Kasus ISPA Meningkat, GP Ansor Bantargebang Soroti Dampak Gas Metana

Bekasi — Predikat TPST Bantargebang sebagai penyumbang emisi gas metana terbesar kedua di dunia menjadi sorotan serius berbagai pihak. Temuan tersebut berdasarkan laporan UCLA School of Law bertajuk “Spotlight on the Top 25 Methane Plumes in 2025: Landfills” yang dirilis pada April 2026.

Sorotan tersebut semakin menjadi perhatian setelah Dinas Kesehatan Kota Bekasi mencatat sebanyak 65.331 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) terjadi sepanjang Januari hingga akhir Maret 2026 di berbagai fasilitas kesehatan tingkat Puskesmas se-Kota Bekasi.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bekasi, Satia Sriwijayanti Anggraini, menyebut paparan gas metana berpotensi berkaitan dengan gangguan pernapasan masyarakat.

”Tentunya akan mempengaruhi kami ya, karena itu kan gas berbahaya. Pastinya berhubungan dengan pernapasan ya,” kata Satia.

Meski demikian, Dinkes Kota Bekasi menegaskan masih diperlukan kajian ilmiah dan epidemiologis lebih mendalam untuk memastikan korelasi langsung antara paparan gas metana dengan tingginya kasus ISPA di Kota Bekasi.

Baca Juga:  Seleksi Pemuda Pelopor Bekasi 2026, Juri Tekankan Pentingnya Pembinaan Sejak Tingkat Kecamatan

”Tentunya diperlukan kajian ilmiah dan data epidemiologis yang lebih mendalam. Kasus ISPA sendiri dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti polusi kendaraan, aktivitas industri, kepadatan penduduk, kebiasaan merokok, hingga kondisi cuaca dan kualitas lingkungan secara umum,” tuturnya.

Menanggapi hal tersebut, Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Bantargebang, Egi Cahyanto, mengaku miris dan prihatin atas sorotan dunia internasional terhadap TPST Bantargebang yang berada tidak jauh dari kawasan permukiman warga.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi ironi tersendiri karena masyarakat sekitar harus hidup berdampingan dengan tumpukan sampah dan potensi paparan gas setiap harinya, bahkan setiap jam, mengingat berdasarkan hasil penelitian, TPST Bantargebang menghasilkan emisi gas metana mencapai 6,3 ton per jam.

“Saya pribadi sangat miris dan prihatin. Bagaimana tidak, TPST Bantargebang kini menjadi produsen gas metana nomor dua di dunia, sementara saya sendiri merupakan warga sekitar yang rumahnya bahkan tidak sampai satu kilometer dari lokasi pembuangan sampah,” ujar Egi Cahyanto, Kamis (14/05/2026).

Baca Juga:  DK3B Kota Bekasi Siapkan Festival Film Budaya Libatkan Pelajar

Egi menilai persoalan TPST Bantargebang saat ini tidak lagi dapat dipandang sebagai isu lokal semata, melainkan telah menjadi perhatian nasional.

“Ini bukan lagi sekadar isu lokal Bantargebang. Ketika lembaga internasional menyoroti Kota Bekasi, artinya persoalan ini sudah naik menjadi isu nasional yang harus ditangani secara serius,” katanya.

Ia juga mengungkapkan bahwa persoalan tersebut belum lama ini turut disampaikannya dalam podcast GP Ansor Pusat sebagai bentuk dorongan agar pemerintah lebih serius menangani persoalan lingkungan dan kesehatan di sekitar TPST Bantargebang.

Selain menyoroti persoalan lingkungan, Egi juga menanggapi tingginya angka kasus ISPA di Kota Bekasi pada awal tahun 2026 berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Bekasi. Menurutnya, kondisi tersebut harus menjadi perhatian serius bersama, mengingat hingga saat ini belum ada kajian ilmiah yang memastikan ada atau tidaknya keterkaitan langsung antara paparan gas metana dengan lonjakan kasus gangguan pernapasan di Kota Bekasi.

Baca Juga:  Ngaji Rutin KPA Kota Bekasi, KH Nur Cholik: Pendosa Juga Berhak Dekat kepada Allah

“Lonjakan ISPA di Kota Bekasi menurut data Dinkes cukup tinggi. Ini harus menjadi warning bukan hanya bagi warga Bantargebang dan sekitarnya, tetapi juga seluruh masyarakat Kota Bekasi. Kami khawatir fenomena ini memang berkaitan dengan dampak gas metana, meskipun pemerintah masih menunggu kajian ilmiah dan epidemiologis lebih lanjut. Karena itu, masyarakat diharapkan mulai meningkatkan kewaspadaan dan sebisa mungkin menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah,” tegasnya.

Ia berharap pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dan Pemerintah Kota Bekasi dapat memperkuat langkah penanganan lingkungan, kesehatan masyarakat, serta evaluasi pengelolaan TPST Bantargebang secara menyeluruh demi keselamatan warga di masa mendatang.***

Avatar Egi

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran