GUGAH – Kader Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jawa Barat didorong untuk mengambil peran aktif dalam mewujudkan ketahanan pangan dengan terjun langsung ke sektor pertanian. Langkah tersebut dinilai penting di tengah tantangan perubahan iklim, fluktuasi harga pangan, serta ancaman krisis pangan global.
Ketua Bidang Pertanian PW GP Ansor Jawa Barat, Ahmad Fathoni, mengatakan ketahanan pangan tidak lagi menjadi tanggung jawab pemerintah semata, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk kader Ansor.
“Ketahanan pangan bukan lagi urusan pemerintah saja. Ini adalah jihad kita bersama. Kader Ansor harus menjadi garda terdepan dalam mewujudkan kemandirian pangan di tingkat desa, pesantren, dan ranting,” ujarnya kepada Gugah.co, Jumat (10/7/2026).
Menurutnya, Jawa Barat memiliki potensi besar sebagai salah satu lumbung pangan nasional. Namun, sektor pertanian saat ini menghadapi sejumlah tantangan, di antaranya minimnya regenerasi petani muda, penyusutan lahan akibat alih fungsi, serta ketidakstabilan harga komoditas yang berdampak pada kesejahteraan petani.
“Di sinilah peran Ansor. Kita punya jaringan sampai tingkat ranting di 27 kabupaten/kota. Kita punya pesantren, punya Banser. Jaringan ini harus kita optimalkan untuk membangun lumbung pangan Ansor,” katanya.
Untuk mendukung program tersebut, PW GP Ansor Jawa Barat menyiapkan tiga langkah strategis yang akan dijalankan oleh kader di berbagai daerah.
Langkah pertama adalah meningkatkan literasi dan pelatihan pertanian. Kader akan dibekali pengetahuan mengenai pertanian modern, mulai dari budidaya jagung manis, cabai, padi organik, hingga agribisnis dan pemasaran digital hasil pertanian. Program ini direncanakan melibatkan Dinas Pertanian, penyuluh, serta perguruan tinggi sebagai mitra pelatihan.
Langkah kedua adalah mengoptimalkan pemanfaatan lahan produktif, termasuk lahan wakaf, lahan pesantren, dan lahan tidur milik masyarakat untuk dijadikan kebun produktif. Program “Satu Ranting Satu Kebun” ditargetkan dapat terwujud dalam dua tahun ke depan.
Sementara langkah ketiga yakni membangun ekosistem ekonomi berbasis pertanian melalui pembentukan koperasi dan Badan Usaha Milik Ansor (BUMA). Upaya tersebut diharapkan mampu meningkatkan nilai jual hasil panen kader sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap tengkulak dengan menghadirkan produk pertanian berlabel Ansor.
“Jangan sampai kita hanya bisa ceramah tentang kemandirian, tapi perut kita masih tergantung impor. Ansor harus jadi contoh. Dari sawah, dari kebun, kita tunjukkan bahwa Islam Aswaja juga peduli pada perut umat,” kata Fathoni.
Ia menambahkan, program tersebut selaras dengan Asta Cita Presiden Prabowo, khususnya dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Sebagai organisasi kepemudaan yang memiliki jaringan luas, Ansor dinilai memiliki tanggung jawab moral untuk berkontribusi dalam menjaga ketersediaan pangan bagi masyarakat.
“Waktunya kita turun ke lumpur. Bukan hanya di mimbar. Karena masa depan bangsa ini ditentukan oleh siapa yang menguasai pangan. Mari kita rebut kembali dengan gotong royong,” pungkasnya.***



Tinggalkan Balasan