GUGAH – Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Kota Tasikmalaya mempertanyakan tidak adanya undangan dari Pemerintah Kota Tasikmalaya dalam kegiatan peringatan Hari Santri Nasional (HSN). Hal tersebut disampaikan Ketua GP Ansor Kota Tasikmalaya, Bubung Nizar.
Menurut Bubung, GP Ansor merupakan bagian dari keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU) yang memiliki keterkaitan historis dengan lahirnya Hari Santri Nasional. Karena itu, absennya GP Ansor dalam daftar undangan dinilai menimbulkan pertanyaan di kalangan kader.
“GP Ansor merupakan badan otonom NU yang selama ini memiliki peran dalam menjaga nilai-nilai keislaman, kebangsaan, serta kehidupan sosial kemasyarakatan. Hari Santri bukan hanya agenda seremonial, tetapi momentum menghormati perjuangan santri, ulama, dan pesantren dalam perjalanan bangsa,” ujarnya.
Ia menilai persoalan tersebut bukan semata soal kehadiran dalam sebuah acara, melainkan menyangkut pola komunikasi dan pelibatan organisasi kepemudaan keagamaan dalam agenda yang berkaitan dengan sejarah perjuangan santri.
Bubung berharap Pemerintah Kota Tasikmalaya dapat memperkuat koordinasi dengan seluruh elemen masyarakat, termasuk organisasi yang memiliki hubungan historis dengan Hari Santri Nasional, sehingga momentum tersebut dapat menjadi ruang kolaborasi bersama.
Di tengah munculnya sorotan di media sosial terkait tidak diundangnya GP Ansor, organisasi tersebut mengaku kemudian menerima surat undangan susulan dari Pemerintah Kota Tasikmalaya yang mencantumkan GP Ansor sebagai salah satu organisasi yang diundang menghadiri kegiatan peringatan Hari Santri Nasional.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari Pemerintah Kota Tasikmalaya mengenai alasan GP Ansor tidak tercantum dalam daftar undangan awal maupun terkait diterbitkannya undangan susulan. Redaksi masih berupaya meminta konfirmasi kepada pihak terkait untuk memperoleh penjelasan yang berimbang.***





Tinggalkan Balasan