GUGAH – Penulis buku Sang Pemimpin Metanormatif, Rd. Ar Rayania atau Mang Abrong, menegaskan Indonesia membutuhkan pemimpin yang mampu melampaui pola kepemimpinan konvensional. Menurutnya, kemajuan bangsa tidak cukup ditopang kecerdasan individu, tetapi juga imajinasi, kolaborasi, dan kecerdasan kolektif.
Hal itu disampaikan dalam bedah buku Sang Pemimpin Metanormatif pada peringatan Hari Santri Nasional 2026 di GOR Sayangheulang, Pameungpeuk, Garut Selatan, Kamis (22/10/2026).
“Indonesia maju sulit terwujud karena kita belum memiliki infrastruktur berupa imajinasi, roadmap, dan kecerdasan kolektif. Orang pintar kita banyak, tetapi itu belum cukup,” kata Mang Abrong.
Ia menilai banyak pemimpin hanya menjalankan hal-hal yang dapat dilakukan siapa pun ketika memiliki jabatan, kekuasaan, dan anggaran besar. Pola tersebut, menurutnya, masih tergolong kepemimpinan normatif.
Sebagai contoh kepemimpinan yang melampaui kelaziman, Mang Abrong mengangkat Ketua Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) Jawa Barat, Saepuloh. Menurutnya, Saepuloh berhasil membuka akses beasiswa bagi sekitar 4.000 orang, ditambah 324 penerima pada 2026, meski tidak memiliki anggaran khusus.
“Inilah yang saya sebut pemimpin metanormatif. Tanpa anggaran, tetapi mampu membuka jalan pendidikan bagi ribuan orang,” ujarnya.
Bagi Mang Abrong, keberhasilan pemimpin tidak diukur dari besarnya anggaran atau jumlah proyek fisik, melainkan dari kemampuan membangun jejaring, menggerakkan kolaborasi, dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Melalui buku Sang Pemimpin Metanormatif, ia berharap lahir perspektif baru tentang kepemimpinan, terutama di kalangan generasi muda dan santri. Pemimpin masa depan, katanya, harus mampu mengubah keterbatasan menjadi peluang, bukan sekadar mengelola sumber daya yang tersedia.
“Bangsa ini tidak hanya membutuhkan pemimpin yang pandai menghabiskan anggaran, tetapi pemimpin yang mampu melahirkan gagasan dan membuka jalan bagi masa depan,” tegasnya.***





Tinggalkan Balasan