Kumpulkan Lembaran Rp50 Ribu di Ember, Nenek Sebatang Kara Asal Maros Kini Jadi Ikon Global Haji 2026

MAKKAH – Dada Jumariah berdebar sangat kencang saat kakinya resmi melangkah memasuki pelataran suci Masjidil Haram, Minggu (10/5/2026).

Di bawah terik langit Makkah, perempuan lanjut usia itu berulang kali menyeka tetesan air mata menggunakan ujung kerudungnya.

Pertahanan mental Jumariah seketika runtuh saat bangunan kubus Kakbah terbungkus kain kiswah megah berdiri persis di depan matanya.

Mimpi yang ia rawat dalam kesunyian hidup sebatang kara sejak berpisah dengan sang suami kini mewujud jadi kenyataan.

“Saya senang bisa melihat Ka’bah,” ucapnya lirih saat ditemui di Hotel Asrar al Tayseer, Makkah, dengan mata berkaca-kaca.

Jumariah merupakan jemaah lansia kloter UPG-14 asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, yang kini diperkirakan berusia 70-an tahun.

Baca Juga:  Kemenag Gelar Sidang Isbat Penentu Idul Adha 2026 Hari Ini, Simak Bocoran Ketinggian Hilal Terbaru

Di kampung halaman, ia terbiasa hidup mandiri merawat kebun ubi milik tetangga dan menggarap sawah pribadinya seluas 15 are.

“Saya tanam sendiri, rawat sendiri, panen sendiri. Dulu pakai sabit, kalau sekarang sudah dibantu mesin,” kenangnya melempar senyum.

Nenek yang buta huruf ini rupanya menyimpan tekad baja untuk berangkat ke Tanah Suci sejak 20 tahun silam.

Secara sembunyi-sembunyi, ia konsisten menyisihkan uang hasil keringat bertaninya ke dalam sebuah ember di pojok rumah panggungnya.

“Saya kumpul uangku sedikit-sedikit di ember,” tuturnya dengan sangat polos mengenang perjuangan masa lalu.

Baca Juga:  Update Ibadah Haji 2026, Kemenhaj Fokus pada Bimbingan Ibadah dan Perlindungan Jemaah

Jumariah menceritakan manajemen keuangan sederhananya demi bisa melunasi ongkos naik haji yang terus membubung tinggi dari tahun ke tahun.

“Kalau saya dapat Rp110 ribu, saya simpan Rp50 ribu,” ujarnya merinci besaran uang yang masuk ke dalam ember tabungan.

Pada tahun 2011, isi embernya menyentuh angka Rp25 juta sehingga ia memberanikan diri mendaftar antrean haji reguler.

Kegigihan luar biasa Jumariah tersebut akhirnya menarik perhatian besar dari otoritas Kementerian Haji dan Umrah Kerajaan Arab Saudi.

Profil bersahajanya terpilih menjadi bintang utama dalam pembuatan video dokumenter internasional untuk mempromosikan proyek strategis “Makkah Route”.

Baca Juga:  Pulangkan Binokasih ke Kawali, Satukan Sejarah Tatar Galuh

“Pertimbangannya karena kesehariannya. Dia hidup sendiri, sebatang kara, tinggal di daerah terpencil, namun sangat menginspirasi,” ungkap Ketua Kloter UPG-14, Sitti Hawaisyah.

Kini, video singkat nenek pencari ubi dari pelosok Sulawesi itu bertransformasi menjadi materi promosi global dunia haji 2026.

Hebatnya, selama berada di tanah suci, Jumariah memiliki rekam medis yang bersih dan mempunyai fisik sekuat baja.

“Di tanda pengenal saya ini ada tanda merah, artinya saya punya riwayat sakit. Tapi di gelang Nenek Jumariah bersih, dia sehat total,” puji Sitti Hawaisyah.***

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran