BANDUNG – Wakil Ketua DPRD Jawa Barat, Iwan Suryawan, menyoroti kenaikan harga daging sapi menjelang Hari Raya Iduladha 2026.
Ia menilai kondisi tersebut janggal karena stok hewan kurban di Jawa Barat justru melimpah.
Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Jawa Barat melalui sistem iSIKHNAS, stok domba tahun ini mencapai 223.812 ekor.
Jumlah itu meningkat dibanding tahun lalu yang sebanyak 187.395 ekor.
Sementara stok sapi kurban naik menjadi 120.916 ekor dari sebelumnya 99.565 ekor.
DKPP Jabar menyebut melimpahnya stok dipengaruhi sisa hewan kurban tahun lalu yang belum terjual.
Meski begitu, Iwan meminta pemerintah daerah tidak hanya terpaku pada data ketersediaan ternak.
Menurutnya, daya beli masyarakat justru sedang tertekan akibat kenaikan harga kebutuhan pokok.
“Kita bersyukur pasokan ternak kita melimpah berdasarkan data iSIKHNAS. Namun pemerintah daerah jangan tutup mata, niat warga untuk berkurban saat ini terbentur dengan harga kebutuhan pokok yang terus merangkak naik,” kata Iwan Suryawan, Sabtu (23/5/2026).
Data Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) dan PIHPS Bank Indonesia menunjukkan harga cabai rawit merah naik menjadi Rp82 ribu per kilogram.
Harga bawang merah juga bertahan tinggi di angka Rp56 ribu per kilogram.
Sementara harga daging sapi konsumsi harian tembus Rp150 ribu per kilogram di sejumlah pasar tradisional Jawa Barat.
Kenaikan harga itu dilaporkan terjadi di Pasar Cicalengka, Pasar Soreang, Pasar Kordon, dan Pasar Sederhana di Kota Bandung.
Di wilayah Cirebon, aplikasi e-TUKU milik Pemkot Cirebon juga mencatat harga daging sapi murni berada di angka Rp150 ribu per kilogram.
Menurut Iwan, kondisi tersebut dapat mengganggu rencana warga untuk berkurban.
“Lonjakan harga daging sapi sampai seratus lima puluh ribu rupiah di pasar-pasar tradisional Bandung dan Cirebon ini bikin pusing emak-emak jelang hari raya. Ini yang harus segera dibenahi pemerintah,” tegasnya.
Ia menilai salah satu penyebab utama kenaikan harga berasal dari pengelolaan distribusi yang belum optimal.
Pemerintah dinilai perlu memetakan jalur logistik sejak jauh hari untuk mencegah lonjakan harga musiman.
Iwan juga mengingatkan tugas pemerintah bukan hanya memeriksa kesehatan hewan kurban, tetapi menjaga stabilitas harga pangan.
Selain itu, DPRD Jabar meminta pemerintah melindungi peternak lokal dari banjir pasokan ternak luar daerah.
Menurutnya, pasokan berlebih dari luar provinsi bisa membuat harga jual peternak lokal anjlok.
“Dinas terkait harus melindungi peternak lokal kita di Jabar. Jangan sampai banjirnya pasokan dari luar daerah justru merusak harga jual peternak kita sendiri yang sudah keluar modal besar untuk pakan dan perawatan,” ujar Iwan.
Politisi Iwan Suryawan dari Partai Keadilan Sejahtera itu juga mendesak Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Jawa Barat segera menggelar operasi pasar.
Program Gerakan Pangan Murah (GPM) diminta difokuskan ke daerah dengan lonjakan harga paling tinggi.
Dari sisi kesehatan hewan, Iwan meminta pemeriksaan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) diperketat di pos perbatasan.
Langkah itu dinilai penting untuk mencegah penyebaran penyakit seperti PMK dan LSD.
Ia juga meminta pemerintah menyiagakan dokter hewan hingga hari penyembelihan kurban.
Petugas diperlukan untuk pemeriksaan antemortem dan postmortem di masjid maupun lokasi penyembelihan.
Selain itu, Iwan menyoroti distribusi daging kurban yang masih terpusat di kawasan perkotaan.
“Kita butuh pemerataan. Distribusi daging kurban jangan cuma menumpuk di kota. Pemprov harus membuat sistem zonasi agar daging kurban ini sampai ke tangan masyarakat di pelosok desa yang lebih membutuhkan,” jelasnya.
Iwan menegaskan keberhasilan Iduladha bukan hanya soal kelancaran ibadah, tetapi juga kestabilan ekonomi masyarakat.***



Tinggalkan Balasan