GUGAH — Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 menjadi momentum bagi Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kecamatan Cibinong, Kabupaten Cianjur, untuk memperkuat tradisi keagamaan di kalangan generasi muda. Melalui lomba shalawat dan pembacaan Kitab Barzanji, organisasi kepemudaan Nahdlatul Ulama (NU) tersebut berupaya menanamkan kecintaan kepada Rasulullah SAW sekaligus menjaga warisan tradisi pesantren.
Kegiatan ini tidak hanya dirancang sebagai perlombaan untuk memeriahkan Hari Santri, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran keagamaan bagi santri dan pemuda di Kecamatan Cibinong. Tradisi shalawat dan Barzanji yang telah lama hidup di lingkungan pesantren dan masyarakat Nahdliyin dihadirkan kembali sebagai bagian dari upaya menjaga kesinambungan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.
Ketua Panitia Pelaksana, Endang Tirtana, menjelaskan bahwa pemilihan dua jenis perlombaan tersebut didasarkan pada nilai dakwah dan pendidikan yang terkandung di dalamnya. Menurutnya, kegiatan keagamaan perlu dikemas secara menarik agar tetap dekat dengan generasi muda tanpa kehilangan makna dan nilai tradisi yang diwariskan para ulama.
“Melalui momentum Hari Santri ini, kami ingin menghadirkan kegiatan yang tidak hanya meriah, tetapi juga memiliki nilai dakwah dan pendidikan. Lomba shalawat dan Barzanji menjadi sarana untuk menumbuhkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, mempererat silaturahmi, serta merawat tradisi luhur pesantren agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman,” ujar Endang Tirtana.
Ia menilai, pelestarian tradisi keagamaan menjadi bagian penting dalam membangun karakter generasi muda. Selain memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengembangkan kemampuan, perlombaan tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kekompakan, semangat kebersamaan, dan kecintaan terhadap syiar Islam.
Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Cibinong, Holil Annasir, turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta, panitia, dan pihak yang telah berkontribusi dalam pelaksanaan kegiatan. Ia menegaskan bahwa Hari Santri Nasional tidak semestinya berhenti pada seremoni tahunan, melainkan perlu menjadi pengingat atas perjuangan ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Menurut Holil, nilai perjuangan tersebut perlu diteruskan melalui penguatan pendidikan, pembinaan akhlak, dan pengabdian kepada masyarakat. Generasi muda, khususnya kader Ansor dan kalangan santri, diharapkan mampu menghadapi perubahan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai pesantren dan tradisi keagamaan yang menjadi bagian dari identitas mereka.
“Semangat Hari Santri harus kita maknai sebagai dorongan untuk terus belajar, berkhidmah, menjaga akhlak, serta berkontribusi bagi agama, bangsa, dan negara. Generasi muda harus mampu meneruskan perjuangan para ulama dengan cara-cara yang sesuai dengan tantangan zaman, tanpa meninggalkan nilai-nilai pesantren dan tradisi keagamaan yang menjadi warisan kita,” ungkap Holil Annasir.
Ia berharap, kegiatan serupa dapat terus dikembangkan sebagai ruang pembinaan bagi generasi muda, baik dalam memperdalam pengetahuan keagamaan maupun memperkuat ukhuwah Islamiyah dan kepedulian sosial. Bagi GP Ansor, momentum Hari Santri juga memiliki arti penting dalam membangun kader muda yang religius, berakhlak, berwawasan kebangsaan, dan siap berkhidmah kepada masyarakat.
Melalui lantunan shalawat dan pembacaan Barzanji, PAC GP Ansor Cibinong ingin menegaskan bahwa tradisi keagamaan bukan sekadar peninggalan masa lalu. Tradisi tersebut dapat menjadi sarana menanamkan keteladanan Rasulullah SAW yang diwujudkan dalam perilaku santun, kepedulian terhadap sesama, serta komitmen menjaga persatuan.
Peringatan HSN 2026 ini diharapkan menjadi bagian dari ikhtiar berkelanjutan GP Ansor Cibinong dalam menghubungkan tradisi pesantren dengan pembinaan generasi muda. Dengan semangat “Hari Santri, Santri Mengabdi, Negeri Berkemajuan,” kegiatan tersebut membawa pesan bahwa kecintaan terhadap agama dan bangsa perlu diwujudkan melalui pembelajaran, pelestarian tradisi, dan pengabdian nyata.
Hari Santri bukan hanya tentang mengenang sejarah, tetapi juga melanjutkan perjuangan. Dari pesantren, melalui tradisi, dan dengan semangat pengabdian, generasi santri diharapkan terus mengambil bagian dalam menjaga agama, merawat budaya, serta membangun Indonesia yang lebih baik.***





Tinggalkan Balasan