KEDIRI – Bagi sebagian orang, jabatan Ketua Umum PBNU adalah puncak hierarki organisasi Islam terbesar di dunia. Namun bagi KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), jabatan itu tampaknya langsung “tanggal” seketika saat berhadapan dengan kiai sepuh.
Pagi itu, Kamis (7/5/2026), agenda sarapan pecel Garuda yang legendaris di Kota Kediri mendadak berubah suasana. Kabar bahwa KH Nurul Huda Djazuli (Kiai Dah) sedang dirawat di RSUD Gambiran membubarkan obrolan santai di meja warung. Tanpa banyak ba-bi-bu, rombongan Gus Yahya langsung tancap gas menuju rumah sakit.
Pemandangan unik terjadi saat Gus Yahya memasuki ruang perawatan di Jalan Kapten Tandean tersebut. Tidak ada jabat tangan formal layaknya pejabat tinggi negara. Begitu pintu terbuka, Gus Yahya langsung ndoprok—istilah Jawa untuk duduk bersimpuh di lantai—tepat di samping tempat tidur Kiai Dah.
Aksi cium tangan penuh takzim dilakukan Gus Yahya kepada pengasuh Pondok Pesantren Ploso tersebut. Seolah waktu berhenti sejenak, Kiai Dah menyambutnya dengan dekapan hangat, layaknya seorang ayah yang merangkul anaknya yang baru pulang merantau. Punggung orang nomor satu di PBNU itu dielus lama oleh sang kiai sepuh.
Di balik suasana haru itu, Kiai Dah menyelipkan “jimat” atau pesan mendalam untuk bekal kepemimpinan Gus Yahya. Ia mengingatkan agar NU dikembalikan pada khitah asalnya: pesantren.
“NU tidak boleh meninggalkan kiai pesantren (kiai sepuh),” pesan Kiai Dah lirih namun tegas.
Tak hanya soal arah organisasi, Kiai Dah juga memberikan suntikan mental kepada putra KH Cholil Bisri tersebut untuk menghadapi berbagai terpaan fitnah dan provokasi yang belakangan menyasar PBNU.
“Terus saja jalan, semoga dimudahkan, dikompakkan karo kanca-kanca dewe (dengan teman-teman sendiri),” tandas Kiai Dah menguatkan.
Momen di RSUD Gambiran ini menjadi bukti bahwa di atas segala struktur organisasi dan intrik politik yang memanas menjelang Muktamar, adab santri kepada kiai tetap menjadi hukum tertinggi di lingkungan Nahdliyin. Gus Yahya menunjukkan bahwa setinggi apa pun kursi yang diduduki, ia tetaplah seorang santri yang tahu di mana harus bersimpuh.***



Tinggalkan Balasan