Dukung Swasembada Pangan, BRIN Panen Benih Padi Varietas Unggul di Pusakajaya Subang

SUBANG – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar panen benih padi varietas unggul di areal pertanian CV Fiona Benih Mandiri, Pusakajaya, Subang, pada Minggu (3/5/2026). Kegiatan ini merupakan wujud nyata kerja sama antara BRIN dan sektor swasta dalam mengembangkan empat varietas unggul, yakni Tropiko, Bestari, Inpari Sidenuk, dan Sinar.

Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan, Puji Lestari, menjelaskan bahwa benih padi bersertifikat memiliki label warna yang menunjukkan tingkat kemurnian serta tahapan perbanyakannya. Jenjang ini dimulai dari Label Kuning (Breeder Seed) yang merupakan benih penjenis dengan tingkat kemurnian tertinggi yang dipanen pada kegiatan kali ini.

Baca Juga:  Jaga Stabilitas Harga di Pasaran, Bulog Distribusikan MinyaKita

Selanjutnya terdapat Label Putih (Foundation Seed) sebagai benih dasar hasil perbanyakan dari label kuning, disusul oleh Label Ungu (Stock Seed) yang berfungsi sebagai benih pokok, dan diakhiri dengan Label Biru (Certified Seed) sebagai benih sebar yang paling umum digunakan petani untuk produksi massal.

“Yang kita panen hari ini adalah benih penjenis label kuning, yang nantinya diharapkan bisa berlanjut menjadi label putih, ungu, hingga biru,” terang Puji Lestari.

Direktur Perbenihan Tanaman Pangan, Dr. Ir. Ladiyani Retno Widowati, menegaskan bahwa empat varietas unggul ini sudah resmi dilepas ke pasar. Petani dapat memperoleh benih tersebut di toko-toko pertanian terdekat. Puji Lestari menambahkan bahwa meyakinkan petani membutuhkan bukti nyata, mulai dari produktivitas, rasa, hingga konsistensi produksi di lapangan.

Baca Juga:  Harga Pangan Nasional dan Jawa Barat: Lonjakan Harga Cabai Merah Besar di Tengah Stabilitas Beras

Kepala BRIN, Prof. Dr. Arif Satria, menekankan pentingnya riset yang langsung menyentuh kebutuhan pasar dan petani. BRIN terus melakukan uji coba hingga tahap Praktik Pengelolaan Terbaik (PPT) agar varietas hasil riset kampus dan lembaga penelitian dapat segera diimplementasikan di sawah-sawah petani.

“Tugas kami adalah melakukan riset dan uji coba hingga muncul Praktik Pengelolaan Terbaik tanaman,” ujar Prof. Arif. Beliau juga menyoroti tantangan Smart Farming di era digital, di mana mekanisasi serta teknologi karya anak bangsa harus dimanfaatkan secara masif.

Baca Juga:  Harga Beras di Purwakarta Melonjak Tajam, Petani Keluhkan Biaya Produksi dan Faktor Cuaca

Meskipun benih yang digunakan adalah varietas unggul, Prof. Arif mengingatkan bahwa keberhasilan pertanian tetap dipengaruhi oleh ekosistem yang kondusif. Hal tersebut meliputi penerapan teknik budidaya yang tepat serta sistem pengairan yang baik. Selain itu, faktor kesehatan tanah, ketersediaan pupuk, hingga penggunaan Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan) juga menjadi elemen krusial dalam menunjang produktivitas lahan.

“Kemajuan pertanian Indonesia diwujudkan melalui padi yang unggul, teknik yang lebih baik, serta kemampuan kita beradaptasi terhadap perubahan,” pungkasnya. Rangkaian kegiatan ini ditutup dengan kunjungan tim ke Kampung Inovasi IPB di wilayah Kecamatan Compreng.***

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *