Arkeolog Asal Cirebon Sinta Ridwan Raih Gelar Doktor UI, Ungkap Pelokalan Aksara Melayu Kuna di Sumatra

|

GUGAH – Arkeolog, paleografer, dan filolog asal Cirebon, Sinta Ridwan, resmi menyandang gelar Doktor Ilmu Pengetahuan Budaya dari Universitas Indonesia (UI) setelah berhasil mempertahankan disertasinya dalam sidang promosi doktor yang digelar di Auditorium Tjan Tjoe Som, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI, Kampus Depok, Selasa (30/6/2026).

Disertasi berjudul Paleografi Sumatra: Pelokalan Aksara Kuna Prasasti Melayu Kuna (Abad ke-7 sampai ke-14 Masehi) tersebut menghasilkan temuan bahwa aksara yang digunakan pada prasasti Melayu Kuna di Sumatra merupakan hasil adaptasi masyarakat setempat, bukan sekadar meniru aksara Pallawa dari India Selatan.

Sidang promosi doktor dipimpin oleh promotor Prof. Dr. Agus Aris Munandar, S.S., M.Hum., dengan kopromotor Prof. Manneke Budiman, S.S., M.A., Ph.D. Sidang juga menghadirkan penguji eksternal dari Universiti Sains Malaysia, Dr. Nasha bin Rodziadi Khaw, yang memiliki keahlian di bidang arkeologi, epigrafi, dan paleografi.

Baca Juga:  Baznas Ciamis Jadi Rujukan Nasional, Baitul Mal Subulussalam Aceh Datang Belajar Pengelolaan Zakat

Dalam penelitiannya, Sinta mengkaji 17 prasasti berbahasa Melayu Kuna di Sumatra menggunakan pendekatan multidisiplin yang memadukan paleografi, linguistik historis, dan arkeologi. Kajian tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Sumatra kuno mengembangkan bentuk-bentuk aksara yang disesuaikan dengan kebutuhan bahasa lokal, termasuk menciptakan karakter untuk bunyi sengau “ng” yang tidak ditemukan dalam aksara India.

Berdasarkan hasil penelitiannya, Sinta mengusulkan penggunaan istilah Aksara Sumatra Kuna sebagai penyebutan yang dinilai lebih tepat bagi tradisi tulis pada prasasti-prasasti tersebut. Penelitian itu juga menegaskan bahwa bahasa Melayu Kuna merupakan leluhur langsung bahasa Indonesia yang masih meninggalkan jejak dalam sejumlah kosakata yang digunakan hingga kini, seperti wulan menjadi bulan dan urang menjadi orang.

“Saya ingin menunjukkan bahwa masyarakat Sumatra pada masa lampau bukan sekadar penyalin. Mereka menerima aksara dari luar, lalu menyesuaikannya dengan bahasa sendiri. Di aksara-aksara kuna pada batu-batu Sumatra, penyesuaian itu dapat kita baca kembali,” ujar Sinta Ridwan dikutip dari laman RRI.

Bersamaan dengan sidang promosi doktor, Sinta menggelar pameran bertajuk Dalam Pekat, Aksara Bersuara di lingkungan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI. Pameran tersebut menampilkan reproduksi prasasti, peta persebaran prasasti di Sumatra, cetakan prasasti (abklats), artefak, hingga dokumentasi perjalanan riset yang dilakukan selama penelitian.

Baca Juga:  Terima Pengurus PB PII, Gubernur Banten Andra Soni Tekankan Pentingnya Kolaborasi Tingkatkan Kualitas SDM

Melalui pameran itu, Sinta juga mengaitkan pesan yang terkandung dalam prasasti-prasasti kuno dengan kondisi lingkungan Sumatra saat ini. Salah satunya melalui pembacaan kembali Prasasti Talang Tuwo bertahun 684 Masehi yang memuat doa bagi kesejahteraan seluruh makhluk sebagai refleksi atas bencana banjir bandang, tanah longsor, dan kerusakan lingkungan yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra pada akhir 2025.

Baca Juga:  Polisi Diduga Cegat Massa Demo Mahasiswa UI ke Bundaran HI

Pameran turut menghadirkan koleksi buku karya Prof. Agus Aris Munandar dan Sinta Ridwan, termasuk buku kolaborasi terbaru berjudul PRADAKSINAPATHA: Berkas Kajian Arkeologi dan Sumber Tertulis Masa Hindu-Buddha. Pengunjung juga disuguhi kuliner khas Cirebon sebagai bentuk penghormatan terhadap daerah asal Sinta yang lahir dan besar di Kota Cirebon.

“Sumatra hari ini sering dikenal lewat tagar duka. Pameran ini ingin mengingatkan bahwa sebelum asap, ada batu-batu yang sudah lebih dahulu bersuara, dan suara itu belum padam,” ujar Sinta Ridwan.***

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran