Petugas Haji 2024: Gus Yaqut Miliki Komitmen Tinggi Utamakan Keselamatan Jemaah Lansia

|

gugah.co – Perhatian Yaqut Cholil Qoumas (Gus Yaqut) saat menjabat Menteri Agama, terhadap keselamatan jemaah lanjut usia (lansia) dalam penyelenggaraan ibadah haji 2024, sangat luar biasa. Program Haji Ramah Lansia bukan sekadar slogan, melainkan diwujudkan secara nyata.

Hal itu terungkap dalam kesaksian Dendi Wijaya Saputra, Koordinator Petugas Lansia Sektor 10 Misfalah, Makkah, pada tahun 2024, saat memberikan keterangan dalam sidang perkara dugaan korupsi kuota haji tambahan 2023-2024 di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (4/11/2026) malam.

Di hadapan majelis hakim, Dendi menceritakan bagaimana Kementerian Agama di bawah kepemimpinan Gus Yaqut benar-benar mempersiapkan petugas haji agar mampu memberikan pelayanan khusus kepada jemaah lansia, termasuk mereka yang sakit, mengalami demensia, hingga hanya bisa terbaring di tempat tidur.

Menurut Dendi, keseriusan tersebut sudah terlihat sejak proses bimbingan teknis (bimtek) petugas haji. Selama tujuh hari berturut-turut, para petugas mendapatkan pembekalan sejak selesai sahur hingga tengah malam.

Materi yang diberikan tidak hanya berkaitan dengan pelayanan ibadah, tetapi juga keterampilan merawat jemaah lansia. Bahkan petugas dilatih mengganti popok, memandikan, menyuapi makanan, menyikat gigi, hingga teknik mengangkat dan memindahkan jemaah dari tempat tidur ke kursi roda.

Baca Juga:  Ratusan Relawan Gus Yaqut dari Berbagai Daerah Lakukan Ini di PN Jakpus

“Saya diberikan SOP bagaimana menangani lansia. Kategori lansia, yang mempunyai risiko tinggi dan lain sebagainya. Melalui instruktur-instruktur itu, saya bisa tahu bagaimana mengganti popok, memandikan jemaah, menyuapi, menyikat giginya dan lain sebagainya,” kata Dendi.

Dendi mengaku awalnya tidak memiliki ekspektasi berlebihan terhadap program tersebut. Bahkan, dia mengaku pernah memiliki pandangan kritis terhadap Gus Yaqut ketika melihat pemberitaan di media.

Namun, pandangannya berubah setelah mengikuti langsung pembekalan petugas haji.

“Ternyata ketika saya ikut bimtek haji, Pak Menteri (Gus Yaqut) ini luar biasa. Saya lihat dalam manajemen pengelolaan pelayanan haji, terutama lansia,” ucapnya.

Dia menilai arahan yang diberikan bukan sekadar formalitas atau pencitraan. Sebab, materi pelatihan tersebut benar-benar diterapkan ketika para petugas tiba di Arab Saudi.

Dendi mencontohkan keseriusan pelayanan lansia ketika dirinya bersama petugas lain melakukan pemeriksaan fasilitas hotel di kawasan Misfalah, Makkah.

Sebagai koordinator lansia, dia bertanggung jawab memastikan fasilitas yang akan ditempati jemaah memenuhi kebutuhan kelompok rentan, mulai dari tempat tidur, sirkulasi udara, pendingin ruangan, pencahayaan, lift hingga kebersihan.

Dalam pemeriksaan tersebut, Dendi menemukan sebuah hotel yang dinilai tidak layak untuk ditempati jemaah lansia. Kondisi hotel berdebu, sejumlah kasur rusak dan karpet yang tidak memenuhi standar kebersihan.

Baca Juga:  33 Anak PAUD di Garut Tak Terima MBG Lebih dari Tiga Pekan, BGN Diminta Jelaskan Penyebabnya

Dia pun menolak hotel tersebut digunakan sebelum dilakukan perbaikan.

Dendi bahkan sempat berselisih dengan pengelola hotel. Namun, sikap tegas Gus Yaqut membuahkan hasil. Pengelola akhirnya mengganti kasur-kasur yang rusak di hotel tersebut, mulai lantai satu hingga lantai 20, serta mengganti karpet di setiap lantai.

Bagi Dendi, pengalaman itu menjadi bukti bahwa arahan yang diterima selama bimtek benar-benar dijalankan hingga ke lapangan.

Pelayanan Lansia Harus Lebih dari Sekadar Slogan

Dalam kesaksiannya, Dendi juga mengungkapkan bahwa pelayanan lansia membutuhkan perencanaan yang sangat terperinci. Tidak cukup hanya menyediakan petugas dan fasilitas kesehatan.

Kementerian Agama, kata dia, juga memperhatikan kebutuhan makanan berdasarkan kondisi kesehatan jemaah. Sebelum jemaah tiba, petugas berkoordinasi dengan ketua kloter untuk mendata siapa yang membutuhkan bubur, memiliki alergi makanan, atau memerlukan penanganan khusus.

Bahkan, jumlah kursi roda yang disiapkan harus lebih banyak daripada data awal dari embarkasi. Sebab, perjalanan panjang menuju Arab Saudi dapat menyebabkan jemaah yang sebelumnya tidak masuk kategori lansia atau berisiko tinggi mengalami penurunan kondisi fisik.

Baca Juga:  Dilaporkan Hilang, Gadis Asal Tasikmalaya Ditemukan di Apartemen dengan HP Baru

Dendi mencontohkan, jika laporan awal menyebutkan terdapat 20 jemaah pengguna kursi roda, pihaknya bisa menyiapkan hingga 50 kursi roda untuk mengantisipasi perubahan kondisi jemaah setelah perjalanan belasan jam.

Dia juga menginisiasi kegiatan senam haji di sekitar hotel untuk menjaga kebugaran dan mengurangi risiko stres akibat keterbatasan ruang serta pencahayaan di lingkungan penginapan.

Dendi menilai penyelenggaraan haji 2024 memiliki pengelolaan pelayanan yang lebih teratur. Namun, dia menilai bahwa penambahan kuota jemaah harus memperhitungkan kapasitas pelayanan di lapangan.

“Saya membayangkan kalau ditambah lagi 10 ribu. Dengan kapasitas begitu saja, kita menyiasati atau memanajemennya sudah luar biasa,” bebernya.

Dia juga mengungkapkan bahwa pengalaman menjadi petugas haji 2024 membuatnya menyaksikan langsung perubahan kondisi jemaah yang mendapatkan pendampingan intensif.

Menurut Dendi, salah satu indikator keberhasilan pelayanan adalah respons jemaah ketika meninggalkan Makkah menuju Madinah. Banyak jemaah yang menyampaikan terima kasih, bahkan menangis ketika harus berpisah dengan petugas yang selama ini merawat mereka.

“Menurut saya, 2024 itu pelayanan haji terbaik sepanjang sejarah. Hampir semua jemaah di sektor saya berterima kasih. Ketika meninggalkan Tanah Suci, hampir semuanya menangis,” katanya.*

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran