Nyali Kusriyati Menyelamatkan Rp3,6 Miliar: Dibayar Sebungkus Nasi, Mengajarkan Arti Kejujuran

|

GUGAH – Sore itu, hiruk-pikuk Jalan Ahmad Yani, Brebes, berjalan seperti biasa. Kendaraan keluar-masuk kawasan perbankan, orang-orang berlalu dengan kesibukannya masing-masing. Namun dalam hitungan detik, suasana berubah mencekam ketika suara kaca pecah memecah keramaian.

Di tengah riuh itu, seorang perempuan lanjut usia berdiri tegak. Tangannya yang sehari-hari mengatur parkir dan menjajakan minuman tak gemetar menghadapi kejahatan. Namanya Kusriyati (65).

Dari tempatnya berdiri, Kusriyati melihat seorang pria memecahkan kaca sebuah Mitsubishi Pajero Sport. Pelaku lalu meraih bungkusan plastik dari dalam mobil. Belakangan diketahui, bungkusan itu berisi uang tunai senilai Rp3,6 miliar.

Tanpa sempat berpikir panjang, naluri Kusriyati mengalahkan rasa takut.

“Saya melihat ada orang memecah kaca mobil, lalu mengambil bungkusan plastik dari dalam mobil. Saya langsung teriak, ‘Pencuri… pencuri…!’” kenangnya seperti dikutip dari suaraglobal.id, Rabu (17/6/2026).

Baca Juga:  Ngahiji Dina Karya, Ngajaya Dina Usaha, Bos Beye Resmi Maju Jadi Calon Ketua Kadin Purwakarta

Teriakan perempuan renta itu menjadi penanda bahwa kejahatan telah dipergoki.

Pelaku yang panik berusaha melarikan diri menggunakan sepeda motor yang sudah menunggu di tepi jalan. Dalam kepanikan, pembonceng sempat terseret beberapa meter di atas aspal karena berusaha mempertahankan bungkusan berisi uang tersebut. Sebagian uang bahkan sempat tercecer di jalan sebelum akhirnya pelaku berhasil kabur melawan arus.

Meski pelaku lolos, aksi cepat Kusriyati membuat uang miliaran rupiah itu gagal dibawa kabur seluruhnya.

Kusriyati bukan aparat keamanan. Ia juga bukan pegawai bank.

Ia hanyalah seorang juru parkir lansia yang setiap hari mencari nafkah di bawah terik matahari. Sejak suaminya, Darpin, meninggal dunia, ibu lima anak itu menyambung hidup dari uang receh parkir dan hasil berjualan minuman di sebuah lapak sederhana di seberang bank.

Baca Juga:  Respons Dinamika Global, Sarbumusi Layangkan 8 Tuntutan Strategis di Momentum May Day 2026

Namun ketika kejahatan datang, justru perempuan sederhana itulah yang berdiri paling depan.

Ironisnya, keberanian yang menyelamatkan uang miliaran rupiah itu hanya berbuah ucapan terima kasih dan uang Rp100 ribu dari pemilik dana, Kliwon Alwawan.

Bahkan uang tersebut tidak dinikmatinya sendiri.

Kusriyati membaginya kepada dua rekan sesama juru parkir dan seorang tukang ojek yang berada di lokasi.

“Dikasih Rp100 ribu sama yang punya uang. Terus dibagi empat, saya, dua teman parkir, sama tukang ojek. Saya dapat Rp25 ribuan,” tuturnya polos.

Baca Juga:  Hampir Setahun Berjalan, Program Sekolah Rakyat Siap Dievaluasi Total

Nominal itu mungkin hanya cukup untuk membeli sebungkus nasi. Jauh dari nilai uang yang berhasil diselamatkan, apalagi jika dibandingkan dengan risiko yang ia hadapi saat berteriak menghadang pelaku kejahatan.

Namun barangkali memang tidak semua keberanian dapat dihitung dengan rupiah.

Di tengah zaman ketika banyak orang memilih diam agar tidak ikut berurusan, Kusriyati justru mengajarkan bahwa kejujuran dan keberanian masih hidup di sudut-sudut jalan. Bahwa menjadi pahlawan tidak selalu membutuhkan seragam, jabatan, atau panggung penghargaan.

Kadang, cukup seorang nenek dengan peluit di tangan, suara lantang, dan hati yang menolak membiarkan kejahatan menang.***

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran