GARUT – Pusat Kota Garut seakan berubah menjadi lautan manusia pada Selasa (5/5/2026). Ribuan warga memadati sepanjang jalur yang dilalui Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda 2026, menciptakan suasana yang bukan hanya meriah, tetapi juga sarat akan kehangatan dan kebanggaan akan identitas budaya.
Di tengah kemeriahan tersebut, sorotan utama tertuju pada sosok Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang hadir memimpin langsung prosesi. Tampil gagah menunggangi kuda putih, ia memimpin iring-iringan dari Markas Korem 062/Tarumanagara menuju Pendopo Garut, menjadi magnet yang menyedot perhatian dan kasih sayang masyarakat.
Sepanjang ruas Jalan Ahmad Yani, teriakan dukungan dan sapaan akrab bergema tak henti. Seruan spontan seperti “Pak Dedi, Bapak Aing!” menjadi bukti nyata betapa dekatnya figur pemimpin ini di hati rakyat.
Sapaan tersebut bukan sekadar pujian, melainkan simbol pengakuan bahwa Dedi Mulyadi hadir bukan hanya sebagai pejabat, melainkan sebagai bagian dari keluarga besar masyarakat yang peduli dan melestarikan nilai-nilai luhur. Dari atas kudanya, Dedi Mulyadi terus menyapa, tersenyum, dan melambaikan tangan, memperkuat ikatan batin yang terjalin begitu erat di tengah kerumunan.
Kirab Milangkala kali ini memiliki makna yang sangat dalam. Ia bukan sekadar pawai atau seremoni tahunan, melainkan sebuah pernyataan bahwa kepemimpinan yang kuat harus berakar pada budaya dan tradisi.
Dedi Mulyadi hadir sebagai jembatan, menegaskan bahwa menjadi pemimpin berarti juga menjadi penjaga jati diri bangsa. Dalam balutan busana dan tata cara yang kental dengan nuansa Sunda, ia menampilkan sosok pemimpin yang menghormati leluhur sekaligus memahami hati rakyat.
“Kehadiran kepala daerah dalam balutan budaya dinilai memperkuat pesan bahwa kepemimpinan tidak bisa dilepaskan dari akar kultural,” demikian makna yang tersirat dari peristiwa bersejarah ini.
Rangkaian acara mencapai puncaknya di Pendopo Garut dengan prosesi penyambutan Mahkota Binokasih yang berlangsung sangat khidmat dan penuh penghormatan. Suasana yang tadinya riuh dan meriah, berubah menjadi hening dan sakral, menandai penutupan perjalanan napak tilas yang penuh makna.
Momentum ini menjadi pengingat yang indah bahwa di tengah gempuran modernisasi, tradisi dan budaya tetap memiliki tempat yang istimewa di hati masyarakat.
Membludaknya jumlah warga yang hadir mengirimkan pesan yang sangat jelas. Masyarakat merindukan figur pemimpin yang hadir bukan hanya dalam bentuk kebijakan di atas kertas, tetapi juga hadir dalam ruang budaya, emosi, dan identitas bersama.
Kirab Milangkala Tatar Sunda 2026 pun akhirnya menjadi bukti hidup bahwa ketika budaya dan kepemimpinan bersatu, maka terciptalah harmoni yang luar biasa antara rakyat dan pemimpinnya.*



Tinggalkan Balasan