PCNU Purwakarta: Kiai Harus Jadi Benteng Moral Bangsa

|

GUGAH — Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Purwakarta, mengajak masyarakat menjadikan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai momentum memperkuat akhlak, menjaga persatuan, dan meneguhkan komitmen kebangsaan di tengah maraknya hoaks, fitnah, dan polarisasi sosial.

Pesan itu disampaikan Ketua Tanfidziyah MWC NU Kecamatan Wanayasa, KH Anhar Haryadi, dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah, Haul Masyayikh Kecamatan Wanayasa, sekaligus menyambut Hari Santri Nasional 2026 di Alun-alun Wanayasa, Sabtu (3/10/2026).

Menurut KH Anhar, Maulid Nabi merupakan ungkapan syukur atas diutusnya Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa risalah dan petunjuk bagi umat manusia. Namun, rasa syukur itu harus diwujudkan melalui keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga:  DPR Dukung Audit Forensik Dana Haji, Minta Pemerintah Buka Dasar Hukum dan Tujuannya

“Melalui Maulid Nabi, kita diajak meneladani akhlak Rasulullah yang menjadi rahmat bagi seluruh alam, tanpa membedakan agama, ras, bahasa, maupun warna kulit. Semua makhluk Allah harus disayangi,” ujar KH Anhar.

KH Anhar Haryadi / Foto: Dok. Gugah.co

Ia mengajak masyarakat membangun budaya tabayun serta menjauhi hoaks, fitnah, dan berbagai perilaku tercela (madzmumah) yang dapat merusak persaudaraan.

“Meneladani Rasulullah berarti menjauhkan masyarakat dari hoaks, fitnah, dan segala sifat madzmumah. Akhlak Nabi harus menjadi pegangan dalam kehidupan bermasyarakat,” tegasnya.

Baca Juga:  Maulid Nabi Bayongbong Dirangkai Santunan Yatim dan Layanan Kesehatan

KH Anhar juga menyebut kecintaan Rasulullah terhadap tanah kelahirannya sebagai teladan dalam membangun semangat kebangsaan. Menurutnya, cinta tanah air merupakan tanggung jawab moral untuk menjaga persatuan, kedamaian, dan keutuhan bangsa.

MWC NU Wanayasa berharap Maulid Nabi tidak berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi mendorong penerapan akhlak Rasulullah dalam bermedia sosial, menghargai perbedaan, dan menjaga persatuan.

Tema peringatan tahun ini menegaskan pesan tersebut: “Perayaan Maulid Nabi tidak membutuhkan hadis yang sahih, tetapi membutuhkan hati yang sahih (bersih).”

Sementara itu, Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Purwakarta, KH Ahmad Anwar Nasihin, mengingatkan warga NU agar tidak berpuas diri dengan kebesaran organisasi. Menurutnya, NU harus hadir melalui peran ulama dan pengurus dalam menjaga akhlak serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Baca Juga:  Puluhan Motor Disdik Purwakarta Raib, Negara Tekor Ratusan Juta

“Jangan bangga hanya karena Nahdlatul Ulama itu besar. Yang lebih penting adalah bagaimana para ulama dan kiai mampu menjadi benteng moral dan akhlak bangsa,” kata KH Ahmad Anwar Nasihin.

Ia mendorong jajaran MWC NU meningkatkan kapasitas agar mampu berbicara tentang kesejahteraan, idealisme, dan kebenaran.

“Kita harus terus meningkatkan kemampuan agar mampu berbicara tentang kesejahteraan, idealisme, dan kebenaran. Itu yang harus terus digagas sehingga kehadiran Nahdlatul Ulama benar-benar dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ujarnya.***

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran