GUGAH – Banyak lulusan baru (fresh graduate) khawatir masa menganggur setelah wisuda akan menjadi penghalang saat melamar pekerjaan. Di tengah persaingan kerja yang semakin ketat dan terbatasnya lapangan pekerjaan, kekhawatiran tersebut memang cukup beralasan.
Namun, benarkah lama menganggur bisa memengaruhi peluang diterima bekerja?
Mentor Karier sekaligus Founder Qualifin.id, Muhammad Ghithrif Gustomo Putra, mengatakan bahwa masa menganggur memang menjadi salah satu hal yang diperhatikan oleh rekruter. Meski demikian, faktor yang lebih penting adalah bagaimana pelamar memanfaatkan waktu tersebut.
“Pastinya ngaruh, tapi kita harus bisa membela diri dan meyakinkan rekruter terkait alasan masih nganggur atau belum dapat kerja,” kata Ghithrif kepada Kompas.com, Kamis (18/6/2026).
Menurut Ghithrif, perusahaan umumnya akan memperhatikan riwayat pendidikan, pengalaman, serta jeda waktu antara kelulusan dan proses melamar kerja.
Namun, HR tidak hanya menilai apakah seseorang belum bekerja, melainkan juga alasan di balik kondisi tersebut. Karena itu, pelamar harus mampu menjelaskan situasinya secara jujur sekaligus menunjukkan bahwa dirinya tetap produktif selama menunggu pekerjaan.
Kemampuan menjelaskan pengalaman dan aktivitas yang dilakukan selama masa menganggur dapat menjadi nilai tambah di mata perusahaan.
Masih dikutip dari Kompas.com, Ghithrif menegaskan bahwa banyak orang keliru menganggap perusahaan hanya mencari kandidat yang memiliki pengalaman kerja panjang.
“HR itu sebenarnya tidak terlalu strict mengharuskan seseorang punya pengalaman yang lama. Asalkan pelamar bisa memberikan bukti yang kuat kalau dirinya punya kemampuan untuk bekerja,” ujarnya.
Menurutnya, yang lebih penting adalah kompetensi dan kesiapan pelamar dalam menjalankan pekerjaan.
Kemampuan tersebut bisa dibuktikan melalui pengalaman organisasi, proyek selama kuliah, portofolio, pelatihan, sertifikasi, maupun kegiatan lain yang relevan dengan posisi yang dilamar.
Ghithrif juga menekankan bahwa aktivitas yang dilakukan setelah lulus akan menjadi pembeda antara satu kandidat dengan kandidat lainnya.
Ia menyarankan lulusan baru memanfaatkan waktu luang untuk mengikuti pelatihan, memperoleh sertifikasi, magang, menjadi relawan, membangun portofolio, atau bahkan membantu mengelola usaha keluarga.
“Apabila belum dapat tawaran kerja, tapi waktu yang ada dimanfaatkan untuk ikut pelatihan, sertifikasi, atau membantu mengelola bisnis, maka bisa jadi poin plus,” katanya.
Sebaliknya, jika selama masa menganggur seseorang tidak melakukan aktivitas apa pun, kondisi tersebut akan lebih sulit dijelaskan kepada rekruter.
“Kalau belum dapat kerja dan hanya diam di rumah, tidak ada kegiatan lain, maka akan sulit dan tidak ada sesuatu yang bernilai di mata rekruter,” ujar Ghithrif.
Bagi fresh graduate, masa menganggur sebaiknya tidak dipandang sebagai waktu yang terbuang. Justru periode tersebut dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kompetensi, memperluas pengalaman, dan mempersiapkan diri agar lebih siap bersaing ketika peluang kerja datang.
Dengan demikian, jeda waktu setelah lulus bukan semata-mata menjadi catatan negatif, tetapi bisa berubah menjadi nilai tambah apabila diisi dengan kegiatan yang produktif dan relevan.***



Tinggalkan Balasan