GUGAH – Di tengah derasnya arus konten hiburan di media sosial, seorang santri muda asal Kabupaten Purwakarta memilih jalan berbeda. Ia memanfaatkan ruang digital bukan untuk mengejar sensasi, melainkan untuk menebarkan ilmu dan membangun kepercayaan diri generasi muda melalui dunia public speaking.
Sosok itu adalah Chandra Aditya Nurriefan, pengurus PC Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kabupaten Purwakarta yang juga berprofesi sebagai pendidik di SMA Al Badar Cipulus.
Bagi Chandra, kemampuan berbicara di depan umum bukan sekadar keterampilan tambahan. Menurutnya, kemampuan menyampaikan gagasan dengan baik merupakan bekal penting bagi pelajar, santri, aktivis organisasi, hingga masyarakat umum untuk menghadapi tantangan zaman.
Karena itulah, dalam beberapa tahun terakhir, ia secara konsisten membagikan materi edukasi seputar public speaking dan pengembangan diri melalui berbagai platform media sosial seperti WhatsApp, Instagram, TikTok, Facebook, hingga YouTube.
Menebar Ilmu dari Layar Ponsel
Di tengah kesibukannya sebagai aktivis organisasi dan pendidik, Chandra terus memproduksi konten edukatif secara rutin.
Hingga saat ini, puluhan materi public speaking telah ia unggah dalam bentuk video pembelajaran yang mudah dipahami oleh berbagai kalangan. Namun baginya, angka tersebut masih jauh dari target yang ingin dicapai.
Ia bertekad menghadirkan lebih dari 100 materi edukasi yang dapat diakses secara gratis oleh masyarakat.
Langkah tersebut berangkat dari keyakinannya bahwa ilmu akan lebih bermanfaat ketika dibagikan secara luas dan dapat menjangkau siapa saja tanpa batas ruang maupun waktu.
Teori yang Dibuktikan di Lapangan
Menariknya, Chandra tidak hanya berbicara tentang teori.
Melalui akun media sosialnya, ia juga kerap membagikan dokumentasi saat tampil sebagai pembicara, moderator, pemandu acara, maupun fasilitator dalam berbagai kegiatan organisasi, pendidikan, dan kemasyarakatan.
Video-video tersebut menjadi bukti nyata bagaimana ilmu yang ia bagikan diterapkan langsung dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi para pengikutnya, konten semacam itu menjadi sumber inspirasi sekaligus pembelajaran praktis tentang cara membangun kepercayaan diri saat berbicara di depan publik.
Mengemas Edukasi dengan Cara Kreatif
Agar materi yang disampaikan tidak terasa membosankan, Chandra terus berinovasi dalam menyajikan kontennya.
Selain video edukasi, ia mulai mengembangkan format podcast singkat yang membahas berbagai aspek public speaking dengan gaya yang lebih santai dan dekat dengan generasi muda.
Tidak berhenti di situ, ia juga menghadirkan materi dalam bentuk poster visual yang dirancang menarik dengan sentuhan budaya Nusantara.
Beragam ilustrasi pakaian adat dan elemen kebudayaan Indonesia dipadukan dengan pesan-pesan edukatif mengenai komunikasi dan pengembangan diri.
Melalui pendekatan tersebut, Chandra berharap audiens tidak hanya belajar berbicara di depan umum, tetapi juga semakin mengenal kekayaan budaya bangsa.
Tak Pernah Berhenti Menjadi Murid
Meski aktif mengajar dan berbagi ilmu, Chandra mengaku dirinya masih terus belajar.
Ia rutin mengikuti berbagai pelatihan, seminar, dan workshop yang menghadirkan para praktisi serta public speaker nasional sebagai narasumber.
Baginya, proses belajar tidak mengenal titik akhir. Semakin banyak pengalaman dan wawasan yang diperoleh, semakin besar pula manfaat yang dapat dibagikan kepada orang lain.
Prinsip itulah yang membuatnya terus berkembang dan mampu menghadirkan materi yang relevan dengan kebutuhan generasi muda saat ini.
Membangun Ruang Belajar Bersama
Perjalanan Chandra dalam dunia public speaking akhirnya melahirkan sebuah gagasan yang lebih besar.
Ia menggagas berdirinya Komunitas Public Speaking Peperepetan Bancet, sebuah wadah yang dirancang untuk menjadi ruang belajar bersama bagi pelajar, santri, aktivis organisasi, dan anak muda yang ingin mengasah kemampuan komunikasi.
Melalui komunitas tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga kesempatan untuk berlatih secara langsung, membangun keberanian, dan meningkatkan kemampuan berbicara di depan publik.
Keberadaan komunitas ini menjadi bukti bahwa semangat berbagi ilmu yang dibangun Chandra tidak berhenti di ruang digital, tetapi juga diwujudkan dalam gerakan nyata di tengah masyarakat.
Menjadi Inspirasi di Era Digital
Di tengah tantangan era digital yang serba cepat, langkah yang ditempuh Chandra menunjukkan bahwa media sosial dapat menjadi sarana produktif untuk membangun budaya literasi dan pengembangan diri.
Sebagai santri, aktivis muda NU, sekaligus pendidik, ia membuktikan bahwa generasi muda mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa kehilangan nilai-nilai pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat.
Melalui video, podcast, poster edukasi, hingga komunitas yang dibangunnya, Chandra terus mengajak anak-anak muda untuk berani menyampaikan gagasan, membangun kepercayaan diri, dan menjadi pribadi yang bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Sebab baginya, perubahan besar sering kali dimulai dari satu hal sederhana: keberanian untuk berbicara dan menyuarakan ide yang membawa kebaikan.



Tinggalkan Balasan