GUGAH — Ketua DPP Partai Golkar, Mukhamad Misbakhun, mengajak seluruh elite partai politik untuk menunjukkan kedewasaan, kejernihan, dan konsistensi sikap dalam merespons dinamika nasional yang berkembang belakangan ini.
Menurut Misbakhun, para elite politik memiliki tanggung jawab menjaga kondusivitas politik dengan menghindari narasi provokatif serta tidak mendorong gerakan masyarakat yang berpotensi memanaskan situasi dan meningkatkan eskalasi sosial-politik.
“Tugas seluruh elite politik adalah memberi keteladanan, menghadirkan solusi, serta menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan politik sesaat,” ujar Misbakhun seperti dikutip dari laman Antara, Minggu (21/6)
Ia menegaskan, partai politik seharusnya tidak bersikap ambigu, yakni tampil sebagai penyeimbang ketika muncul persoalan, tetapi ikut mengambil keuntungan politik saat program pemerintah mendapat respons positif dari masyarakat.
Menurutnya, perbedaan pandangan dan kritik merupakan bagian yang wajar dalam sistem demokrasi. Namun, meski sistem ketatanegaraan Indonesia tidak mengenal oposisi secara formal, setiap partai politik tetap harus memiliki sikap yang jelas dan konsisten, apakah berada di dalam pemerintahan atau di luar pemerintahan.
“Tidak bisa satu pihak mengambil poin dari program pemerintah yang bagus, tetapi mengambil jarak dan mengkritik keras ketika ada program pemerintah yang sedang bermasalah. Posisi politik dua kaki seperti itu tidak elegan,” tegasnya.
Di tengah tekanan akibat dinamika geopolitik global dan kondisi ekonomi saat ini, Misbakhun mengingatkan agar kritik disampaikan secara bertanggung jawab serta diarahkan untuk menjaga suasana tetap kondusif.
“Kritik itu penting dalam demokrasi, dan pemerintah terus mendengar aspirasi masyarakat. Tetapi dalam situasi penuh tekanan, yang dibutuhkan adalah sikap yang menyejukkan, bukan narasi yang membuat keadaan semakin panas,” katanya.
Karena itu, ia mendorong seluruh partai politik mengedepankan semangat kerja sama dalam menyelesaikan berbagai persoalan bangsa. Menurutnya, tantangan yang dihadapi Indonesia tidak dapat diatasi dengan saling menyalahkan, melainkan membutuhkan kontribusi pemikiran dari seluruh kekuatan politik.
“Yang kita butuhkan adalah politik berwawasan kebangsaan, yaitu politik yang memprioritaskan kepentingan nasional di atas kepentingan politik praktis yang bersifat populis,” pungkasnya.***



Tinggalkan Balasan