GUGAH – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf mengingatkan pesantren agar terus beradaptasi dengan perubahan zaman. Menurutnya, kemampuan menyesuaikan diri dengan perkembangan sosial dan teknologi menjadi kunci agar pesantren tetap relevan sebagai lembaga pendidikan Islam di masa depan.
Pesan tersebut disampaikan Gus Yahya saat menghadiri kampanye “Pesantrenku Aman” di Pondok Pesantren Muqimus Sunnah, Palembang, Sabtu (25/7/2026).
Menurutnya, masyarakat saat ini mengalami perubahan yang berlangsung sangat cepat. Perkembangan teknologi digital, internet hingga kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) menghadirkan tantangan baru yang tidak pernah dihadapi generasi sebelumnya.
“Kita harus berpikir tentang bagaimana pesantren ini harus dikembangkan agar tetap dapat berfungsi secara optimal, berfungsi secara relevan dengan realitas baru dari abad kedua ini. Karena saat ini, kita menyaksikan perubahan-perubahan yang luar biasa di tengah-tengah masyarakat. Hal-hal baru yang hadir yang belum pernah kita temui sebelumnya, dan kecepatan perubahan yang semakin meningkat,” ujar Gus Yahya.
Gus Yahya mencontohkan pesatnya perkembangan teknologi komunikasi, mulai dari telepon putar, telepon rumah, telepon genggam hingga smartphone yang kini terus berkembang hanya dalam hitungan bulan.
Perubahan tersebut, kata dia, menunjukkan bahwa dunia bergerak semakin cepat sehingga setiap institusi, termasuk pesantren, dituntut mampu menyesuaikan diri.
“Masa depan bagi kita hari ini akan terasa semakin mengancam. Karena masa depan seolah-olah semakin cepat datangnya,” ungkapnya.
Ia menegaskan, kemampuan bertahan sebuah lembaga bukan ditentukan oleh besarnya organisasi ataupun kuatnya tradisi yang dimiliki, melainkan oleh kemampuannya beradaptasi terhadap perubahan lingkungan.
“Kalau lingkungan berubah, supaya entitas ini masih berguna, dia harus juga ikut berubah. Harus beradaptasi. Kalau dia gagal beradaptasi, maka dia akan kehilangan relevansi, akan menjadi tidak berguna, bahkan punah,” katanya.
Untuk memperjelas pandangannya, Gus Yahya mengibaratkan proses adaptasi dengan sejarah kehidupan makhluk purba. Menurutnya, banyak spesies besar akhirnya punah karena tidak mampu mengikuti perubahan alam.
“Kemampuan bertahan di tengah-tengah perubahan itu tidak tergantung pada kebesaran, tidak tergantung pada kekuatan, tetapi tergantung pada kemampuan beradaptasi,” terang Gus Yahya.
Meski demikian, Gus Yahya mengingatkan bahwa transformasi tidak boleh menghilangkan identitas pesantren. Adaptasi harus dilakukan dengan tetap menjaga nilai-nilai dasar yang menjadi ruh pendidikan pesantren.
Karena itu, ia menilai langkah pertama dalam membangun transformasi adalah memahami terlebih dahulu jati diri pesantren sebelum merumuskan perubahan pada aspek kurikulum, metode pendidikan, tata kelola, maupun infrastruktur.
“Kalau kita ingin ada pesantren yang masih bisa disebut pesantren, yang mampu bertransformasi untuk beradaptasi dengan dunia baru, pertama-tama kita harus paham apa inti dari pesantren,” tutupnya.***



Tinggalkan Balasan