GUGAH – Kasus penembakan menggunakan senapan angin yang menyebabkan seorang siswa SMA di Kabupaten Garut kehilangan fungsi penglihatan pada mata kirinya terus menuai perhatian. Anggota Komisi V DPRD Jawa Barat, Aten Munajat, mendesak aparat kepolisian segera mengungkap kasus tersebut dan memastikan pelaku mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum.
Menurut Aten, insiden yang menimpa Pazwa Pahaludin (15), pelajar asal Kecamatan Cilawu, bukan sekadar tindak kekerasan biasa, tetapi menjadi alarm serius terkait lemahnya pengawasan terhadap penggunaan senapan angin di tengah masyarakat.
“Kami mendorong aparat kepolisian agar segera mengungkap kasus ini dan menangkap pelaku untuk diproses sesuai hukum yang berlaku,” kata Aten, Rabu (7/10/2026).
Aten menilai penggunaan air gun secara sembarangan memiliki potensi membahayakan keselamatan jiwa. Karena itu, penanganan kasus tidak boleh berhenti pada proses penangkapan pelaku semata, tetapi juga harus menjadi momentum untuk mengevaluasi pengawasan terhadap kepemilikan dan penggunaan senjata angin.
“Saya sangat prihatin dan mengecam kejadian penembakan terhadap siswa SMA di Garut yang mengakibatkan korban mengalami luka serius pada bagian mata,” ujarnya.
Ia menegaskan, peredaran dan penggunaan senapan angin yang tidak terkendali berpotensi menimbulkan korban baru apabila tidak diawasi secara ketat.
“Ini bukan persoalan sepele. Penggunaan air gun secara sembarangan dapat membahayakan bahkan mengancam keselamatan jiwa,” tegasnya.
Selain mendorong penegakan hukum, Aten meminta pemerintah daerah memastikan korban memperoleh layanan kesehatan secara maksimal hingga proses pemulihan selesai.
Pazwa saat ini masih menjalani penanganan medis setelah proyektil logam mengenai mata kirinya. Korban sebelumnya dirujuk ke Rumah Sakit Mata Cicendo, Bandung, untuk menjalani operasi setelah pemeriksaan menemukan benda logam masih bersarang di dalam bola mata.
Menurut Aten, pendampingan terhadap korban juga perlu mencakup aspek psikologis agar proses pemulihan tidak hanya berfokus pada kondisi fisik.
Legislator asal daerah pemilihan Garut itu juga mengajak seluruh pihak, mulai dari sekolah, keluarga hingga masyarakat, meningkatkan pengawasan terhadap lingkungan pergaulan anak.
Ia menilai pencegahan menjadi langkah penting agar kasus serupa tidak kembali terjadi.
“Kami juga mengajak sekolah, orang tua, dan masyarakat untuk meningkatkan pengawasan terhadap pergaulan anak serta segera melaporkan apabila menemukan penggunaan senjata atau benda berbahaya,” katanya.
Sebelumnya, keluarga korban telah melaporkan peristiwa tersebut kepada kepolisian. Satreskrim Polres Garut kini masih melakukan penyelidikan dan memburu terduga pelaku.
Insiden terjadi saat korban menghadiri kegiatan reuni alumni SMP di Kecamatan Sukawening pada Sabtu, 26 September 2026. Berdasarkan keterangan yang telah disampaikan sebelumnya oleh pihak pendamping korban, pelaku diduga datang tanpa undangan dan melepaskan tembakan menggunakan air gun yang mengenai dua orang, termasuk Pazwa yang mengalami luka berat pada mata kirinya.***





Tinggalkan Balasan