Sukasari Jadi Laboratorium Pengabdian Mahasiswa STAIM Al-Muhajirin Purwakarta

|

GUGAH – Pengabdian kepada masyarakat tidak cukup hanya berbekal semangat. Ia harus bertumpu pada riset, membaca potensi, dan menghadirkan solusi yang benar-benar dibutuhkan warga. Pesan itulah yang mengemuka dalam pembekalan Kuliah Pengabdian Umat (KPU) STAIM Al-Muhajirin Purwakarta Tahun Akademik 2025–2026, Selasa (28/7/2026).

Mengusung tema Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Riset melalui Penguatan Ekonomi Syariah, Pendidikan Islam, Literasi Digital, dan Tata Kelola Desa dalam Mendukung Desa Mandiri, ratusan mahasiswa dibekali berbagai perspektif sebelum diterjunkan ke Kecamatan Sukasari.

Ketua STAIM Al-Muhajirin Purwakarta, Deden Saepudin, menegaskan bahwa pembangunan masyarakat yang berkelanjutan harus diawali dengan riset yang mampu memetakan kebutuhan sekaligus potensi daerah.

Ia mencontohkan kisah Arab Saudi yang awalnya melakukan pencarian sumber air, namun justru menemukan cadangan minyak bumi yang kemudian mengubah wajah perekonomian negaranya.

“Riset sering kali membuka peluang besar yang sebelumnya tidak terlihat. Karena itu, pembangunan harus dimulai dari kemampuan membaca potensi masyarakat secara ilmiah,” ujarnya.

Menurut Deden, keberhasilan sejumlah desa seperti Ponggok di Klanten, Pentingsari di Sleman, dan Pujon Kidul di Malang membuktikan bahwa kemajuan desa tidak hanya ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam, tetapi juga kemampuan mengelola potensi melalui inovasi, tata kelola yang baik, serta kolaborasi berbagai pihak.

Baca Juga:  Jaringan di Balik Yayasan MBG Purwakarta, Terhubung dengan Eks Pejabat BGN?

Ia berharap Kecamatan Sukasari mampu berkembang melalui sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, tokoh agama, dan masyarakat sehingga lahir desa-desa yang mandiri, religius, dan berdaya saing.

Jaga Nama Baik Pesantren

Ketua Yayasan Al-Muhajirin, Teh Ifa Faizah Rohmah, mengingatkan para mahasiswa bahwa mereka tidak sekadar membawa identitas kampus ketika berada di tengah masyarakat. Mereka juga membawa nama besar Pondok Pesantren Al-Muhajirin yang dibangun melalui perjuangan dan pengabdian para masyayikh.

“Jagalah nama baik lembaga dan hormatilah nama besar Syaikhuna dengan menampilkan akhlak yang mulia, tutur kata yang santun, kedisiplinan, kejujuran, serta semangat melayani masyarakat,” pesannya.

Ia menekankan, kehadiran mahasiswa harus memberi manfaat nyata melalui pendampingan UMKM, pemberdayaan ekonomi lokal, serta membangun kolaborasi dengan pemerintah desa dan masyarakat.

“Jadilah agen perubahan yang menghadirkan solusi, bukan sekadar menjalankan program,” tegasnya.

Baca Juga:  Ketika Kuda Lebih Mulia dari Rakyat: Purwakarta Dipertontonkan dalam Kemegahan Semu ala Feodalisme Baru
Dok. Istimewa

Syaikhuna: Baca Potensi, Bukan Masalah

Dalam tausiyahnya, Prof. KH Abun Bunyamin mengajak mahasiswa memiliki kepekaan dalam melihat potensi yang dimiliki masyarakat.

Menurutnya, Allah telah menyediakan rezeki di setiap tempat, namun tidak semua orang mampu menemukannya.

“Mahasiswa harus mampu mengenali kekuatan lokal, baik di bidang pertanian, perdagangan, UMKM, pariwisata maupun sumber daya manusia, lalu mengembangkannya menjadi peluang yang membawa kemaslahatan,” tuturnya.

Syaikhuna juga mengingatkan pentingnya membangun karakter melalui doa yang diajarkan Rasulullah SAW agar dijauhkan dari rasa malas, lemah, takut, kikir, serta lilitan utang.

Baginya, mahasiswa pengabdi harus menjadi pribadi yang berilmu, berani, disiplin, ikhlas, dan siap menjadi pelayan umat.

Sukasari Punya Modal Besar

Sekretaris Kecamatan Sukasari, Oyok Wahyudin, mengatakan wilayahnya memiliki potensi besar di sektor pertanian, peternakan, pariwisata, serta kehidupan masyarakat yang religius.

Menurutnya, seluruh potensi tersebut akan berkembang apabila dibangun berdasarkan hasil riset dan penguatan potensi lokal.

“Kami berharap hasil penelitian dan pengabdian perguruan tinggi benar-benar menjadi dasar penyusunan program pembangunan sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat,” katanya.

Baca Juga:  Gus Yahya, Lokomotif Transformasi NU di Awal Abad Kedua

Mahasiswa Harus Jadi Agen Perubahan

Ketua LP2M STAIM Al-Muhajirin, Eti Jumiati, menegaskan bahwa riset bukan sekadar mengumpulkan data, melainkan fondasi untuk menyusun program yang tepat sasaran.

Menurutnya, keberhasilan pemberdayaan masyarakat hanya dapat dicapai melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, pelaku UMKM, dan masyarakat.

“Keberhasilan pembangunan desa bukan diukur dari banyaknya program, tetapi dari perubahan yang mampu diciptakan secara berkelanjutan,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan dan Administrasi, Deden Abdullah, menjelaskan KPU merupakan bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang menempatkan mahasiswa sebagai agen perubahan di tengah masyarakat.

Melalui program tersebut, mahasiswa tidak hanya dituntut menguasai aspek akademik, tetapi juga kepemimpinan, manajemen organisasi, kemampuan berkolaborasi, serta menyusun program yang berdampak nyata.

“KPU diharapkan melahirkan lulusan yang memiliki kepekaan sosial, jiwa kepemimpinan, dan mampu berkontribusi dalam mewujudkan desa yang mandiri, religius, produktif, dan berdaya saing,” pungkasnya.***

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran