Ada kesan yang mengusik setiap kali mendengarkan sebagian pidato para pemimpin hari ini. Di tengah keluhan masyarakat mengenai kondisi ekonomi yang semakin berat, narasi yang disampaikan justru sering terdengar seolah-olah keadaan baik-baik saja. Jarak antara isi pidato dan realitas yang dirasakan masyarakat itulah yang memunculkan kekecewaan.
Di sektor pertanian, misalnya, banyak petani masih mengeluhkan harga gabah yang dianggap belum memberikan keuntungan yang layak. Dalam pandangan saya, persoalan ini bukan sekadar soal angka, tetapi juga lemahnya pengawasan terhadap rantai perdagangan hasil panen. Petani yang sudah terikat utang kepada tengkulak sering kali tidak memiliki posisi tawar sehingga harus menerima harga yang lebih rendah.
Ketika pidato menyebut harga gabah seharusnya berada pada tingkat tertentu, tetapi di lapangan petani masih merasa menerima harga di bawah harapan, wajar jika muncul pertanyaan tentang efektivitas kebijakan yang diumumkan.
Belum lagi persoalan kekeringan yang kembali menghantui sebagian wilayah pertanian. Apa pun penyebabnya, baik karena faktor cuaca maupun perubahan iklim, yang dibutuhkan petani bukan sekadar penjelasan, melainkan solusi nyata agar mereka tetap bisa menanam dan bertahan.
Ironisnya, profesi petani justru semakin kurang diminati generasi muda. Banyak anak muda memilih bekerja ke luar negeri karena melihat adanya harapan memperoleh pendapatan yang lebih baik. Padahal, tidak sedikit dari mereka tetap bekerja di sektor pertanian. Perbedaannya, menurut pandangan mereka, adalah adanya penghargaan yang lebih layak terhadap hasil kerja.
Di sisi lain, retorika mengenai kemandirian bangsa dan perlawanan terhadap dominasi asing juga patut diuji dengan kebijakan yang benar-benar konsisten. Jangan sampai semangat yang disampaikan dalam pidato bertolak belakang dengan praktik yang dirasakan masyarakat. Jika itu terjadi, publik tentu berhak mempertanyakan sejauh mana komitmen tersebut benar-benar diwujudkan.
Pernyataan bahwa petani kini banyak yang mampu berlibur ke luar negeri juga terasa kurang relevan bagi mereka yang masih berjibaku menghadapi mahalnya biaya produksi, sulitnya irigasi, hingga persoalan pupuk. Bagi sebagian besar petani, yang lebih mendesak bukanlah membicarakan liburan, melainkan bagaimana hasil panen dapat mencukupi kebutuhan hidup keluarga.
Karena itu, saya berpendapat bahwa para pemimpin perlu memperoleh masukan yang lebih jujur dari orang-orang di sekelilingnya. Jangan sampai bahan pidato hanya disusun oleh mereka yang ingin menyenangkan atasan tanpa menggambarkan kondisi masyarakat secara apa adanya. Jika itu terus terjadi, pidato hanya akan menjadi ruang untuk membangun citra, bukan menyampaikan kenyataan.
Terakhir, saya juga mempertanyakan peran sebagian aktivis yang dahulu lantang mengkritik kekuasaan, tetapi kini justru memilih diam atau bahkan menjadi bagian dari lingkaran kekuasaan. Kritik yang konsisten seharusnya tidak berubah hanya karena posisi dan kepentingan.
Oleh: CHE




Tinggalkan Balasan