GUGAH – Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan Senin, 12 Oktober 2026, dengan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka menguat 0,08 persen ke level Rp17.860 per dolar AS.
Penguatan tersebut melanjutkan tren positif pada perdagangan sebelumnya. Pada Jumat, 9 Oktober 2026, rupiah ditutup menguat 0,08 persen di posisi Rp17.875 per dolar AS.
Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.00 WIB tercatat melemah 0,12 persen ke level 102,130. Pelemahan indeks dolar memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk bergerak menguat. Meski demikian, posisi DXY yang masih berada di atas level 102 menunjukkan dolar AS tetap memiliki daya tahan yang kuat di pasar global.
BI Siap Jaga Stabilitas Rupiah
Bank Indonesia (BI) menegaskan kesiapannya melakukan intervensi di pasar valuta asing apabila tekanan global kembali meningkat dan memengaruhi pergerakan rupiah.
Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan bank sentral tidak akan ragu mengambil langkah yang lebih agresif untuk menjaga stabilitas nilai tukar jika diperlukan.
“Kalau memang perlu kita intervensi lebih bold, ya kita akan lakukan intervensi lebih bold, karena sekarang kalau kami lihat, memang sumber utama dari gejolak ini lebih banyak berasal dari faktor global,” ujar Destry.
Menurut Destry, ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih menjadi salah satu faktor yang berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia. Kondisi tersebut dapat memperkuat dolar AS dan meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Meski demikian, ia menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif terjaga. Salah satu penopangnya adalah surplus neraca perdagangan yang mencapai US$3,3 miliar, didorong oleh meningkatnya harga komoditas dan kinerja ekspor.
Selain itu, BI juga terus memantau pergerakan mata uang negara-negara di kawasan, seperti peso Filipina dan baht Thailand, sebagai pembanding dalam melihat dinamika pasar keuangan regional.***





Tinggalkan Balasan