkan daya saing di tingkat global.
“Harapannya, semakin banyak anak muda Kota Bandung yang memanfaatkan peluang ini untuk meningkatkan kompetensi dan memperoleh pengalaman kerja yang dapat menjadi bekal masa depan,” pungkasnya.***



Tinggalkan Balasan