GUGAH – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Senin, 12 Oktober 2026, di zona hijau. IHSG dibuka naik 15,56 poin atau 0,26 persen ke level 6.109,32 dan melanjutkan penguatannya pada awal sesi.
Hingga pukul 09.00 WIB, IHSG berada di level 6.125,98 atau menguat 32,22 poin (0,53 persen). Sementara itu, volume perdagangan tercatat mencapai 8,12 juta lot dengan nilai transaksi sekitar Rp172,45 miliar.
Pergerakan pasar pada pekan ini diperkirakan dipengaruhi sejumlah agenda ekonomi global. Investor mencermati rangkaian pertemuan Dana Moneter Internasional (IMF) di Bangkok, Thailand, yang dihadiri para pejabat bank sentral dan pembuat kebijakan dari berbagai negara.
Perhatian pelaku pasar juga tertuju pada rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) dan China, serta neraca dagang China yang dijadwalkan terbit pada pertengahan pekan. Data tersebut dinilai berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter dan sentimen di pasar keuangan global.
Dari dalam negeri, sentimen pasar relatif terbatas. Namun, pelaku pasar tetap mencermati dinamika politik menjelang dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Bursa Asia Bergerak Bervariasi
Sejalan dengan IHSG, bursa saham Asia bergerak beragam pada perdagangan Senin. Indeks Kospi Korea Selatan melemah 1,34 persen, sementara S&P/ASX 200 Australia menguat 0,61 persen. Adapun pasar saham Jepang tidak beroperasi karena hari libur nasional.
Sentimen eksternal juga dipengaruhi meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kekhawatiran terhadap pasokan energi kembali menguat setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan tengah mempertimbangkan kerja sama dengan Arab Saudi dalam operasi terhadap kelompok Houthi di Yaman.
Di sisi lain, investor menaruh harapan pada musim laporan keuangan kuartal III-2026 sebagai penopang pasar saham global. Berdasarkan proyeksi FactSet, laba emiten dalam indeks S&P 500 diperkirakan tumbuh 29,6 persen secara tahunan, didorong kuatnya investasi pada pembangunan pusat data dan perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Meski demikian, pelaku pasar diperkirakan akan lebih mencermati proyeksi bisnis yang disampaikan manajemen perusahaan di tengah tekanan kenaikan harga energi dan tingginya biaya pinjaman.
Kontrak berjangka minyak mentah Brent masih diperdagangkan di atas US$104 per barel, sedangkan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bertahan di level tertinggi dalam lebih dari dua dekade. Kondisi tersebut dinilai berpotensi menekan margin keuntungan perusahaan sekaligus memengaruhi daya beli masyarakat.***





Tinggalkan Balasan