Pesantren Jangan Jadi Panggung, KH Anhar Haryadi Ingatkan Ruh Keteladanan ala Gus Dur

|

GUGAH – Pengasuh Pondok Pesantren Manbaul Ulum Wanayasa, KH Anhar Haryadi, mengingatkan pentingnya menjaga ruh utama pesantren di tengah arus modernisasi yang semakin kuat. Menurutnya, pesantren tidak boleh terjebak pada formalitas bangunan dan pencitraan, tetapi harus tetap berpijak pada keteladanan, adab, dan kualitas pendidikan.

Pandangan tersebut disampaikan KH Anhar melalui catatan reflektif bertajuk Pesantren dan Panggung yang menyoroti perubahan orientasi sebagian pesantren yang dinilai mulai lebih menonjolkan kemegahan fisik dibanding pembentukan karakter santri.

“Mendirikan pesantren ternyata tidak selalu sulit. Yang sulit adalah mendidik manusia,” tulis KH Anhar diterima pada Senin (8/6).

Ia menilai pembangunan gedung, pembelian lahan, hingga promosi lembaga dapat dilakukan dengan relatif mudah. Namun pendidikan sejati, menurutnya, tidak lahir dari bangunan megah, melainkan dari keteladanan para pendidik.

“Pendidikan tidak lahir dari tembok. Pendidikan lahir dari keteladanan,” tulisnya.

KH Anhar mengingatkan, ketika pesantren lebih sibuk membangun citra dibanding membangun karakter, maka yang tumbuh bukan lagi pendidikan, melainkan sekadar pertunjukan.

Baca Juga:  Jemaah Haji Asal Tasikmalaya Wafat di Arab Saudi, Kemenhaj Koordinasi Proses Pemakaman

“Ada yang pandai berbicara tentang akhlak, tetapi mudah marah ketika dikritik. Ada yang sering mengajarkan keikhlasan, tetapi sibuk menghitung pujian. Maka yang tumbuh bukan pendidikan, melainkan pertunjukan,” katanya.

Menurutnya, santri belajar bukan hanya dari materi yang diajarkan, tetapi juga dari perilaku yang mereka lihat setiap hari. Karena itu, kewibawaan moral seorang kiai dan pendidik tetap menjadi fondasi utama keberhasilan pendidikan pesantren.

“Murid tidak hanya belajar dari apa yang didengar. Mereka belajar dari apa yang dilihat. Satu contoh nyata lebih kuat daripada seribu ceramah,” ujarnya.

Pengasuh Pondok Pesantren Manbaul Ulum Assalafiyah Wanayasa / Foto: NUPurwakarta.or.id

Sejalan dengan Gagasan Gus Dur

Pandangan KH Anhar tersebut sejalan dengan gagasan almarhum Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang memandang pesantren sebagai sebuah subkultur.

Dalam konsep Pesantren sebagai Subkultur, Gus Dur menjelaskan bahwa kekuatan utama pesantren bukan terletak pada bangunan atau fasilitas, melainkan pada sistem nilai yang hidup di dalamnya. Pesantren memiliki tradisi khas berupa kesederhanaan, kemandirian, penghormatan kepada kiai, serta tradisi keilmuan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Baca Juga:  Jamaah Haji Kloter 07 JKS Menuju Tanah Suci, Bupati Bogor Pesan Jaga Kesehatan dan Kekompakan

Karena itu, pesantren mampu bertahan menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan identitasnya. Gus Dur menilai daya tahan pesantren lahir dari kekuatan budaya dan keteladanan, bukan dari kemegahan fisik semata.

Pandangan tersebut relevan dengan kondisi saat ini ketika banyak pesantren berlomba membangun fasilitas modern, asrama bertingkat, hingga gedung representatif untuk menjawab tuntutan formalisasi pendidikan dan persaingan lembaga.

Modernisasi Jangan Hilangkan Adab

KH Anhar tidak menolak modernisasi. Namun ia mengingatkan agar perubahan fisik dan administratif tidak menggeser nilai-nilai dasar yang selama ini menjadi kekuatan pesantren.

Menurutnya, salah satu kekhawatiran terbesar adalah memudarnya tradisi kesederhanaan yang selama ini menjadi sarana pembentukan karakter santri.

“Orang datang bukan karena gerbangnya tinggi, melainkan karena akhlaknya tinggi. Bukan karena spanduknya besar, tetapi karena ilmunya besar,” tulisnya.

Dalam tradisi pesantren, adab selalu ditempatkan di atas ilmu. Penghormatan kepada guru, kesabaran dalam belajar, hidup sederhana, serta kemampuan menghadapi berbagai kesulitan merupakan bagian dari pendidikan karakter yang tidak bisa digantikan oleh fasilitas semewah apa pun.

Baca Juga:  KH Anhar Haryadi: Pesantren Jangan Berubah Menjadi Sekadar Panggung Pertunjukan

Ia menilai, jika modernisasi hanya menghasilkan kebanggaan pada bangunan tanpa memperkuat kualitas ilmu dan adab, maka pesantren berisiko kehilangan ruhnya sebagai lembaga pendidikan dan pembentuk peradaban.

Tantangan Terbesar Pendidik

KH Anhar menegaskan, tantangan terbesar seorang pendidik bukan bagaimana tampil meyakinkan di depan publik, melainkan bagaimana menjaga integritas ketika tidak ada yang melihat.

“Tantangan terbesar seorang pendidik bukan bagaimana tampil meyakinkan di depan orang banyak. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana tetap menjadi orang baik ketika tidak ada yang melihat,” tulisnya.

Ia menambahkan, masyarakat mungkin bisa terpukau oleh penampilan dan pencitraan. Namun pendidikan yang sesungguhnya hanya akan lahir dari keteladanan yang nyata.

“Orang bisa menghafal kata-kata seorang guru. Namun yang paling lama tinggal dalam ingatan adalah cara hidupnya. Jika hidupnya tidak menjadi pelajaran, maka yang tersisa hanyalah panggung yang ramai tanpa pendidikan yang benar-benar terjadi,” pungkasnya.***

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran