Rupiah Loyo ke Rp17.669 per Dolar AS, IHSG Terjun Bebas 2 Persen ke Level 6.186

JAKARTA – Gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara mengejutkan berbalik arah ke zona merah pada sesi perdagangan pagi hari ini, Kamis (21/5/2026).

Dikutip dari laman Bloomberg, indeks langsung rontok hingga 2 persen lebih dan terperosok ke posisi 6.186,21 akibat dipicu tekanan hebat pelemahan mata uang rupiah.

Nilai tukar rupiah di pasar spot dilaporkan kembali ambruk sebesar 0,36 persen ke level Rp17.669 per dolar AS pada pukul 10.00 WIB, yang memicu kekhawatiran pasar karena kembali mendekati rekor level terendah sepanjang sejarah (all-time low).

Kejatuhan indeks bursa domestik kian diperparah oleh aksi lepas saham secara masif pada sejumlah emiten berkapitalisasi besar (big caps).

Sektor barang baku, infrastruktur, dan transportasi menjadi tiga sektor pemukul utama yang mencatatkan koreksi paling dalam, di mana masing-masing sektor terpangkas sebesar 5,25 persen, 3,53 persen, dan 3,51 persen.

Baca Juga:  IHSG Terperosok ke Zona Merah Menjelang Rilis PDB Kuartal I-2026 di Tengah Eskalasi Konflik Global

Berdasarkan data operasional Bursa Efek Indonesia (BEI), rentang volatilitas pergerakan indeks hari ini merosot dari titik tertinggi di level 6.378 hingga menyentuh titik terlemahnya di posisi 6.177.

Total nilai transaksi harian sejauh ini telah membukukan angka Rp5,57 triliun dari 10,66 miliar lembar saham yang diperjualbelikan melalui frekuensi padat mencapai 659 ribu kali transaksi.

Kepanikan pasar tercermin jelas dari rontoknya harga 502 saham secara bersamaan, sementara hanya ada 169 saham yang mampu bertahan menguat, dan 132 saham lainnya bergerak stagnan.

Berikut adalah jajaran emiten berbobot raksasa (heavyweight) yang menjadi biang kerok amblasnya IHSG pada perdagangan tengah hari ini:

  1. PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA): Ambles 11,23 persen.
  2. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN): Merosot 9,68 persen.
  3. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS): Anjlok 9,09 persen.
  4. PT Barito Pacific Tbk (BRPT): Turun tajam 8,72 persen.
  5. PT Astra International Tbk (ASII): Melemah 4,61 persen.
Baca Juga:  BREAKING NEWS: IHSG Anjlok 4 Persen ke Level 6.440

Para analis menilai derasnya tekanan terhadap rupiah disebabkan oleh kekhawatiran inflasi global akibat lonjakan harga minyak mentah yang otomatis memicu kenaikan imbal hasil (yield) obligasi global.

Kondisi makroekonomi tersebut memicu risiko pelarian modal keluar (capital outflow) dari kawasan regional Asia, termasuk dari pasar keuangan Indonesia.

“Dalam jangka pendek, mata uang Asia kemungkinan masih akan diperdagangkan dalam posisi yang lebih lemah,” ungkap Christopher Wong, Strategist dari Oversea-Chinese Banking Corp (OCBC).

Baca Juga:  IHSG Dibuka Anjlok ke Bawah 6.000 pada Perdagangan Pagi Ini

Meskipun Bank Indonesia telah mengambil langkah agresif dengan mengerek BI Rate sebesar 50 basis poin ke level 5,25 persen demi memprioritaskan stabilitas kurs, efektivitasnya dinilai masih sangat bergantung pada faktor eksternal.

Dari sisi domestik, pasar juga mulai mengkhawatirkan kerapatan ruang fiskal nasional setelah Presiden Prabowo Subianto blak-blakan menyoroti rendahnya rasio penerimaan negara Indonesia yang masih tertahan di angka 11–12 persen dari PDB.

Angka tersebut jauh tertinggal dibandingkan Filipina yang mencapai 21 persen atau Meksiko di level 25 persen, sehingga memicu persepsi risiko yang tinggi di mata investor asing di tengah situasi geopolitik global yang tidak menentu.***

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran