Maula Akbar Dinilai Lebih Siap Menjaga Kestabilan Purwakarta Dibanding Abang Ijo?

PURWAKARTA – Wacana menyangkut kemungkinan pergantian jabatan Wakil Bupati Purwakarta yang belakangan ini mewarnai percakapan publik, membawa kita pada sebuah perenungan mendalam mengenai kriteria pemimpin yang sejatinya dibutuhkan daerah ini.

Di tengah bermunculannya sejumlah nama yang dinilai layak untuk menduduki posisi strategis tersebut, nama Maula Akbar Mulyadi Putra muncul sebagai salah satu sosok yang mendapat sorotan dan penilaian positif dari pengamat serta kalangan pemerhati politik.

Azhar Al Asy’ari, pendiri komunitas diskursus publik Mata Dialog, sebuah wadah yang senantiasa berupaya menyikapi dinamika bangsa dengan akal sehat dan kebijaksanaan, menyampaikan pandangannya secara objektif.

Menurutnya, jika ditinjau dari sudut pandang kedewasaan dan kematangan berpolitik, sosok Maula Akbar dinilai memiliki bekal dan kesiapan yang jauh lebih baik serta mapan dibandingkan Wakil Bupati Abang Ijo.

Penilaian ini bukan tanpa dasar, mengingat Maula Akbar sendiri merupakan seorang sarjana Ilmu Politik lulusan Universitas Padjadjaran, yang tentu saja memiliki landasan keilmuan yang kokoh dalam memahami seluk-beluk kekuasaan dan pemerintahan.

Bagi Azhar, sebagaimana prinsip dasar ilmu kenegaraan, kematangan seorang pemimpin politik tidaklah semata-mata diukur dari tingginya tingkat popularitas atau kedekatan emosional dengan rakyat semata.

Baca Juga:  Kapolres Sukabumi Pimpin Sertijab Pejabat Utama, AKBP Samian Tuntut Personel Jaga Integritas

Lebih dari itu, kedewasaan politik adalah cerminan dari keteguhan pendirian, konsistensi sikap, kemampuan menjaga harmoni dalam komunikasi, serta kepekaan dan kecakapan dalam membaca arah dan suasana hati masyarakat luas.

“Apabila kita berbicara mengenai sosok yang pantas dan siap menggantikan posisi tersebut, maka Maula Akbar terlihat jauh lebih matang dalam berpolitik. Beliau memiliki alur pembentukan dan pendidikan kaderisasi yang jelas, serta telah lama terbiasa berada dalam lingkungan politik yang terstruktur, teratur, dan berlandaskan aturan,” ungkap Azhar, Rabu (20/5/2026), dengan nada menimbang kebaikan dan kebermanfaatan bagi daerah.

Lebih jauh, pengalaman Maula Akbar sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Jawa Barat, dipandang sebagai sebuah proses pendewasaan yang berharga. Di sana, ia telah melewati proses pembelajaran politik yang bersifat resmi, sistematis, dan stabil, sehingga memiliki pemahaman yang utuh mengenai seluk-beluk tata kelola pemerintahan hingga dinamika penyusunan kebijakan publik yang menyentuh hajat hidup orang banyak.

Sebaliknya, gambaran yang tampak dari sosok Abang Ijo Hapidin belakangan ini justru cenderung dipandang dari sisi lain. Menurut pengamatan Azhar, dalam kurun waktu terakhir, sosok Wakil Bupati petahana ini kerap kali berada di tengah pusaran dinamika dan polemik yang justru memicu kegaduhan, ketidaktenangan, dan perdebatan di ruang publik, hal yang sejatinya harusnya dihindari oleh seorang pemimpin yang berfungsi sebagai penyejuk dan pemersatu.

Baca Juga:  Kebijakan Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein Wajibkan ASN Naik Angkutan Umum Tiap Rabu Banjir Kritik Netizen

“Masyarakat Purwakarta di masa kini tidak lagi sekadar melihat siapa yang paling dikenal atau paling dekat, melainkan mereka mencari sosok yang mampu menjaga kestabilan, kedamaian, serta membuktikan kapasitasnya dalam memimpin dan mengayomi. Dalam kerangka penilaian yang bijak ini, sosok Maula Akbar terlihat jauh lebih siap dan mapan,” tambahnya, menegaskan pentingnya ketenangan jiwa seorang pemimpin bagi kesejahteraan daerah.

Selain itu, Azhar pun menyinggung langkah politik Abang Ijo yang sempat berpindah haluan, meninggalkan Partai Demokrat untuk kemudian bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Langkah yang sempat menuai beragam tanggapan dan kritik dari berbagai lapisan masyarakat ini, menurut pandangan politik yang arif, mengandung makna tersendiri. Pergantian arah dan sikap politik yang terjadi dalam kurun waktu yang relatif singkat, dapat melahirkan persepsi di tengah masyarakat akan ketidaktetapan hati dan konsistensi.

Baca Juga:  Asap Tebal Menjalar ke Gedung Lain, Sejumlah Penghuni Apartemen Mediterania Masih Terjebak

“Pada hakikatnya, dunia politik dibangun di atas dua pilar utama, yaitu kepercayaan dan konsistensi. Ketika masyarakat menyaksikan adanya perubahan sikap atau pilihan politik yang berlangsung begitu cepat dan mendadak, maka wajar jika timbul pertanyaan mendasar mengenai seberapa kuat dan kokoh komitmen politik sosok tersebut,” ujarnya.

Namun demikian, Azhar Al Asy’ari dengan tegas menegaskan bahwa pandangan yang disampaikannya ini bukanlah sebuah bentuk dukungan buta terhadap satu skenario kekuasaan tertentu. Ia menyampaikan hal ini semata-mata sebagai hasil pembacaan objektif dan kajian mendalam atas apa yang sedang dirasakan dan dipersepsikan oleh masyarakat Purwakarta saat ini.

“Ini adalah pandangan yang lahir dari pengamatan dan pembacaan yang cermat terhadap dinamika yang bergerak di tengah masyarakat. Masyarakatlah yang paling berhak dan paling bijak untuk menilai sendiri, siapa di antara sosok-sosok tersebut yang dinilai lebih dewasa, lebih mapan, dan mampu menjaga keutuhan serta kestabilan politik Kabupaten Purwakarta ke depannya,” pungkasnya*

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran