PURWAKARTA – Di tengah riuhnya keberangkatan jemaah haji asal Kabupaten Purwakarta tahun ini, terselip sebuah kisah penuh haru dari Siti Khoirotul Laila.
Remaja putri berusia 18 tahun asal Kecamatan Bojong ini tidak hanya menjadi perhatian karena statusnya sebagai jemaah haji termuda, tetapi juga karena misi mulia yang dibawanya.
Siti Khoirotul Laila berangkat menuju Tanah Suci bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk menggantikan atau melaksanakan badal haji bagi almarhum orang tuanya yang telah tiada.
Tergabung dalam Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) PCNU Purwakarta, Siti masuk dalam Kloter 12 yang diberangkatkan melalui Bandara Internasional Kertajati.
Keberangkatannya di usia yang sangat belia ini merupakan wujud bakti terakhir seorang anak kepada orang tuanya. Melalui skema badal haji ini, Siti akan menjalankan seluruh rangkaian manasik haji yang pahalanya diniatkan khusus untuk mendiang orang tuanya.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purwakarta, Syamsi Mufti, memberikan konfirmasi bahwa Siti memang merupakan jemaah dengan usia paling muda di antara 445 jemaah yang berangkat pada gelombang pertama ini.
“Untuk yang termuda itu adalah usia 18 tahun atas nama Siti Khoirotul Laila asal Kecamatan Bojong. Ia menjadi bagian dari jemaah yang kita berangkatkan melalui Bandara Kertajati,” ujar Syamsi Mufti saat prosesi pelepasan jemaah di Masjid Tajug Gede Purwakarta pada Rabu (29/4/2026).
Keberanian dan keteguhan hati Siti menjalankan amanah keluarga di usia 18 tahun menuai banyak simpati serta doa dari sesama jemaah dan petugas haji.
Di tengah tantangan fisik yang berat dalam ibadah haji, Siti dinilai memiliki tekad yang kuat demi menunaikan janji kepada almarhum orang tuanya.
Kehadirannya di tengah rombongan menjadi inspirasi mengenai pentingnya pengabdian anak meski raga orang tua sudah tidak lagi bersama.
Rombongan Kloter 12 kini telah bertolak menuju Embarkasi Asrama Haji Indramayu sebelum dijadwalkan terbang menuju Arab Saudi. Seluruh petugas dan keluarga berharap Siti diberikan kekuatan fisik dan spiritual selama menjalankan ibadah tersebut.
Harapannya, ia dapat kembali ke tanah air dengan selamat sebagai haji mabrur serta membawa kedamaian bagi almarhum orang tuanya melalui ibadah pengganti yang ia laksanakan.***



Tinggalkan Balasan