Jejak perjuangan intelektual di pelosok Kabupaten Garut sering kali bermula dari kesederhanaan yang luar biasa. Di Kampung Sawah Tengah, Desa Cihurip, berdiri sebuah institusi yang kini menjadi mercusuar pendidikan bagi masyarakat sekitar: Pondok Pesantren Darul Huda Al Hasanah. Bermula pada tahun 1995, pesantren ini merupakan buah dedikasi mendalam dari KH. Abdul Wahid, seorang ulama yang mengawali langkah dakwahnya di atas tanah yang mulanya hanyalah kebun singkong sederhana.
Perjalanan ini dimulai sekitar tahun 1992, saat wilayah tersebut hanya dihuni oleh tiga kepala keluarga. KH. Abdul Wahid membangun rumah kecil dengan penuh kesabaran, yang kemudian diikuti dengan berdirinya sebuah “tajug” (mushala) berukuran 2×3 meter. Tempat ibadah sederhana ini mengalami beberapa kali renovasi menjadi 4×6 hingga akhirnya menjadi masjid berukuran 6×6 meter yang menjadi pusat mengaji para santri.
Pada awalnya, santri yang belajar hanya berjumlah tiga orang, yang semuanya merupakan keluarga terdekat dan berstatus sebagai “santri kalong” atau tidak menetap. Momentum besar terjadi pada tahun 1995, bertepatan dengan kelahiran putra kedua beliau, Husna Abdul Salam; KH. Abdul Wahid meresmikan berdirinya asrama (kobong) pertama sekaligus mematenkan nama Pondok Pesantren Darul Huda Al Hasanah.
Estafet Kepemimpinan dan Peran Keluarga
Keberhasilan Darul Huda Al Hasanah dalam berkembang secara mandiri tidak lepas dari sinergi kuat antara keluarga besar pengasuh dan gotong royong masyarakat sekitar. Kini, kepemimpinan operasional pesantren telah memasuki fase estafet kepada generasi kedua:
-
Husna Abdul Salam (A Husna): Sebagai pimpinan pesantren saat ini, ia mengemban misi untuk melanjutkan cita-cita besar ayahandanya.
-
KH. Abdul Wahid: Tetap bertindak sebagai Ketua Yayasan dan kompas moral bagi seluruh warga pesantren.
-
Lam Lam Masropah: Turut berperan strategis dalam membesarkan nama institusi melalui wawasan dan kecerdasannya.
-
Elis Sakinatul Puadah: Fokus pada modernisasi manajemen lembaga pendidikan agar pesantren tetap progresif di tengah zaman.
-
Aifa Farhati Ramadhani: Mewakili generasi muda yang aktif berorganisasi sebagai teladan bagi para santri.
Sinergi Kurikulum: Merawat Tradisi, Menyambut Modernitas
Darul Huda Al Hasanah memegang teguh prinsip legendaris: “Al-muhafadhotu ‘ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah”—memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik. Fokus keilmuan tetap berakar pada penguasaan kitab kuning, terutama bidang Fikih, Nahwu, Sharaf, Hadis, Tauhid, dan Tafsir.
Metode klasik seperti Hafalan dan Sorogan tetap dipertahankan guna menjaga kedekatan emosional serta kedalaman pemahaman antara guru dan murid. Seiring waktu, integrasi pendidikan formal mulai dibangun melalui pendirian beberapa lembaga di bawah naungan yayasan:
-
MI Darul Huda Al-Hasanah (MI Dahual): Berdiri pada tahun 2007.
-
RA Darul Huda Al-Hasanah (RA Dahual): Berdiri pada tahun 2008.
-
MA Darul Huda Al-Hasanah (MA Dahual): Berdiri pada tahun 2011.
Dampak Sosial dan Tradisi Khas
Pesantren ini mencatatkan sejarah sebagai institusi pertama di Cihurip yang mampu menarik minat santri dari luar daerah, seperti Bandung, Ciamis, Tasikmalaya, hingga Banten. Para alumni kini telah menyebar di berbagai pelosok, menjadi ustadz dan penggerak majelis taklim di daerah asal masing-masing.
Eksistensi pesantren diperkuat dengan tradisi rutin yang menjaga ruh spiritualitas santri, seperti pengajian kitab kuning, Jumat Bersih, Pekan Budaya Islami melalui seni hadrah, hingga pembinaan karakter lewat organisasi IPNU & IPPNU.
Masa Depan: Menuju Santri Global
Menatap masa depan, Darul Huda Al Hasanah berkomitmen untuk terus berinovasi tanpa meninggalkan akar keislamannya. Integrasi antara ilmu agama, teknologi, bahasa, dan kewirausahaan menjadi target utama guna mencetak generasi yang siap menghadapi tantangan global. Warisan dari kebun singkong sederhana ini telah bertransformasi menjadi taman ilmu yang terus memberikan manfaat bagi peradaban Islam di Nusantara.**



Tinggalkan Balasan