GUGAH — Ribuan orang datang dan pergi di arena Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur mulai 27 hjngga 30 Agustus 2026. Di tengah riuhnya peserta, tamu, dan rangkaian agenda muktamar, ada sosok-sosok yang nyaris tak pernah menjadi pusat perhatian. Mereka adalah anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser).
Sejak pagi hingga larut malam, mereka berdiri di titik-titik pengamanan. Sebagian mengatur arus kendaraan, sebagian lainnya menjaga pintu masuk, mengarahkan tamu, memastikan jalannya acara tetap tertib, hingga mengawal para kiai yang datang dari berbagai daerah.
Bagi Banser, tugas itu bukan sekadar menjalankan fungsi pengamanan. Di balik seragam loreng dan sikap siaga, ada keyakinan yang telah lama mereka pegang: menjaga ulama adalah bagian dari menjaga agama, menjaga persatuan, sekaligus menjaga Indonesia.
Keyakinan itulah yang membuat mereka tetap bertahan meski harus berpanas-panasan, kehujanan, kurang tidur, bahkan sering kali terlambat makan. Tidak sedikit anggota Banser yang meninggalkan pekerjaan dan keluarga selama beberapa hari demi memastikan Muktamar NU berlangsung aman dan lancar.
Di balik wajah-wajah yang tampak tegas, tersimpan kisah sederhana tentang pengabdian. Ada yang menyempatkan menghubungi anaknya melalui telepon hanya beberapa menit sebelum kembali bertugas. Ada pula yang memilih beristirahat di teras bangunan atau di atas tikar seadanya karena jadwal pengamanan yang padat.
Lelah tentu menjadi bagian dari perjalanan itu. Kaki pegal akibat berdiri berjam-jam, suara yang mulai serak karena terus memberi arahan, hingga rasa kantuk yang harus dilawan ketika malam semakin larut. Namun, semua itu seolah terbayar ketika melihat para kiai, peserta, dan tamu muktamar dapat menjalankan kegiatan dengan aman dan nyaman.
Bagi Banser, keberhasilan sebuah pengamanan justru ketika kehadiran mereka nyaris tidak disadari. Tidak ada kericuhan, tidak ada gangguan, dan seluruh rangkaian kegiatan berjalan sebagaimana mestinya.
Di tengah dinamika Muktamar NU, suka dan duka datang silih berganti. Ada kebanggaan karena dapat menjadi bagian dari sejarah organisasi, tetapi ada pula pengorbanan yang tak selalu terlihat oleh publik. Pengabdian mereka tidak diukur dari sorotan kamera atau tepuk tangan, melainkan dari keyakinan bahwa setiap langkah yang dilakukan merupakan bentuk khidmah kepada ulama dan Nahdlatul Ulama.
Bagi Banser, mengawal para ulama bukan sekadar menjalankan amanah organisasi. Mereka meyakini, ketika ulama dapat menjalankan tugasnya dengan tenang, kehidupan beragama tetap terjaga, persatuan bangsa semakin kuat, dan masyarakat dapat menjalani kehidupan dengan damai.
Karena itu, di balik setiap Muktamar NU yang berlangsung tertib, selalu ada ribuan anggota Banser yang bekerja dalam senyap. Mereka mungkin tidak tampil di panggung utama, tetapi menjadi bagian penting yang memastikan seluruh rangkaian kegiatan dapat berlangsung dengan aman, khidmat, dan penuh keberkahan.***



Tinggalkan Balasan