Kabupaten Garut senantiasa menjadi rahim bagi lahirnya ulama-ulama besar yang memegang teguh sanad keilmuan Nusantara. Salah satu pilar kharismatik yang jejak dakwahnya masih terasa hingga hari ini adalah KH. Ahmad Sobana, atau yang lebih akrab disapa Abah Bana. Lahir pada tahun 1907 di Kampung Patrol, Desa Dangdeur, Banyuresmi, Abah Bana tumbuh dalam dekapan keluarga yang memiliki kedalaman ilmu agama dan akhlak mulia.
Sebagai putra dari pasangan KH. Ahmad Ghazali dan Hj. Siti Hajah, ia mewarisi genetika intelektual yang kuat, yang kelak menjadikannya benteng pertahanan manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyah di tanah Sunda selama lebih dari satu abad.
Perjalanan intelektual Abah Bana merupakan prototipe nyata dari tradisi rihlah ilmiah kaum sarungan. Pendidikan awalnya ditempa langsung oleh sang ayah dan pamannya, KH. Syadzili, dengan fokus pada penguasaan kitab-kitab fundamental mulai dari Al-Qur’an hingga ilmu alat seperti Nahwu, Shorof, dan Manthiq.
Tak puas dengan satu sumber, semangat pengembaraannya membawanya menyelami samudera keilmuan di berbagai pesantren legendaris. Selama berpuluh-puluh tahun, ia menimba barokah di institusi besar seperti Pesantren Ciharashas, Gentur, Citawana Singaparna, hingga Pesantren Keresek. Ketekunannya yang luar biasa membuat para masyayikh memberikan kepercayaan penuh kepadanya sebagai badal ngawuruk (pengganti guru mengajar) di usia yang terbilang muda.
Manifestasi dari komitmen keilmuannya kemudian mewujud dalam pendirian Pondok Pesantren Nurudholam pada tahun 1944. Didirikan di ambang kemerdekaan Indonesia, pesantren ini bukan sekadar institusi pendidikan, melainkan pusat kaderisasi santri yang dipersiapkan menjaga tradisi turats (kitab kuning) di tengah arus perubahan zaman.
Hingga masa kewafatannya pada 22 Rajab 1438 H (2017 M), Abah Bana secara konsisten menjaga eksistensi Nurudholam sebagai kawah candradimuka bagi generasi yang alim secara intelektual namun tetap rendah hati dalam pengabdian kepada umat.
Namun, jalan dakwah Abah Bana bukannya tanpa onak. Salah satu fragmen perjuangan yang paling dramatis adalah saat Pesantren Nurudholam dikepung oleh kelompok DI/TII yang memaksakan visi kenegaraan yang berbeda. Dalam suasana mencekam tersebut, terjadi peristiwa heroik saat seorang santri bernama Aceng Abdussomad mencoba melindungi sang kyai dengan bersembunyi di bawah ranjangnya.
Meskipun ia ditemukan dan diperlakukan dengan keras karena disangka sebagai Abah Bana, keberkahan dan perlindungan Tuhan senantiasa menyertai perjuangan ini. Insiden tersebut kini dikenang sebagai bukti keteguhan prinsip sang ulama dalam menjaga moderasi Islam di tengah ancaman radikalisme politik masa itu.
Kekuatan dakwah Abah Bana juga didukung oleh jejaring nasab dan pernikahan yang memperkuat struktur sosial ulamanya. Menikah dengan Siti Maryam, keturunan dari Bani Syekh Nuryayi Garut, Abah Bana semakin memperkokoh kesinambungan sanad keilmuan di wilayah tersebut.
Warisan intelektualnya pun diteruskan secara sistematis melalui kurikulum pesantren yang terstruktur, mulai dari pengajaran Qurrotul ‘Uyun dan Jurumiyah hingga kajian mendalam Tafsir Jalalain dan Alfiyah Ibnu Malik. Estafet kepemimpinan ini kini dilanjutkan oleh putra-putri dan alumni yang telah mendirikan berbagai pondok pesantren baru, seperti Al-Hasani, Nurul Huda, dan Al-Mubarok.
Sebagai penutup dari pengabdian panjangnya, Abah Bana mewariskan petuah-petuah filosofis yang sarat akan makna spiritualitas Sunda. Pesan-pesan seperti, “Sing inget hirup téh ti mana, ayeuna keur di mana, rek mulang ka mana” (Ingatlah hidup itu berasal dari mana, sekarang sedang di mana, dan akan pulang ke mana), menjadi jangkar moral bagi para murid dan jemaahnya.
KH. Ahmad Sobana bukan sekadar seorang ulama; ia adalah mata rantai sejarah yang memastikan bahwa tradisi keilmuan Nahdlatul Ulama tetap tegak, jujur lahir batin, dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat Nusantara.



Tinggalkan Balasan